Sunday, November 23, 2025

Thought for the Day - 23rd November 2025 (Sunday)


In truth, this Kali era is the most beneficent of the four, for you have now amidst you the eternal embodiment of Ananda (bliss) in a form which you can approach, adore, and learn from. You are singing with Me, conversing with Me, and filling your eyes, ears, and hearts with My utterances and activities. This is not a mere physical body composed of the five elements, nor this day My Birthday, though you may call it thus. This body might have a birthday, but I have no birth. You ascribe an age to Me, but I have no age which can be counted. The Eternal, with neither entrance nor exit; The One who neither Was nor Is nor Will be; The Immortal Person free from birth and death - That Ever-effulgent Atma is Sai forever. Feel with the mind, plan with the intelligence, and use the body to serve those who are in need of service. Offer that act of service to God; worship Him with that flower. Put into daily practice the ideals that Sathya Sai has been propagating and make them known all over the world by standing forth as living examples of their greatness.


- Divine Discourse, Nov 23, 1979

The day on which the principle of love is established in the heart that day is Swami’s Birthday. 


Sejatinya, jaman Kali ini adalah yang paling penuh berkah diantara empat jaman lainnya, karena pada jaman ini kalian hidup bersama dengan perwujudan kebahagiaan abadi (ananda) dalam sebuah wujud yang kalian dapat dekati, hormati, dan belajar dari-Nya. Kalian bernyanyi dengan-Ku, berbicara dengan-Ku, dan mengisi mata, telinga dan hatimu dengan ajaran dan tindakan-Ku. Apa yang kalian lihat ini bukanlah hanya tubuh fisik biasa yang tersusun dari lima unsur, dan hari ini bukanlah hari ulang Tahun-Ku, meskipun kalian menyebutnya begitu. Tubuh fisik ini mungkin memiliki hari kelahiran, namun Aku tidak memiliki kelahiran. Kalian memberikan usia pada-Ku, namun Aku tidak memiliki usia yang dapat dihitung. Dia yang bersifat abadi, Dia yang tanpa awal dan tanpa akhir; Dia yang tidak ada di waktu lalu dan juga tidak ada di masa kini dan juga tidak akan pernah ada di masa depan; Dia yang bersifat kekal bebas dari kelahiran dan kematian – Atma yang selalu bersinar adalah Sai selamanya. Rasakan dengan pikiran, rencanakan dengan kecerdasan, dan gunakan tubuh untuk melayani mereka yang membutuhkan pelayanan. Persembahkan tindakan pelayanan itu kepada Tuhan; pujalah Tuhan dengan bunga tindakan itu. Jalani dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai yang Sathya Sai ajarkan dan tunjukkan kepada seluruh dunia melalui keteladanan hidup kalian sendiri.


- Divine Discourse, 23 November 1979

Hari ketika prinsip kasih tumbuh mengakar kuat di dalam hati, pada hari itulah sesungguhnya hari lahir Swami. 

Friday, November 21, 2025

Thought for the Day - 21st November 2025 (Friday)


It is a custom that when you approach the Lord, you take something with you; this is an act which people do when they go for the fulfilment of some desire, or the grant of Grace for realising some wish. They take patram, pushpam, phalam, toyam (leaf, flower, fruit, water), as the Gita says. The attitude is "I am jiva (individual); He is Deva (Lord)". But, this is as bad a trick as some men do: bring one cow when we ask them for milk, and milk another to give us the milk. They give the Lord the leaf, flower and fruit grown on some tree, and then the reward of Grace goes to the tree, not to them! Give the leaf, flower, fruit that has grown on the tree of your life; the fragrant leaves of your mental resolves and plans, the sweet, juicy fruits of your own activities and thoughts. I know the relative value of these two; I require something that is your very own, not something bought in the bazar or grown on some tree or produced by someone's intelligence or devotion and steadiness. God has given you ‘the heart’ to use in life; return it to Him as clean and as pure as when He gave it, after using it for storing love, peace, righteousness, and truth, and for distributing them to all who come in contact with you. 


- Divine Discourse, Oct 03, 1965

You should offer God what is your own. You have right only on your heart. Offer it to God and offer it with love.


Merupakan sebuah adat istiadat bahwa ketika anda mendekati Tuhan, anda membawa sesuatu; biasanya ini dilakukan ketika mereka ingin suatu keinginan dikabulkan, atau mendapatkan anugerah atas beberapa harapan. Mereka membawa patram, pushpam, phalam, toyam (daun, bunga, buah dan air), seperti yang dinyatakan dalam Bhagava Gita. Sikap dasarnya adalah "aku ini adalah jiva (individual); Beliau adalah Deva (Tuhan)". Namun, cara ini adalah sebagai kelicikan sebagian orang: membawa satu sapi ketika diminta susu, dan memerah sapi lain untuk memberi kita susu. Mereka memberikan Tuhan daun, bunga dan buah yang tumbuh dari beberapa pohon, dan kemudian pahala Rahmat itu justru kembali pada pohon itu dan bukan pada mereka! Yang seharusnya dipersembahkan adalah daun, bunga, buah yang tumbuh pada pohon kehidupanmu sendiri; daun yang harum dari tekad dan niat baikmu, buah manis dari tindakan dan pemikiranmu sendiri. Aku mengetahui perbedaan nilai dari keduanya ini; yang Aku minta adalah sesuatu yang benar-benar berasal dari dirimu, dan bukan sesuatu yang dibeli di pasar atau tumbuh pada beberapa pohon atau dihasilkan dari kecerdasan atau bhakti atau ketekunan orang lain. Tuhan telah memberikanmu ‘hati’ untuk digunakan dalam hidup; kembalikan hati itu kepada-Nya dalam keadaan sebersih dan semurni saat Tuhan memberikanya kepadamu – setelah anda menggunakannya untuk menyimpan kasih, kedamaian, kebajikan, dan kebenaran, serta membagikannya kepada siapapun yang anda temui. 


- Divine Discourse, 03 Oktober 1965

Anda seharusnya mempersembahkan kepada Tuhan apa yang benar-benar menjadi milikmu. Satu-satunya yang menjadi hak anda adalah hatimu. Persembahkan hati itu kepada Tuhan dan persembahkan dengan kasih. 

Thursday, November 20, 2025

Thought for the Day - 20th November 2025 (Thursday)


Do not go about proclaiming that you are a sect distinct and separate from those who adore God in other forms and names. Thereby, you are limiting the very God whom you are extolling. Do not proclaim in your enthusiasm: “We want only Sai; we are not concerned with the rest.” You must convince yourselves that all forms are Sai’s; all names are Sai’s. There is no ‘rest’; all are He. You must have noticed that I do not speak about Sai in My discourses, nor do I sing of Sai during the bhajan with which I usually conclude My discourses. And you must have wondered why. Let me tell you the reason. I do not want the impression to gain ground that I desire this Name and this Form to be publicised. I have not come to set afoot a new cult; I do not want people to be misled on this point. I affirm that this Sai form is the form of all the various names that man uses for the adoration of the Divine. So, I am teaching that no distinction should be made between the names Rama, Krishna, Easwara, Sai — for they are all My names. 


- Divine Discourse, May 17, 1968

God is the embodiment of Love and you should not do anything which is contrary to the love that God represents. 


Jangan pergi ke mana-mana sambil menyatakan bahwa anda adalah sebuah golongan yang berbeda dan terpisah dari mereka yang memuja Tuhan dalam bentuk atau nama lain. Dengan berkata begitu, anda sebenarnya membatasi Tuhan yang anda muliakan itu sendiri. Jangan sampai dalam keadaan bersemangat anda berkata, “Kami hanya mau Sai; kami tidak peduli dengan yang lain.” Anda perlu meyakinkan diri anda sendiri bahwa semua bentuk adalah milik Sai, semua nama adalah milik Sai. Tidak ada “yang lain”; semuanya adalah Sai. Anda tentunya memperhatikan bahwa Aku tidak berbicara tentang Sai dalam setiap wacana, dan Aku juga tidak menyanyikan tentang Sai dalam bhajan penutup setelah wacana selesai. Mungkin anda bertanya-tanya mengapa demikian. Inilah alasannya: Aku tidak ingin timbul kesan bahwa Aku menginginkan nama dan bentuk ini dipromosikan. Aku tidak datang untuk membentuk sekte baru; Aku tidak ingin orang tersesat dalam hal ini. Aku menegaskan bahwa bentuk Sai ini adalah bentuk dari semua nama yang digunakan manusia dalam memuja Yang Ilahi. Karena itu, Aku mengajarkan bahwa tidak perlu membuat pembedaan antara nama Rama, Krishna, Easwara, atau Sai — semuanya adalah nama-Ku. 


- Divine Discourse, 17 Mei 1968

Tuhan adalah perwujudan kasih dan anda seharusnya tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan kasih yang ditunjukkan oleh Tuhan. 

Wednesday, November 19, 2025

Thought for the Day - 19th November 2025 (Wednesday)


Embodiments of Love! In this infinite universe, among the myriads of living beings, humanity is eminent. Among human beings, it is a privilege to be born as a woman. There are many examples to demonstrate the preeminence of women. Was not Rama born as a Divine incarnation in Kausalya’s womb? Did not Lava and Kusha (the twins) become great because they were born to Sita? Was it not Jijibai’s loving care which made Shivaji great? Was it not Putlibai’s piety which made Gandhi a Mahatma? All the greater sages and saints, heroes and warriors were born to women who made them great. Woman is the Goddess of Nature. Gayatri, which enshrines the essence of the Vedas, is a goddess, venerated as Veda Mata (the mother of the Vedas). It is obvious that feminine birth is estimable, adorable, and sublime. The Veda also adores the feminine principle in various ways. Vedic rituals and practices accord a high place to women. 


- Divine Discourse, Nov 19, 1995

It is the mother who teaches you the sacred principles like love, compassion, forbearance, tolerance and sacrifice. 


Perwujudan kasih! Dalam alam semesta yang begitu luas dan tidak terbatas ini, di antara begitu banyak makhluk hidup, manusia berada pada posisi yang paling mulia. Dan di antara manusia, terlahir sebagai seorang wanita adalah sebuah kehormatan. Ada banyak contoh yang menunjukkan kedudukan istimewa wanita. Bukankah Rama, sang inkarnasi Ilahi, lahir dari rahim Kausalya? Bukankah Lava dan Kusha menjadi pribadi besar karena mereka adalah putra Sita? Bukankah Shivaji menjadi tokoh besar karena kasih dan didikan Jijibai? Dan bukankah Gandhi menjadi Mahatma berkat kesalehan ibunya, Putlibai? Para rsi agung, guru-guru suci, pahlawan, dan ksatria hebat—semuanya lahir dari rahim wanita yang membentuk mereka menjadi mulia. Perempuan adalah perwujudan dari Ibu Alam. Gayatri, yang memuat inti ajaran Veda, dipersonifikasikan sebagai Dewi dan dihormati sebagai Veda Mata (Ibu Veda). Jelas bahwa kelahiran sebagai perempuan adalah sesuatu yang bernilai, dihormati, dan luhur. Veda pun memuji prinsip feminin dalam berbagai bentuk. Banyak ritual dan praktik Veda menempatkan wanita pada posisi yang sangat penting. 


- Divine Discourse, 19 November 1995

Ibulah yang mengajarkan prinsip-prinsip suci seperti kasih, welas asih, kesabaran, tenggang rasa, dan pengorbanan.

Monday, November 17, 2025

Thought for the Day - 17th November 2025 (Monday)


The blemish that affects the mind is illusion. It is like a fierce dog that will not allow anyone to approach the Master. You can manage to bypass it only by assuming the rupam or form of the Master, which is called sarupyam, or by calling out for the Master so loudly that He comes down and accompanies you into the house, that is to say, by winning His Grace, samipya (proximity). Illusion is His pet, and so, it will not harm you if He orders it to desist from harming you. The Master comes to save not one good man from illusion, but the whole of mankind. Of course, He has to come assuming a form that man can love, revere, and appreciate. He can give joy and courage, only if He speaks the language of human conversation. Many are afraid to approach Me, for they know I am aware of their innermost thoughts and deepest desires. But let Me tell you, only helpless animals have fear. Man, who is the child of immortality, should have no fear. People pray before stone images of the snake god, but when the actual snake appears in answer to their prayers, they run away, terror-stricken from the shrine! The Lord manifests Himself only to shower Grace, never to strike terror. 


- Divine Discourse, Jan 01, 1964

The one who considers that God is far off, He is really distant from him. The one who considers that God is near, for him He is near. 


Noda yang menutupi pikiran adalah khayalan atau ilusi. Khayalan ini seperti seekor anjing yang tidak akan mengijinkan siapapun untuk mendekati majikannya. Satu-satunya cara untuk melewatinya adalah dengan mengambil rupa sang majikan - ini disebut sarupyam - atau dengan memanggil nama sang majikan begitu keras sehingga majikan itu turun dan berjalan bersama kita masuk ke dalam rumah. Inilah yang disebut samipya, kedekatan karena anugerah. Khayalan sebenarnya adalah “peliharaan” Tuhan. Ia tidak akan melukai kita jika Tuhan memerintahkannya untuk berhenti. Tuhan datang bukan hanya untuk menyelamatkan satu orang baik dari ilusi, tetapi seluruh umat manusia. Untuk itu, Ia harus mengambil wujud yang bisa dicintai, dihormati, dan dimengerti oleh manusia. Ia bisa memberi sukacita dan keberanian hanya bila Ia berbicara dalam bahasa manusia. Banyak orang takut mendekat kepada-Ku, karena mereka tahu Aku mengetahui pikiran terdalam dan keinginan tersembunyi mereka. Tetapi Aku katakan, hanya binatang yang tidak berdaya yang hidup dalam ketakutan. Manusia, yang sesungguhnya adalah putra keabadian, tidak seharusnya takut. Orang berdoa di depan arca dewa ular. Namun ketika ular sungguhan muncul sebagai jawaban atas doa mereka, mereka malah lari ketakutan dari tempat pemujaan! Tuhan menampakkan diri hanya untuk memberi anugerah, tidak pernah memberikan ketakutan. 


- Divine Discourse, 01 Januari 1964

Mereka yang merasa Tuhan itu jauh, akan benar-benar merasa jauh dari-Nya. Tetapi mereka yang meyakini bahwa Tuhan dekat, akan sungguh-sungguh merasakan kedekatan itu.

Thursday, November 13, 2025

Thought for the Day - 13th November 2025 (Thursday)


Many people who have some questions regarding Swami do not realise the ways of the Divine. They look at all things from the worldly point of view. They should look at things from the Divine point of view. Change the angle of your vision. When you practise seeing the world from the point of view of the omnipresence of the Divine, you will get transformed. You will experience the power of the Divine in everything in creation. You cannot hide anything from God. Many imagine that Swami does not see what they are doing. They do not realise that Swami has a myriad eyes. Even your eyes are divine. But you are not aware of your true nature. When you have faith in yourself, you will have faith in God. Realise that there is nothing beyond the power of God. Love God with that supreme faith. Then you will be drawn towards God. It needs purity. A magnet cannot attract a piece of iron covered with rust. Similarly, God will not draw to Himself an impure person. Hence, change your feelings and thoughts and develop the conviction that God is everything. God will not give you up when you have this conviction. 


- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Consider all work as God’s work and develop love. When love grows, faith will also grow more. 


Banyak orang yang memiliki beberapa pertanyaan terkait Swami dan mereka tidak menyadari cara Ilahi. Mereka melihat segala sesuatu dari sudut pandang duniawi, padahal seharusnya mereka memandang dari sudut pandang Ilahi. Ubah sudut pandangmu. Ketika anda berlatih memandang dunia dari perspektif bahwa Tuhan ada dimana-mana, anda akan mendapatkan perubahan. Anda akan mengalami kekuatan ilahi dalam segala ciptaan. Anda tidak bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan. Banyak yang membayangkan bahwa Swami tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan. Mereka tidak menyadari bahwa Swami memiliki ribuan mata. Bahkan matamu sendiri bersifat ilahi. Namun anda tidak menyadari sifat aslimu. Ketika anda memiliki keyakinan pada dirimu sendiri, anda akan memiliki keyakinan pada Tuhan. Sadarilah bahwa tidak ada apapun yang melampaui kekuatan Tuhan. Cintailah Tuhan dengan keyakinan yang tertinggi. Kemudian anda akan ditarik kearah Tuhan. Hal ini membutuhkan kemurnian. Sebuah magnet tidak bisa menarik besi yang ditutupi oleh karat. Sama halnya, Tuhan tidak akan menarik orang yang tidak murni. Karena itu, ubahlah perasaan dan pemikiranmu serta kembangkan keyakinan bahwa Tuhan adalah segalanya. Tuhan tidak akan melepaskanmu ketika anda memiliki keyakinan ini. 


- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Anggap bahwa semua pekerjaan adalah pekerjaan Tuhan dan kembangkan kasih. Ketika kasih bertumbuh, keyakinan juga akan bertumbuh semakin kuat. 

Wednesday, November 12, 2025

Though for the Day - 12th November 2025 (Wednesday)


Understand the true relationship between the external phenomenal world and the world of Spirit inside. The external world is a reflection of the inner being. All happiness that you seek from external objects is within yourself. Take the example of the ocean. The water that turns into vapour from the ocean assumes a different form and quality. It acquires purity and sweetness and returns to the ocean in another form. Look at the changes it goes through in this process. Going up as vapour, becoming a cloud, coming down as rain, flowing as rivulets, it joins the ocean as a river. The change into vapour is Sathya (truth). The formation of the cloud is Dharma (right conduct). Coming down as raindrops corresponds to Prema (drops of love). When the drops join to become a river, there is the flow of Ananda (bliss). This stream of bliss merges in the ocean of Grace. Sometime or other, what has come from the Divine has to merge in the Divine. This is the natural destiny of all living beings - taking birth as a manava (man), leading a life of a jivi (individual being), again returning to the form of Madhava (divine nature), and ultimately merging in the Divine. 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Man should express love more and more to make the inner divine light in the body shine more brilliantly. 


Pahamilah hubungan sejati diantara dunia fenomenal di luar diri dan dunia batin di dalam diri. Dunia di luar diri adalah sebuah pantulan dari keberadaan batin di dalam diri. Semua kebahagiaan yang kita cari dari objek-objek di luar diri sejatinya ada di dalam diri kita sendiri. Ambillah contoh lautan. Air lautan yang menguap berubah menjadi uap air mengambil bentuk dan kualitas yang berbeda. Air ini menjadi murni dan manis serta kembali ke lautan dalam bentuk yang lain. Perhatikan proses perubahan itu. Air lautan menguap menjadi uap air, kemudian menjadi awan, dan jatuh dalam bentuk hujan, mengalir sebagai anak sungai, dan akhirnya mengalir dalam bentuk sungai besar untuk bergabung kembali ke lautan. Perubahan menjadi uap air adalah Sathya (kebenaran). Pembentukan awan adalah Dharma (kebajikan). Jatuh ke bumi sebagai hujan adalah Prema (tetesan kasih). Ketika tetesan air itu bergabung menjadi sungai, maka disana ada aliran kebahagiaan (Ananda). Aliran kebahagiaan ini akhirnya menyatu kembali pada lautan anugerah. Segala yang berasal dari Tuhan harus menyatu kembali pada Tuhan. Ini adalah takdir alami dari semua makhluk hidup – lahir dalam wujud manusia (manava), menjalani hidup sebagai seorang individu (jivi), lalu kembali ke dalam bentuk Madhava (sifat ilahi), dan pada akhirnya menyatu kembali pada sang ilahi. 


- Divine Discourse, 7 Maret 1997

Manusia hendaknya semakin banyak dan lebih banyak lagi mengungkapkan kasih agar cahaya Ilahi dalam dirinya bersinar semakin terang. 

Tuesday, November 11, 2025

Thought for the Day - 11th November 2025 (Tuesday)


Names and forms are momentary. The form of the tiger is momentary. The form of the snake is momentary. As names and forms are momentary, take them as such. However, the principle of non-dualism should not be misconstrued. In your pocket, you have a pen. The other man also has a pen in his pocket. You cannot take another man’s pen from his pocket. Is it proper? No! At the worldly level, your pen belongs to you, My pen belongs to Me. If you slip, you sustain a fracture of your leg. Then you may have a bandage. Your mother has intense love for you. Your mother may feel sad because you are suffering. But it is not possible for her to have the bandage on her leg. Individuals are different, but the pain may be the same for both. You will have the pain of a fracture; your mother will have the pain that you are suffering. But the mother is not having pain of the fractured leg. Mother is feeling sad because of the suffering of the son, not of the fracture. So, you can follow non-dualism in feeling, but not in action. 


- Divine Discourse, Apr 26, 1993.

In this world, you and the world are temporary. But Truth and Love are permanent. 


Nama dan rupa adalah bersifat sementara. Rupa dari harimau adalah sementara. Rupa dari ular juga bersifat sementara. Ketika nama dan rupa adalah sementara, perlakukan keduanya sebagai sesuatu yang sementara. Bagaimanapun juga, prinsip tanpa dualitas jangan disalah artikan. Dalam sakumu, anda memiliki sebuah pena. Orang lain juga memiliki pena di dalam sakunya. Apakah pantas anda mengambil pena dalam sakunya? Tidak! Dalam tataran duniawi, pena anda adalah milik anda, pena-Ku adalah milik-Ku. Jika anda terpeleset dan kaki anda patah maka kaki anda akan dibalut perban. Ibu anda memiliki kasih yang mendalam pada diri anda. Ibu anda akan merasa sedih karena penderitaan yang anda alami. Namun adalah tidak mungkin bagi ibu anda untuk menaruh perban di kakinya. Individu adalah berbeda, namun rasa sakit adalah bisa dirasakan sama. Anda merasakan sakit karena patah tulang; ibu anda merasakan sedih atas penderitaan yang anda alami. Ibu merasa sedih karena penderitaan yang dialami putranya, namun tidak karena patah tulang. Jadi, anda bisa menerapkan tanpa dualitas dalam perasaan namun bukan dalam tindakan. 


- Divine Discourse, 26 April 1993.

Dalam dunia ini, diri anda dan dunia adalah sementara. Namun kebenaran dan kasih adalah bersifat kekal.

Monday, November 10, 2025

Thought for the Day - 10th November 2025 (Monday)



If your thoughts centre round the body, you will have worries about pains and illnesses, real or imaginary; if they are centred on riches, you will be worried about profit and loss, tax and exemptions, investment and insolvency; if they roam round fame, then, you are bound to suffer from the ups and downs of scandal, calumny and jealousy. So, let them centre round the seat of power and love which deserves willing submission and let your whole being surrender to it. Then, you will be happy forever. For the sages of the Vedic culture, the rishis, the Name of the Lord was the very breath; they lived on the sustenance inherent in the contemplation of the glory of the Lord. When the milky ocean of the Vedas was churned with intelligence as the rod and devotion as the rope, the butter of the three great classics - the Ramayana, the Mahabharata, the Srimad Bhagavata emerged, for spreading the message of the Namasmarana (chanting of the divine name) way to peace and joy. It is to revive this message and to restore faith in the Name that this Avatar has come into the world, in the Kali Yuga. 


- Divine Discourse, Oct 3, 1965

Turning the mind towards God, you get liberation. Turning the mind towards the world, you get bondage.


Jika pemikiranmu dipusatkan pada sekitar tubuh jasmani, anda akan memiliki kecemasan tentang rasa sakit dan penyakit, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayanganmu; jika pemikiranmu terpusat pada kekayaan, anda akan cemas terkait pada keuntungan dan kerugian, pajak dan keringanan, investasi dan kebangkrutan; jika pemikiranmu berputar pada ketenaran, maka anda akan terseret naik turun oleh gosip, fitnah dan rasa iri. Jadi, arahkan pemikiranmu terpusat pada sumber kekuatan dan kasih sejati yaitu Tuhan sebagai pusat hidupmu. Serahkan seluruh dirimu kepada-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Kemudian, anda akan bahagia selamanya. Bagi para guru suci dari kebudayaan Weda, para Rsi, nama suci Tuhan adalah nafas hidup mereka; mereka hidup dari kekuatan Rohani yang muncul dari perenungan kemuliaan Tuhan. Ketika lautan susu dari Weda diaduk dengan kecerdasan sebagai tongkat pemutar dan bhakti sebagai tali pengikatnya, maka muncullah mentega suci berupa tiga karya agung yaitu : Ramayana, Mahabharata, dan Srimad Bhagavata. Tiga karya agung ini menyebarkan pesan-pesan tentang Namasmarana (melantunkan nama suci Tuhan) yaitu jalan untuk mendapatkan kedamaian dan suka cita. Dalam upaya menghidupkan kembali pesan-pesan suci ini dan meneguhkan kembali keyakinan pada nama suci Tuhan, inkarnasi Tuhan hadir ke dunia ini di jaman Kali yuga. 


- Divine Discourse, 3 Oktober 1965

Ketika anda mengarahkan pikiran pada Tuhan, anda mendapatkan kebebasan. Ketika pikiran diarahkan pada dunia, anda akan terikat.

Tuesday, October 28, 2025

Thought for the Day - 28th October 2025 (Tuesday)



Peace and bliss are not to be found in external objects. You possess all worldly objects to cater to your needs and to provide all comforts and conveniences to you. Isn’t it? If these external objects could give you peace and bliss, then how is it that you do not experience peace and bliss despite possessing all these? Similarly, all your near and dear ones are with you. But they also do not give you peace and bliss. You should try to understand that bliss is not to be found in persons and material objects. Bliss comes only from within you; you yourself are the source of peace and bliss. Therefore, there is no need for you to make efforts to search for them here and there. Bliss is not to be searched; it has to be manifested from within. It is to be known and not to be looked out. Try to know this eternal principle of truth that is within you. You think that someone or the other will give you bliss. But that is your bhrama (delusion). So long as you have bhrama, you cannot attain Brahma (God). Therefore, get rid of this bhrama. Then Brahma will become manifest from within you. God is no different from you. You and God are one. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996.

You yourself are the embodiment of peace. You are the embodiment of truth. You are the embodiment of God. You should try to know this eternal and sacred truth. 


Kedamaian dan kebahagiaan tidak ditemukan pada objek-objek di luar diri. Kamu memiliki semua objek-objek duniawi untuk memenuhi kebutuhanmu dan menyediakan semua kenyamanan dan kemudahan bagimu. Bukankah begitu? Jika objek-objek di luar diri ini dapat memberikan kedamaian dan kebahagiaan, kemudian bagaimana kamu tidak mengalami kedamaian dan kebahagiaan meskipun memiliki semuanya ini? Sama halnya, semua yang kamu sayangi dan kasihi hadir bersama denganmu. Namun mereka juga tidak memberikan kedamaian dan kebahagiaan pada dirimu. Kamu seharusnya mencoba untuk memahami bahwa kebahagiaan tidak ditemukan dalam diri orang dan objek material. Kebahagiaan hanya muncul dari dalam dirimu; dirimu sendiri adalah sumber dari kedamaian dan kebahagiaan. Maka dari itu, tidak perlu bagimu untuk melakukan usaha untuk mencarinya kesana kemari. Kebahagiaan tidak perlu dicari; kebahagiaan harus diwujudkan dari dalam diri. Kebahagiaan harus disadari dan bukan dicari di luar diri. Cobalah untuk mengetahui prinsip kebenaran abadi yang ada di dalam dirimu. Kamu berpikir bahwa seseorang atau yang lainnya akan memberikanmu kebahagiaan. Namun itu adalah khayalanmu (bhrama). Selama kamu masih memiliki bhrama, maka kamu tidak bisa mencapai Tuhan (Brahma). Maka dari itu, lepaskan khayalan ini. Kemudian Brahma akan muncul dari dalam dirimu. Tuhan adalah tidak berbeda dari dirimu. Sejatinya, dirimu dan Tuhan adalah satu. 


- Divine Discourse, 24 Juni 1996.

Dirimu sendiri adalah perwujudan kedamaian. Dirimu adalah perwujudan kebenaran. Dirimu adakah perwujudan Tuhan. Kamu harus mencoba untuk mengetahui kebenaran abadi dan suci ini.

Thursday, October 23, 2025

Thought for the Day - 23rd October 2025 (Thursday)



Accept what God gives you. Accept whatever He does. Do not question whether it is good or not. What you may be considering as bad, its result may turn out to be good. When you suffer from Malaria fever, the doctor will give you quinine mixture which is very bitter. The medicine may be bitter, but its effect will be good on you because it will cure your disease. Initially, you may find devotion very difficult. But you should never give up your resolve due to fear of difficulties. Many noble persons underwent many difficulties and performed intense penance to attain Divinity. Pleasure lies between two pains. Without pain, there can be no pleasure. You will experience real happiness only after you undergo difficulties. Will the sugarcane give you jaggery on merely by asking for it, unless you crush it and extract the juice? The diamond will gain real value only after many cuttings. Without cutting, it will have little value. You can prepare beautiful jewels only when you put the gold in the fire and beat it with a hammer. Likewise, you can experience divine bliss only when you develop divine love without caring for the criticism of others and bearing all difficulties. 


- Divine Discourse, Jun 20, 1996

The wise man will not seek anything from God, but leave everything to God. 


Terimalah apa yang Tuhan berikan padamu. Terimalah apapun yang Tuhan lakukan. Jangan menanyakan apakah ini baik atau buruk. Apa yang mungkin engkau anggap buruk, hasilnya bisa berubah menjadi baik. Ketika engkau menderita karena demam Malaria, dokter akan memberikanmu campuran kina yang sangat pahit. Obat memang terasa pahit, namun dampaknya akan menjadi baik pada dirimu karena obat itu akan menyembuhkan penyakitmu. Pada awalnya, engkau merasa bahwa pengabdian sangat sulit. Namun engkau seharusnya tidak pernah menyerah pada tekadmu karena takut pada kesulitan. Banyak orang-orang yang mulia melewati banyak kesulitan dan melakukan tapa brata yang berat untuk mencapai keilahian. Kesenangan terdapat diantara dua rasa sakit. Tanpa penderitaan, maka tidak akan ada kesenangan. Engkau akan mengalami kebahagiaan yang sejati hanya setelah engkau mengalami kesulitan. Akankah tebu bisa memberikanmu gula hanya dengan memintanya, kecuali engkau menghancurkan tebu tersebut dan mengumpulkan sarinya? Berlian akan mendapatkan nilai yang sejati hanya setelah dipotong berkali-kali. Tanpa adanya pemotongan, maka berlian akan memiliki sedikit nilai. Engkau dapat mempersiapkan perhiasan yang indah hanya ketika engkau menaruh emas dalam api dan membentuknya dengan pukulan palu. Sama halnya, engkau dapat mengalami kebahagiaan Tuhan hanya ketika engkau mengembangkan kasih Tuhan tanpa memperdulikan kritik orang lain dan menanggung semua kesulitan. 


- Divine Discourse, 20 Juni 1996

Manusia yang bijak tidak akan meminta apapun dari Tuhan, namun menyerahkan semuanya pada Tuhan. 

Wednesday, October 22, 2025

Thought for the Day - 22nd October 2025 (Wednesday)



The significance of the three letters in Sai should be understood. "S" stands for Service. "A" stands for Adoration. "I" stands for Illumination. These three represent Karma, Bhakti and Jnana, respectively. Sai teaches these three. All three concepts are equally important. Sai is a combination of the three spiritual paths of Action, Devotion and Wisdom. Just as the Pranava sound is made up of the three letters "A", "U", "M" (OM), Sai stands for the triple forms of spiritual sadhana. In the Sai organisation, this threefold exercise has to be properly understood. Sai sevaks have to develop the love in them, share it with others and fill the whole world with love. True love should be distinguished from attachments of various kinds. That love is a synonym for God. Love is God. Live in love. The love of God comes from the depths of the heart. Sai Sevaks should understand this love and render service in the right spirit to all mankind. 


- Divine Discourse, Nov 18, 1995

The aim of Seva (social service) is the refinement of your own good nature rather than giving succour to others. 


Arti dari tiga huruf dalam Sai harus dipahami dengan benar. "S" berarti pelayanan. "A" berarti pemujaan. "I" berarti penerangan. Ketiga makna tadi masing-masing mewakili Karma, Bhakti dan Jnana. Sai mengajarkan ketiga bagian ini. Semua ketiga konsep ini sama-sama penting. Sai adalah sebuah perpaduan dari tiga jalan spiritual yaitu tindakan, bhakti dan kebijaksanaan. Seperti halnya suara suci Pranava disusun oleh tiga huruf yaitu "A", "U", "M" (OM), Sai mengandung arti tiga wujud dari sadhana spiritual. Dalam organisasi Sai, ketiga bentuk latihan spiritual ini harus dipahami dengan benar. Para sevadhal Sai harus mengembangkan kasih dalam diri mereka, berbagi kasih itu dengan yang lainnya dan mengisi seluruh dunia dengan kasih. Kasih sejati harus dibedakan dari berbagai jenis keterikatan. Bahwa kasih adalah sama dengan Tuhan. Kasih adalah Tuhan. Hiduplah dalam kasih. Kasih Tuhan muncul dari kedalaman hati. Para sevadhal Sai harus memahami kasih ini dan melakukan pelayanan dalam semangat yang benar untuk seluruh umat manusia. 


- Divine Discourse, 18 November 1995

Tujuan dari Seva (pelayanan sosial) bukanlah semata-mata untuk menolong orang lain, melainkan untuk memurnikan dan menyempurnakan sifat baik dalam diri.

Tuesday, October 21, 2025

Thought for the Day - 21st October 2025 (Tuesday)



The cosmic vision can be acquired either by watching the Universe or one’s inner Cosmos. Man has only to discover himself. In the citadel of the body, there is the lotus temple of the heart, with subtle akasha (space) within. In it are contained heaven and earth, fire and air, sun and moon, stars and planets—all that is in the visible world and all that sustains it and all into which it submerges. Instead of rotating around the earth in the higher realms of space and planning to land on the moon or Mars, if only man plans and prepares himself to travel into his inner realm, what sublime joy and peace he can attain! His attainments at present in the vast silence of outer space are all prompted by fear and spread only further fear. The victory won through weapons and guarded by armour is not something to be glad about; it is flimsy and fragile. It is fraught with danger and may topple at the slightest gust. But the victory won through love and sympathy transforms the defeated and makes him a comrade forever. 


- Divine Discourse, Oct 24, 1965

Earthly domain, earthly riches are powerless before the spiritual domain over the senses, spiritual riches of self-knowledge and self-confidence. 


Pandangan Ilahi dapat diraih dengan dua cara yaitu dengan mengamati alam semesta luar atau alam semeta batin. Manusia hanya perlu menemukan dirinya sendiri. Dalam benteng tubuh manusia, ada tempat suci teratai di dalam hati, dengan akasha (ruang) di dalamnya. Di sana terdapat langit dan bumi, api dan udara, matahari dan rembulan, bintang dan planet – segala sesuatu yang ada di dunia yang tampak dan segala sesuatu yang menopangnya dan segala yang menjadi tempat kembalinya. Daripada mengelilingi bumi di luar angkasa dan berencana untuk mendarat di bulan dan Mars, jika saja manusia berencana dan mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjelajahi alam batinnya sendiri, betapa agung suka cita dan kedamaian yang dapat manusia capai! Pencapaian manusia pada saat sekarang di keheningan luas di luar angkasa selama ini muncul dari rasa takut dan hanya menyebarkan ketakutan yang lebih besar. Kemenangan yang dicapai dengan senjata dan dijaga dengan baju perang bukanlah sesuatu yang harus dirayakan; hal ini bersifat lemah dan rapuh. Kemenangan ini penuh dengan bahaya bisa hancur hanya oleh hembusan angin kecil. Namun kemenangan yang dicapai melalui kasih dan simpati mengubah pihak yang kalah dan menjadikannya sahabat untuk selamanya. 


- Divine Discourse, 24 Oktober 1965

Kekuasaan duniawi dan kekayaan materi tidak berdaya dihadapan kekayaan rohani berupa pengendalian atas indra, pengetahuan diri dan kepercayaan diri.

Monday, October 20, 2025

Thought for the Day - 20th October 2025 (Monday)



It may be asked what is the karma that accounts for the advent of Avatars. For Divine incarnations, karma is not the cause. The evil deeds of the wicked and the good deeds and yearning of the righteous are responsible for the advent of Avatars. The Narasimha Avatar (the Divine incarnating as half-man and half-lion) was due to the great devotion of Prahlada and the bad qualities of Hiranyakashipu (Prahlada’s father). The descent of the Divine is in response to the yearnings and actions of people and not because of any karma of the Divine. This may be understood from a simple illustration. Crops grown on the ground look up to the skies for rain. They cannot reach up to the clouds. The clouds come down in the form of rain to provide water to the crops. To cite another example: There is a child on the floor. It wants its mother. It cannot jump up to the mother. The mother has to bend down, take the child and fondle it. In the same manner, to offer relief to devotees, to protect them and foster them, the Divine comes in the human form. This is described as Avatarana (the descent of God as an incarnation). God comes down from His high level to give joy to His devotees. 


- Divine Discourse, Sep 15, 1988

What is My directive? What is it that will please Me? What is it that I desire? Only one thing: Love, Love, Love. That is Sai’s most potent weapon.

 

Mungkin muncul pertanyaan: apakah karma yang membuat turunnya para Avatara? Bagi inkarnasi Tuhan, maka karma bukanlah penyebabnya. Perbuatan-perbuatan jahat dari mereka yang jahat dan perbuatan-perbuatan baik serta kerinduan mendalam dari mereka yang baik adalah penyebab dari kehadiran Avatara. Sebagai contoh kehadiran dari Narasimha Avatar (inkarnasi Tuhan sebagai setengah manusia dan setengah singa) karena disebabkan oleh bhakti yang begitu hebat dari Prahlada dan sifat-sifat buruk dari Hiranyakashipu (ayah dari Prahlada). Kedatangan Tuhan adalah dalam memberikan respon pada kerinduan dan tindakan dari manusia dan bukan karena disebabkan oleh karma apapun dari Tuhan. Hal ini bisa dipahami lebih mudah dengan ilustrasi sederhana. Tanaman yang tumbuh di tanah memandang ke langit untuk mendapatkan hujan. Tanaman ini tidak bisa mencapai awan di atas sana. Namun awan-awan tersebut yang turun dalam bentuk hujan untuk memberikan air bagi tanaman itu. Contoh lainnya adalah ketika ada seorang anak kecil di lantai. Anak kecil tersebut menginginkan ibunya dan tidak bisa langsung melompat ke pelukan ibunya. Maka sang ibu harus membungkuk dan mengangkat anaknya serta memeluknya dengan kasih. Dalam cara yang sama, untuk memberikan pertolongan kepada bhakta, untuk melindungi dan menuntun mereka maka Tuhan hadir dalam wujud manusia. Hal ini dijelaskan sebagai Avatarana (kehadiran Tuhan sebagai inkarnasi). Tuhan turun dari tempat-Nya yang agung untuk memberikan suka cita pada bhakta-Nya. 


- Divine Discourse, 15 September 1988

Apa yang menjadi perintah-Ku? Apa yang dapat menyenangkan-KU? Apa yang Aku inginkan? Hanya satu hal saja: Kasih, Kasih, Kasih. Kasih adalah senjata paling ampuh dari Sai.   

Tuesday, October 14, 2025

Thought for the Day - 14th October 2025 (Tuesday)



Who is Manava (man)? Manava is the one with Manas (mind). What is meant by mind? Mind is just a bundle of thoughts and desires. Man becomes a genuine human being when all thoughts are bound to Truth. Humanness manifests in such a person as good and noble conduct. Today, truthful thoughts are conspicuous by their absence. If we fill our lives with thoughts based on falsehood, the whole world then becomes filled with untruth. Hence, eliminate all bad qualities within you; develop good qualities, and endeavour to experience Divinity – this is true sadhana (spiritual practice). What is the real meaning of sadhana? Transforming the bad into good is sadhana. What is the point in claiming that you are doing sadhana, if this important principle is not observed? In the name of doing sadhana, you close your eyes and roll the rosary beads, but the mind is wandering all over the place! This is not sadhana! We have to expel bad thoughts, bad feelings, and bad tendencies, and replace all these with good thoughts, noble feelings, and sacred habits. Purging out the bad and replacing it with good is what sadhana is all about. 


- Summer Showers, May 27, 2000

Seva is the best sadhana for eliminating the nefarious pull of the mind toward desires. 


Siapakah manusia (manava)? Manava adalah seseorang dengan pikiran (manas). Apa makna dari pikiran? Pikiran hanyalah sekumpulan dari gagasan dan keinginan. Seseorang menjadi manusia yang sesungguhnya ketika semua pemikiran terikat pada kebenaran. Kemanusiaan terwujud pada orang yang seperti itu dalam bentuk tingkah laku yang baik dan mulia. Namun saat ini, pikiran yang dilandasi kebenaran sudah jarang sekali ditemukan. Jika hidup kita dipenuhi dengan pikiran yang bersumber dari ketidakbenaran, maka seluruh dunia pun akan dipenuhi oleh ketidakbenaran. Karena itu, singkirkan semua sifat-sifat buruk di dalam dirimu; kembangkan sifat-sifat baik, dan berusahalah untuk mengalami keilahian – ini adalah latihan spiritual atau sadhana yang sejati. Apa arti sesungguhnya dari sadhana? Mengubah yang buruk menjadi baik adalah sadhana. Apa gunanya mengaku engkau sedang melakukan sadhana, jika prinsip penting ini tidak dijalankan? Banyak orang mengatakan sedang melakukan sadhana, engkau memejamkan matamu dan memutar japa mala, namun pikiran mengembara kemana-mana! Ini bukanlah sadhana! Kita harus menyingkirkan pemikiran buruk, perasaan buruk dan kecendrungan buruk, dan mengganti semuanya itu dengan pemikiran yang baik, perasaan yang luhur, dan kebiasaan yang suci. Membersihkan yang buruk dan menggantinya dengan kebaikan adalah makna sejati dari sadhana. 


- Wacana Musim Panas, 27 Mei 2000

Seva adalah sadhana terbaik dalam melenyapkan tarikan pikiran terhadap keinginan-keinginan.   

Monday, October 13, 2025

Thought for the Day - 13th October 2025 (Monday)



The Scriptures (Shrutis) direct that man must earn just enough for his upkeep by honest means and use the rest of his time and skill for the general good, Dharma-artha. Earn artha (wealth) through Dharma (right conduct). Then, one will certainly have plenty of Divine Grace. Dritarashtra, father of 100 Kauravas who fought against five Pandava cousins, the legitimate claimants to a share of the ancestral patrimony, had neither of these two, though he had abundant riches, superior armies and greater military skill and strategy, had to witness the total extinction of his dynasty and kingdom! Most men like Dritarashtra pursue falsehoods and ignore truth; they amass the trivial and ignore the crucial. They do not realise that death is stalking silently behind them; they do not notice the quick pace of time; they do not know how precious is the chance that the human body, intellect, society, and heritage that it accumulated for him has given him, here and now! They are unaware that the same spark of Divinity that illumines every thought, word, and deed in them is activating every other being too, in the Universe! 


- Divine Discourse, Mar 24, 1973

The wealth earned by trodding upon morality is no more valuable than mud! Such wealth cannot endure or grant happiness.


Naskah suci (shruti) mengarahkan bahwa manusia harus mendapatkan penghasilan secukupnya untuk menghidupi dirinya secara jujur dan menggunakan sisa waktu dan ketrampilannya untuk kebaikan masyarakat luas, inilah makna dari Dharma-artha. Artinya, carilah kekayaan (artha) melalui Dharma (kebajikan). Kemudian, seseorang pastinya akan mendapatkan banyak Rahmat Tuhan. Dritarashtra yang merupakan ayah dari 100 kaurava yang berperang melawan sepupunya sendiri yaitu lima Pandava yang merupakan pewaris sah dari harta leluhur mereka, tidak memiliki kedua nilai ini, meskipun Dristarastha memiliki kekayaan yang melimpah, pasukan militer yang kuat dan kemampuan serta keahlian strategi militer yang lebih hebat, harus menyaksikan kehancuran total dari dinasti dan kerajaannya! Kebanyakan manusia seperti halnya Dritarashtra yang mengikuti ketidakbenaran dan mengabaikan kebenaran; mereka mengumpulkan hal-hal yang sepele dan mengabaikan yang bersifat krusial. Mereka tidak menyadari bahwa kematian sedang mengintai pelan-pelan dibelakang mereka; mereka tidak menyadari laju waktu yang begitu cepat; mereka tidak mengetahui betapa berharganya kesempatan yang diberikan oleh tubuh manusia, kecerdasan, masyarakat dan warisan budaya yang telah diberikan padanya disini dan sekarang! Mereka tidak sadar bahwa percikan Ilahi yang sama yang menerangi setiap pikiran, perkataan dan tindakan dalam diri mereka juga menghidupkan setiap makhluk lain di alam semesta ini! 


- Divine Discourse, 24 Maret 1973

Kekayaan yang dihasilkan dengan menginjak-injak moralitas adalah tidak lebih berharga dari lumpur! Kekayaan seperti itu tidak bisa bertahan lama atau memberikan kebahagiaan.  

Sunday, October 5, 2025

Thought for the Day - 5th October 2025 (Sunday)



Like Vivekananda and Nag Mahasaya (both disciples of Ramakrishna Paramahamsa), people must be urged by the thirst to know the Creator behind Creation, the person behind the puppets. Nag Mahasaya started from the attitude of Dasoham (I am the servant), and he made himself so small by shrinking his individuality that he was able to wriggle out of the shackles of delusion and escape into the Universal Eternal Truth. Vivekananda, on the other hand, started from the attitude of Soham (I am He); he made himself so vast and grand that he broke the shackles and merged with the Supreme Sovereign Truth. When you have earned that Jnana (wisdom) of the identity of your reality with the reality behind the Universe, maya (illusion) cannot affect you. The fly sits on all objects, fair and foul, but it does not sit on fire, for it will be scorched to death.


- Divine Discourse, Oct 04, 1965

You should fill your hearts with love. That is the only way in which you can reach the eternal truth of God


Seperti halnya Swami Vivekananda dan Nag Mahasaya (keduanya murid dari Ramakrishna Paramahamsa), manusia hendaknya digerakkan oleh kerinduan suci untuk mengenal Sang Pencipta di balik ciptaan, sosok sejati di balik boneka kehidupan. Nag Mahasaya menempuh jalan Dasoham (aku adalah hamba-Mu). Dengan penuh kerendahan hati, ia mengecilkan keakuannya hingga lenyap dalam ketulusan pelayanan, ia mampu melepaskan diri dari belenggu maya (ilusi) dan bersatu dengan Kebenaran Abadi yang Universal. Vivekananda, di sisi lain, menapaki jalan Soham (aku adalah Dia). Ia memperluas kesadarannya sedemikian rupa, hingga melampaui batas diri dan menyatu dengan Kebenaran Tertinggi, Sang Kesadaran Agung. Ketika engkau telah memperoleh jnana (kebijaksanaan sejati) bahwa hakikat dirinya adalah satu dengan hakikat semesta, maka maya (ilusi duniawi) tak lagi mampu mempengaruhimu. Lalat boleh hinggap di mana saja, pada yang bersih maupun yang kotor, tetapi ia takkan pernah hinggap di atas api, karena api akan membakarnya. Demikian pula, ketika seseorang telah menyala dalam api kesadaran Ilahi, segala ilusi dunia tidak lagi dapat menyentuhnya.


- Divine Discourse, Oct 04, 1965

Engkau harus memenuhi hatimu dengan cinta-kasih. Hanya melalui jalan itulah engkau dapat mencapai kebenaran abadi dari Tuhan.

Tuesday, September 30, 2025

Thought for the Day - 30th September 2025 (Tuesday)



Whomever you come across, consider them as embodiments of Divinity and salute them. Even when you come across people who hate you, offer your pranams (salutations) to them. Enquire, “How are you, brother?” Then they will also respond asking, “How are you, brother?” A human being is one with certain human values. What are those human values? Satya, Dharma, Shanti, Prema, and Ahimsa. They are all interrelated. Always speak truth, observe dharma (righteousness). Be peaceful. Be happy and blissful. You should conduct yourself with love in society. Love is God, God is Love. Hence, live in love. Then only can you acquire true knowledge. That is wisdom. Embodiments of Love! I always address you as embodiments of love. The reason being, I am suffused with love. Love is My property. You all are heirs to that property. I will distribute that love to one and all. I do not hate anyone. I have no selfishness at all! My love is selfless love. 


- Divine Discourse, Sep 27, 2006

All the sublime human values have their origin in love. When one is filled with love, he needs no other spiritual or ritualistic practices. 


Siapapun yang anda temui, pandanglah mereka sebagai perwujudan keilahian dan berikan rasa hormat pada mereka. Bahkan ketika anda bertemu dengan mereka yang membencimu, tetaplah berikan salam hormat pada mereka. Sampaikan salam dengan pertanyaan, “bagaimana kabarnya, saudara?” kemudian mereka juga akan menjawab dengan bertanya, “bagaimana kabarmu, saudara?” Seorang manusia adalah seseorang yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan tertentu. Apa saja nilai-nilai kemanusiaan itu? Satya, Dharma, Shanti, Prema, dan Ahimsa. Kelima nilai-nilai kemanusiaan tersebut adalah saling terkait. Selalulah berbicara benar, Jalani dharma (kebajikan). Hiduplah dalam damai. Bergembiralah dan rasakan kebahagiaan sejati. Anda harus bersikap dengan kasih dalam masyarakat. Kasih adalah Tuhan, Tuhan adalah kasih. Karena itu, hiduplah dalam kasih. Hanya dengan cara itu anda bisa mendapatkan pengetahuan sejati. Itu adalah kebijaksanaan. Perwujudan kasih! Aku selalu menyapamu sebagai perwujudan dari kasih. Alasannya karena Aku diliputi dengan kasih. Kasih adalah kekayaan-Ku. Anda semua adalah ahli waris dari harta kasih itu. Aku akan membagikan kasih itu kepada semuanya. Aku tidak membenci siapapun. Aku sama sekali tidak memiliki sifat mementingkan diri sendiri! Kasih-Ku adalah kasih yang tanpa pamrih. 


- Divine Discourse, 27 September 2006

Semua nilai-nilai kemanusiaan yang luhur bersumber dari kasih. Ketika seseorang diliputi dengan kasih, ia tidak lagi membutuhkan latihan spiritual atau ritual lainnya. 

Wednesday, September 17, 2025

Thought for the Day - 17th September 2025 (Wednesday)



Remember that nothing in this world is as powerful as the Lord’s name to protect it. It is not arms and bombs that will save the world. Only God’s grace will protect the world. It is man’s foremost duty to pray for God’s grace. Prayer is of supreme importance. Together with melody and rhythm, you must impart feeling to your singing to make the bhajan a sacred offering to the Divine. A ragam (tune) without bhavam (feeling) is a rogam (disease). Giving up conceit and exhibitionism, sing bhajans in a spirit of humility and devotion. That is the right way to sing bhajans. Tyagaraja, in one of his songs, urged the mind to chant Rama's name with full awareness of the power of the name. In daily life also awareness is needed at every step and in every prayer. When all participants in a bhajan sing in unison, imagine the sacred vibrations that are produced and the divine energies that are released! When these vibrations fill the world, what changes can they not bring about! 


- Divine Discourse, Feb 13, 1991

When one sings alone, the heart is merged in the song. But when many sing together, it acquires a Divine power. 


Ingatlah bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang sama kuatnya dengan nama suci Tuhan untuk melindungi dunia. Adalah bukan senjata dan bom yang akan menyelamatkan dunia. Hanya karunia Tuhan yang akan dapat melindungi dunia. Merupakan kewajiban manusia yang utama untuk berdoa dan memohon karunia Tuhan. Keberadaan doa adalah begitu sangat penting. Bersamaan dengan melodi dan irama, engkau harus memberikan perasaan pada lantunan lagu bhajan yang engkau nyanyikan untuk membuat bhajan menjadi sebuah persembahan suci pada Tuhan. Sebuah melodi (ragam) tanpa adanya perasaan (bhavam) merupakan sebuah penyakit (rogam). Lepaskan perasaan sombong dan pamer, lantunkan bhajan dalam semangat kerendahan hati dan bhakti. Itu adalah jalan yang benar untuk melantunkan bhajan. Tyagaraja, dalam sebuah lagunya, mendorong pikiran untuk melantunkan nama suci Rama dengan penuh kesadaran pada kekuatan dari nama suci tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari kesadaran dibutuhkan dalam setiap langkah dan dalam setiap doa. Ketika semua peserta bhajan bernyanyi dalam satu kesatuan, bayangkan getaran suci dan energi keilahian yang dihasilkan! Ketika vibrasi suci ini mengisi dunia, perubahan apa yang tidak bisa getaran suci ini lakukan! 


- Divine Discourse, 13 Februari 1991

Ketika seseorang menyanyi bhajan sendiri, hati menyatu dalam lagu. Namun ketika banyak orang bernyanyi bhajan, akan menghasilkan kekuatan ilahi.

Tuesday, September 16, 2025

Thought for the Day - 16th September 2025 (Tuesday)



Where there is care and where there is a desire to learn with attention, wisdom will appear. Only when we are able to absorb the fire of wisdom into our heart will it be possible for us to quickly burn away our distracting desires. The fire always tries to rise higher and higher. Even if you put the fire in a low ditch, it will try and rise higher. Water, on the other hand, will rush down even if you pour it on a higher level. Water cannot go higher up on its own. Our sensory desires relating to the material world are like water. On the other hand, our thoughts of the Lord are like fire. Once we understand and appreciate what is true and what is permanent, then these transient things will not give us any trouble whatsoever. If you want to establish one truth, it is possible to do so only by following and practising other related truths. Just as we have to use a thorn to remove another thorn and a diamond to cut another diamond, so also, if you want to remove the effect of bad actions, you can remove them only by good actions. A good action is needed to remove a bad action. 


- Divine Discourse, Jun 13, 1974

Since the body is an instrument, you can make God happy through this instrument and enjoy happiness yourself in the process. 


Dimana ada kepedulian dan dimana ada keinginan belajar dengan sungguh-sungguh, maka disanalah kebijaksanaan akan muncul. Hanya ketika kita mampu untuk menyerap api kebijaksanaan di dalam hati kita maka memungkinkan bagi kita dengan cepat untuk membakar habis keinginan-keinginan yang mengganggu. Api selalu berusaha untuk naik lebih tinggi dan lebih tinggi. Bahkan jika engkau meletakkan api di lubang yang rendah, api akan berusaha untuk naik ke atas, sebaliknya, air akan segera mengalir ke bawah bahkan jika engkau menuangkannya di tempat yang lebih tinggi. Air tidak bisa bergerak ke tempat yang lebih tinggi dengan kemauannya sendiri. Keinginan indrawi kita terkait pada dunia materi adalah seperti aliran air. Sebaliknya, pikiran kita pada Tuhan adalah seperti nyala api. Sekali kita memahami dan menghargai apa yang benar dan apa yang kekal, kemudian hal-hal yang bersifat sementara ini tidak akan mengganggu lagi. Jika engkau ingin untuk menegakkan satu kebenaran, hal ini mungkin dilakukan hanya dengan mengikuti dan menjalankan kebenaran-kebenaran terkait lainnya. Seperti halnya kita menggunakan sebuah duri untuk mengeluarkan duri lainnya dan sebuah permata untuk memotong permata lainnya, begitu juga, jika engkau ingin menghilangkan akibat buruk dari perbuatan yang tidak baik, engkau dapat menghilangkannya hanya dengan perbuatan baik. Perbuatan baik diperlukan untuk menghilangkan perbuatan buruk. 


- Divine Discourse, 13 Juni 1974

Karena tubuh adalah sebuah instrumen, engkau bisa membuat Tuhan senang melalui instrumen ini dan turut merasakan kebahagiaan dalam prosesnya.

Sunday, September 14, 2025

Thought for the Day - 14th September 2025 (Sunday)



There are two categories of Ananda (bliss) in the world: Sadhana-Janya Ananda (Acquired bliss) and Swatah-Siddha Ananda (Self-generating bliss). Acquired bliss is associated with sensory objects. It arises and vanishes from time to time. It does not endure. For instance, when hunger is appeased, there is happiness for the moment. But it ceases after a time. This applies to all objects in the world. This type of joy has been described as acquired or derived happiness. As it is got and lost by human effort, it is not true bliss. Man, however, seeks lasting Ananda. He is, in fact, filled with Ananda and is the embodiment of Ananda. Ananda constitutes his very nature and being. Why then does he not experience it? This is because, unaware of his true nature, he is obsessed with the external world and fails to experience the bliss within. He imagines that the source of joy lies in the phenomenal world. But, as in the case of butter that is present in every drop of milk, but which can be seen only after the milk is curdled and the buttermilk is churned, this inner bliss can be experienced only after the right effort is made. The mind is filled with various kinds of joy. It is only when the appropriate enquiry is made and one's true nature is ascertained that the Divine Sat-Chit-Ananda inherent in one will be manifested. 


- Wacana Musim Panas, Feb 12, 1989.

Man is not of the nature of the body he occupies. He is the Atma. And happiness is the nature of the Atma. 


Ada dua ketegori dari kebahagiaan (Ananda) di dunia ini: Sadhana-Janya Ananda (kebahagiaan dari usaha) dan Swatah-Siddha Ananda (kebahagiaan yang muncul dari Diri Sejati). Kebahagiaan yang berasal dari usaha dihubungkan dengan objek-objek indra. Kebahagiaan ini muncul dan hilang dari waktu ke waktu dan tidak bertahan lama. Sebagai contoh, ketika rasa lapar terpuaskan, maka seseorang merasakan kebahagiaan untuk sementara waktu. Namun kebahagiaan itu segera menghilang. Hal ini berlaku untuk semua objek yang ada di dunia ini. Kebahagiaan jenis ini disebut sebagai kebahagiaan diperoleh atau berasal dari usaha. Karena jenis kebahagiaan ini diperoleh dan lenyap dari usaha manusia, maka kebahagiaan ini bukan dikategorikan sebagai kebahagiaan sejati. Akan tetapi, manusia mencari kebahagiaan yang abadi. Sesungguhnya, manusia dipenuhi dengan Ananda dan merupakan perwujudan dari Ananda. Ananda adalah hakikat dan inti dari keberadaan manusia. Lantas mengapa Ananda ini tidak dapat dialami? Hal ini disebabkan karena manusia tidak menyadari dirinya yang sejati, dan tergila-gila dengan dunia luar dan gagal mengalami kebahagiaan di dalam dirinya. Manusia membayangkan bahwa sumber kebahagiaan terdapat pada dunia yang menakjubkan ini. Namun, sebagaimana mentega yang ada dalam setiap tetes susu, dan mentega itu hanya dapat dilihat setelah susu tersebut di kentalkan dan diaduk, sama halnya kebahagiaan dalam diri ini hanya dapat dialami setelah melalui usaha yang benar. Pikiran diisi dengan berbagai jenis suka cita. Hanya melalui pencarian yang mendalam dan menyadari Diri Sejati maka Sat-Chit-Ananda Ilahi yang melekat dalam diri seseorang dapat terungkap. 


- Wacana Musim Panas, 12 Februari 1989.

Manusia sejatinya bukanlah tubuh yang ia tempati. Manusia Adalah Atma. Dan kebahagiaan adalah sifat alami dari Atma.

Saturday, September 13, 2025

Thought for the Day - 13th September 2025 (Saturday)



If only you can listen to the good words of the elders and follow the straight path contained in the words of your elders, there is every chance of you becoming wise. Therefore, you must make an attempt to sanctify all the limbs of your body and engage them to undertake the right type of work. Simply because God has given you hands, if you use them to do wrong things, even the hands will dry up and become like dry wood and useless. It is in this context that Prahlada said that if you cannot use your hands for praying to God, they are useless. If you cannot use your mouth to sing the praise of the Lord, then your mouth will be useless. If you are born in such a way that you neither use your hands nor your mouth in praise to the Lord, your birth itself is a burden to your parents. No useful purpose will be served by your being born as a human being. Divyatma Swarupas! For a moment, think of the good fortune of your birth as a human being. Youth of today should remember the sacredness of a human being and also bear in mind the prosperity they can bring to the society of which they are a part. They should think of the welfare of the country.


--Summer Showers, Jun 13, 1974. 

One must make a firm resolve to use all the organs in the body for sacred purposes. 


Jika saja engkau dapat mendengarkan kata-kata bijak dari para sesepuh dan mengikuti jalan lurus yang terkandung dalam nasihat mereka, maka besar kemungkinan engkau menjadi bijak. Maka dari itu, engkau harus melakukan sebuah usaha untuk menyucikan semua anggota tubuhmu dan menggunakannya untuk melakukan pekerjaan yang benar. Sederhananya karena Tuhan telah memberikanmu dua tangan, jika engkau menggunakan kedua tangan itu dengan melakukan hal-hal yang salah, bahkan kedua tangan akan mengering seperti halnya kayu kering dan tidak berguna. Dalam konteks inilah Prahlada berkata bahwa jika engkau tidak bisa menggunakan kedua tanganmu untuk berdoa pada Tuhan, maka kedua tanganmu menjadi tidak ada gunanya. Jika engkau tidak bisa menggunakan mulutmu untuk melantunkan pujian kemuliaan Tuhan, maka mulutmu menjadi tidak ada gunanya. Jika engkau dilahirkan dengan cara seperti itu dimana engkau tidak menggunakan tangan dan mulutmu untuk memuliakan Tuhan, maka kelahiranmu sendiri menjadi sebuah beban bagi orang tuamu. Artinya tidak ada tujuan berguna kelahiranmu sebagai manusia. _Divyatma Swarupas!_ Luangkan waktu sejenak, renungkan keberuntungan dari kelahiranmu sebagai manusia. Pemuda pada hari ini harus mengingat kesucian manusia dan juga menyadari kesejahtraan yang mereka bisa bawa pada masyarakat tempat mereka berada. Para pemuda harus memikirkan kesejahtraan bangsa. 


- Wacana Musim Panas, 13 Juni 1974. 

Seseorang harus memiliki tekad yang kuat untuk menggunakan semua organ tubuhnya untuk tujuan yang suci.

Friday, September 12, 2025

Thought for the Day - 12th September 2025 (Friday)



Once, a party consisting of ten fools happened to cross a river. After crossing the river, one of them wanted to verify whether all ten had reached the bank safely. He counted all the others, forgetting himself, and began weeping, telling them that one member of the group was lost in the river. The other fools in turn, also made the same mistake by repeating the counting in a similar manner. As a result, they all began making a hue and cry. In the meanwhile, a clever passerby, who noticed their miserable plight, approached them and asked them the reason for their piteous lamentation. When they told him that one of the ten members of their group was washed away in the river while crossing, the passerby understood their ignorance and asked them to stand in a row. Then, he counted them aloud one by one, thereby convincing them that all ten of them were intact and that their wrong conclusion about the loss of one man was due to the fact that everybody forgot himself while counting. One who has forgotten himself cannot recognise the truth proper. When you are yourself the Atma, how can you recognise it by praying to some other being or doing such other sadhana? 


- Summer Showers, May 29, 1990.

When you know yourself as yourself, you are liberated: that is Moksha. 


Pada suatu hari ada sekelompok yang terdiri dari sepuluh orang dungu menyebrang sungai. Setelah berhasil menyebrang sungai, salah satu dari mereka ingin memastikan bahwa sepuluh anggota telah selamat sampai di seberang. Ia mulai menghitung temannya satu per satu, dan lupa menghitung dirinya sendiri dan mulai menangis dengan berkata bahwa ada satu anggota yang telah hanyut di sungai. Sedangkan teman-teman lainnya juga melakukan kesalahan yang sama dengan menghitung ulang dengan cara yang sama. Sebagai hasilnya, semuanya yakin bahwa memang ada satu orang yang hilang, lalu mereka mulai panik dan menangis bersama-sama. Sementara itu, lewatlah seorang pejalan kaki yang bijak melihat kesedihan mereka dan bertanya apa yang sedang terjadi. Setelah mendengar cerita mereka bahwa satu anggota kelompok mereka hilang saat menyeberang sungai, pejalan kaki itu segera menyadari kebodohan mereka, dan meminta mereka untuk berdiri berbaris, lalu menghitung mereka satu per satu dengan suara keras. Ketika hasil hitungan menunjukkan bahwa mereka berjumlah sepuluh orang, barulah mereka sadar bahwa tidak ada yang hilang. Kesalahan mereka hanya karena masing-masing lupa menghitung dirinya sendiri. Seseorang yang lupa pada dirinya sendiri tidak bisa menyadari kebenaran dengan tepat. Ketika dirimu sendiri adalah Atma, bagaimana engkau bisa menyadari Atma dengan berdoa pada wujud lain atau melakukan berbagai bentuk sadhana yang lain? 


- Wacana Musim Panas, 29 Mei 1990.

Ketika engkau mengetahui dirimu sendiri sebagai dirimu sendiri, engkau terbeaskan: itu adalah Moksha.

Thursday, September 11, 2025

Thought for the Day - 11th September 2025 (Thursday)



Whether he be a king, a farmer, a millionaire or a pauper, everyone has to face five types of kleshas (miseries). The first of these is Avidya Klesha, i.e., the misery of ignorance. On account of attachment to the body (Dehabhimana), losing one's self-confidence, considering the body to be real and eternal, man undergoes much trouble to nourish it. And as the education being imparted today is only for one's physical upkeep, it is nothing but another form of avidya (ignorance). Such an education cannot be called Atma-vidya. In order to sustain the body, man aspires for so many things. If he fails to procure them, he gets frustrated, which in turn leads to depression and misery. Man suffers because of excessive associations and attachments. This is why I have been cautioning you to reduce body attachment to an extent. This body is responsible for both misery and happiness. Body consciousness (Dehabhimana) is required, but first develop Atmic Consciousness (Atmabhimana), and then you can experience body consciousness, it is not wrong. Man is subject to misery because he completely forgets Atmabhimana and makes Dehabhimana alone one's goal. 


- Divine Discourse, Oct 04, 2000.

Examine the reality of the body, and escape from this false identification; that is the hallmark of jnana (wisdom).


Apakah seseorang itu adalah seorang raja, petani, jutawan, atau orang miskin, setiap orang harus menghadapi lima jenis penderitaan (klesha). Penderitaan pertama adalah Avidya Klesha, yaitu penderitaan karena kebodohan. Hal ini disebabkan karena keterikatan pada tubuh (Dehabhimana), kehilangan kepercayaan diri, menganggap tubuh bersifat sejati dan kekal, manusia mengalami banyak masalah demi merawat tubuhnya. Karena pendidikan hari ini hanya diberikan terpusat pada pemeliharaan tubuh fisik, maka pendidikan itu tiada lain hanyalah bentuk lain dari kebodohan (avidya). Pendidikan yang seperti itu tidak bisa disebut dengan Atma-vidya. Dalam upaya menjaga tubuh, manusia menginginkan begitu banyak hal. Jika manusia gagal memenuhi keinginannya maka manusia menjadi frustasi yang mengarah pada depresi dan penderitaan. Manusia menderita karena terlalu banyak keterikatan dan keterkaitan. Itulah sebabnya mengapa Aku telah memperingatkan dirimu untuk mengurangi keterikatan tubuh sampai pada batas tertentu. Tubuh ini adalah yang bertanggung jawab bagi penderitaan dan kebahagiaan. Kesadaran pada tubuh (Dehabhimana) dibutuhkan, namun pertama kembangkan kesadaran pada Atma (Atmabhimana), dan kemudian engkau bisa mengalami kesadaran tubuh, hal ini tidaklah salah. Manusia mengalami penderitaan karena manusia sepenuhnya lupa pada Atmabhimana dan hanya menjadikan Dehabhimana sebagai satu-satunya tujuan. 


- Divine Discourse, 04 Oktober 2000.

Selidikilah kenyataan pada tubuh, dan lepaskan identifikasi yang salah ini; itu adalah tanda dari kebijaksanaan (jnana).

Wednesday, September 10, 2025

Thought for the Day - 10th September 2025 (Wednesday)



First is the stage of a student, and second is the stage when he works as an officer. The third stage is when he would have retired from all work. Here we should recognise that a retired officer does not go to work in any institution, he stays at home and involves himself in activities that interest him. Looking at him, if a young boy in the house says he will also not go to college because the older person is not going, it is not correct. This retired officer would have attended college, done everything needed to learn in a college and thereafter attended his office and performed duties prescribed for him and then retired. Without being a student first and then fulfilling your duty as an officer, you cannot become an officer deserving a pension and rest. So too, you must first learn the education relating to the Atma; thereafter, involve yourself in work that is ordained and then take rest and enjoy the bliss that is given by the knowledge of the Atma. Without working, it is not possible for us to understand the aspect of Dharma. Without knowing the full meaning of Dharma or right conduct, one cannot reach Brahman. 


- Summer Showers, Jun 13, 1974.

Only when one can develop an equal-mindedness towards everything in one’s life can one understand the aspect of Brahman. 


Tahap pertama adalah seorang murid, dan tahap kedua adalah ketika dia bekerja sebagai pegawai. Tahap ketiga adalah ketika dia pensiun dari semua pekerjaannya. Dalam hal ini kita harus menyadari bahwa seorang yang pensiun tidak lagi bekerja di institusi manapun, dia tinggal di rumah dan menyibukkan dirinya dalam aktifitas yang menarik baginya. Jika seorang anak muda dalam rumah berkata bahwa dia tidak akan kuliah karena orang tua yang sudah pensiun tidak kuliah, maka ini adalah pemahaman yang keliru. Pensiunan pegawai ini sebelumnya sudah pernah kuliah, menempuh pendidikan, kemudian bekerja dan menjalankan tanggung jawabnya sesuai amanah yang diberikan padanya dan barulah dia pensiun. Tanpa menjadi seorang murid pada tahap awalnya dan kemudian menjalankan kewajibanmu sebagai seorang pegawai, engkau tidak bisa menjadi pegawai yang layak mendapatkan pensiun dan beristirahat. Begitu juga, engkau pertama harus mempelajari pendidikan berkaitan dengan Atma; setelah itu, menjalankan pekerjaan yang telah ditetapkan dan setelah itu barulah dapat beristirahat dan menikmati kebahagiaan yang diberikan oleh pengetahuan tentang Atma. Tanpa bekerja, adalah tidak mungkin memahami aspek dari Dharma. Tanpa mengetahui sepenuhnya makna dari Dharma atau tindakan benar, seseorang tidak bisa mencapai Brahman. 


- Summer Showers, 13 Juni 1974.

Hanya ketika seseorang dapat mengembangkan sikap batin yang seimbang pada segala hal dalam hidupnya, barulah ia dapat memahami aspek dari Brahman.