Saturday, November 30, 2024

Thought for the Day - 30th November 2024 (Saturday)

Krishna was the Supreme being and Sarvajna (All-Knowing). He was very close to Draupadi. At the time when she suffered humiliation in the court of Duryodhana, who ordered that she be disrobed, Krishna made an endless supply of saris to protect her honour. Some people ask why Krishna did not punish Duryodhana on the spot when he was perpetrating such a heinous crime against a noble woman who was so devoted to Him. No doubt, Draupadi was highly devoted to Krishna and Krishna had also the power to punish Duryodhana. But in this drama several more scenes had to be enacted. Duryodhana was predestined to be killed by Bhima in the war that was yet to come. So Krishna could not interfere. Kamsa's life was in the hands of Krishna and Ravana's life was in the hands of Rama. Both Rama and Krishna are forms of Vishnu. But each had to play His specific role in His incarnation. For every incarnation there are certain rules and regulations which the Avatar will not transgress. Mere mortals cannot understand the ways of the Divine.


- Divine Discourse, Sep 19, 1993.

The ways of God are inscrutable as well as inexplicable. Only one who has ascended to His level can comprehend the Lord’s designs.



Krishna adalah kepribadian tertinggi dan Sarvajna (Maha mengetahui semuanya). Krishna sangatlah dekat dengan Draupadi. Pada saat Draupadi begitu menderita dilecehkan di ruang istana Duryodhana, yang memerintahkan agar Draupadi menanggalkan pakaiannya, Krishna memberikan pakaian sari yang tidak pernah berhenti untuk menjaga kehormatannya. Beberapa orang menanyakan mengapa Krishna tidak menghukum Duryodhana pada saat itu juga ketika dia melakukan kejahatan keji pada seorang perempuan yang begitu bhakti pada Krishna. Tidak diragukan lagi, Draupadi begitu berbhakti kepada Krishna dan Krishna juga memiliki kekuatan untuk menghukum Duryodhana. Namun dalam drama kejadian ini ada beberapa adegan tambahan yang harus dijalankan. Duryodhana ditakdirkan harus dibunuh oleh Bhima dalam perang yang akan datang. Jadi Krishna tidak bisa ikut campur. Hidup dari Kamsa ada di tangan Krishna dan hidup dari Ravana ada di tangan Rama. Keduanya baik Rama dan Krishna adalah wujud dari Sri Vishnu. Namun setiap bagian memiliki peran khusus untuk dijalankan dalam inkarnasi-Nya. Untuk setiap inkarnasi ada beberapa aturan dan ketentuan tertentu yang mana tidak akan dilanggar oleh Avatar. Manusia biasa tidak bisa memahami cara-cara Tuhan.


- Divine Discourse, 19 September 1993.

Jalan Tuhan tidak bisa dipahami dan tidak bisa dijelaskan. Hanya orang yang telah mencapai tingkatan-Nya dapat memahami rencana Tuhan. 



Friday, November 29, 2024

Thought for the Day - 29th November 2024 (Friday)

Good ideas have to be accepted and bad ones eschewed. Each idea has to be judged in the Supreme Court of Viveka (Wisdom). And the 'ruling’ has to be treated as inviolable. It is in this context that we have to remind ourselves of the prayer of Gandhiji, Sabko sanmati de Bhagawan - "O God, bestow right understanding on all”. Again, the individual born in the lake of society must swim and float in the calm waters, and joining the river of progress, merge in the ocean of grace. Man has to move from the stance of "I" to the position of "We”; this day, we see only the wild dance of ego-stricken individuals, who hate society and behave most unsocially. Water flows from a higher level to the lower levels. God's grace too is like that. It flows down to those who are bent with humility. So, give up the ego, overcome jealousy, and cultivate love. How can man be truly at peace with himself and with others, if he does not endeavour to win the grace of God? 


- Divine Discourse, Mar 30, 1973.

Discrimination must be observed in every aspect of daily living - in what you see, what you listen to, what you speak and what you consume.



Gagasan-gagasan yang baik harus diterima dan gagasan-gagasan yang buruk harus dihindari. Setiap gagasan harus diperiksa dalam pengadilan tertinggi yaitu Viveka (kebijaksanaan). Dan 'keputusan’ harus dijalankan sebagai sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat. Adalah dalam konteks ini dimana kita harus mengingatkan diri kita pada doa yang dilantunkan oleh Gandhiji, Sabko sanmati de Bhagawan - "O Tuhan, berkati semuanya dengan pemahaman yang benar”. Lagi sekali, individu lahir dalam danau yang disebut masyarakat harus berenang dan terapung di atas air yang tenang, serta bergabung dengan sungai kemajuan dan pada akhirnya menyatu dengan lautan karunia. Manusia harus bergerak dari pendirian "aku" menuju pada keadaan "kita”; pada hari ini, kita hanya melihat tarian liar dari ego yang menyerang setiap individu, yang membenci masyarakat dan berperilaku paling tidak sosial. Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah. Karunia Tuhan juga seperti itu. Karunai Tuhan mengalir pada mereka yang menunduk dengan kerendahan hati. Maka dari itu, lepaskan ego, atasi kecemburuan, dan pupuklah kasih. Bagaimana manusia bisa benar-benar damai dengan dirinya dan orang lain, jika dia tidak berusaha untuk mendapatkan karunia Tuhan? 


- Divine Discourse, 30 Maret 1973.

Kemampuan membedakan antara baik dan buruk harus diterapkan dalam setiap aspek hidup sehari-hari – dalam apa yang engkau lihat, dalam apa engkau dengarkan, dalam apa yang engkau katakan dan dalam apa yang engkau konsumsi.



Thursday, November 28, 2024

Thought for the Day - 28th November 2024 (Thursday)

A seed germinates and grows into a plant and then into a tree with branches, leaves, flowers, etc. The seed of the entire Universe is Chaitanya (Pure Consciousness). It is Sat-chit-ananda. It grows in full bloom in the human being and blossoms into the flower of Awareness. Thus God incarnates in man. To understand this truth is the goal of human life. It is the mind that stands in the way of this realisation. The mind is perverted when it is centred on the ego (body consciousness) of a person but when it is directed towards the Atma, it becomes sublime. One puffed up with ego forgets Divinity. Thinking on the physical plane and looking at the external world, man is not able to understand the Divinity within him. It is wrong to think that spirituality has nothing to do with worldly matters. The physical world also reflects Divinity. Because man forgets his true Divine nature he is wallowing in troubles and tribulations. He is reflecting only animal qualities in his actions. Only when one enquires within, one has the chance of realising Divinity. 


- Divine Discourse, Sep 19, 1993.

When man turns his vision inward he can experience eternal bliss. The source of bliss, the Spirit, is within himself.



Sebuah benih berkembang dan tumbuh menjadi sebuah tanaman dan kemudian menjadi sebuah pohon dengan cabang, daun, bunga, dsb. Benih seluruh alam semesta adalah Chaitanya (kesadaran yang murni). Ini adalah Sat-chit-ananda. Benih ini tumbuh mekar berkembang sepenuhnya dalam diri manusia dan mekar menjadi bunga kesadaran. Maka dari itu Tuhan berinkarnasi dalam wujud manusia. Dalam upaya dapat memahami kebenaran ini yang merupakan tujuan dari hidup manusia. Adalah pikiran yang berdiri menghalangi terjadinya kesadaran ini. Pikiran menjadi sesat ketika pikiran terpusat pada ego (kesadaran badan) seseorang, namun ketika pikiran diarahkan pada Atma maka pikiran menjadi luhur. Seseorang yang sombong dengan ego lupa pada keilahian. Memikirkan aspek badan jasmani dan memandang dunia di luar diri, manusia tidak mampu memahami keilahian yang ada di dalam dirinya. Merupakan salah dengan berpikir bahwa spiritual tidak ada hubungannya dengan urusan duniawi. Dunia fisik juga merupakan pantulan dari keilahian. Karena manusia lupa pada sifat keilahiannya yang sejati maka manusia terjerumus dalam masalah dan penderitaan. Manusia hanya memantulkan sifat-sifat binatang di dalam perbuatannya. Hanya ketika seseorang menyelidiki ke dalam dirinya, maka dia memiliki kesempatan untuk menyadari keilahian. 


- Divine Discourse, 19 Sep 1993.

Ketika manusia mengarahkan pandangannya ke dalam diri maka manusia dapat mengalami kebahagiaan yang kekal. Sumber dari kebahagiaan adalah Jiwa yang ada di dalam dirinya.



Tuesday, November 26, 2024

Thought for the Day - 26th November 2024 (Tuesday)

Peace embellishes every act; it softens the hardest core of humanity; it takes you to the footstool of the Lord and wins for you the vision of God. It knows no distinction; it is a force that establishes equality. It is the honey of love in the enchanting flower of life. It is a prime need for yogis and spiritual aspirants. Having acquired it, they can realise the reality tomorrow, if not today. They should put up with all the obstacles in the way, and peace will give them the strength needed for it. Through peace alone can devotion expand and spiritual wisdom (jnana) strike root. Wisdom born of peace is the one and only means of living a full life or a life that knows no death. The inquiry “Who am I?” clears the path for realization. So, one must wait patiently and quietly, placing faith on the grace and wisdom of the Lord. Such an inquirer will be ever earnest and penitent. The inquirer becomes fearless and therefore full of peace through another conviction also: the Lord is everywhere, visibly present. 


- Ch 5, Prasanthi Vahini

Always observe Purity, Patience, and Perseverance in life. It will make your life sacred.



Kedamaian menghiasi setiap perbuatan; kedamaian melembutkan bagian inti manusia yang paling keras; kedamaian membawamu pada tumpuan kaki Tuhan dan berhasil mendapatkan penglihatan Tuhan. Kedamaian tidak mengenal perbedaan; kedamaian adalah kekuatan yang membangun kesetaraan. Kedamaian adalah madu kasih dalam bunga hidup yang memikat. Kedamaian adalah kebutuhan utama dari para yogi dan peminat spiritual. Setelah mendapatkan kedamaian, mereka dapat menyadari kenyataan yang sejati keesokan harinya, jika tidak hari ini. Mereka harus menghadapi semua rintangan di jalan, dan kedamaian akan memberikan mereka kekuatan yang dibutuhkan untuk itu. Hanya melalui kedamaian maka bhakti dapat dikembangkan dan kebijaksanaan spiritual (jnana) dapat berakar. Kebijaksanaan yang lahir dari kedamaian adalah satu-satunya sarana untuk menjalani hidup yang sesungguhnya atau hidup yang tidak mengenal kematian. Penyelidikan dengan pertanyaan “Siapakah aku?” membuka jalan untuk kesadaran. Jadi, seseorang harus menunggu dengan sabar dan tenang, menempatkan keyakinan pada karunia dan kebijaksanaan Tuhan. Seorang peminat spiritual yang seperti itu selamanya akan selalu bersungguh-sungguh dan bertobat. Dia menjadi tidak takut dan karenanya dipenuhi dengan kedamaian melalui keyakinan yang lain juga: Tuhan ada dimana-mana, hadir secara nyata. 


- Ch 5, Prasanthi Vahini

Selalulah jaga kesucian, kesabaran dan ketekunan dalam hidup. Hal ini akan membuat hidupmu suci.



Monday, November 25, 2024

Thought for the Day - 25th November 2024 (Monday)

Spiritual learning impels one to pour one’s narrow ego into the sacrificial fire and foster in its place universal love, which is the foundational base for the superstructure of spiritual victory. Love that knows no limits, purifies and sanctifies the mind. Let thoughts centre around God, let the feelings and emotions be holy, let activities be the expression of selfless service. Let the mind, heart, and hand be thus saturated in good. Spiritual education must take up this task of sublimation. It must first instil the secret of service. Service rendered to another must confer full joy in all ways. Spiritual education must emphasise that in the name of service, no harm, pain, or grief should be inflicted on another. While rendering service, the attitude of it being done for one’s own satisfaction should not tarnish it. Service must be rendered as an essential part of the process of living itself. This is the real core of spiritual education. 


- Ch 8, Vidya Vahini

When you develop love, it will gradually get transformed into wisdom.



Pembelajaran spiritual mendorong seseorang untuk menuangkan egoismenya yang bersifat sempit ke dalam api korban suci dan menumbuhkan kasih universal sebagai gantinya, yang mana merupakan pondasi mendasar bagi bangunan keberhasilan spiritual. Kasih yang tidak terbatas, memurnikan dan menyucikan pikiran. Arahkan pikiran berpusat pada Tuhan, arahkan perasaan dan emosi menjadi suci, arahkan perbuatan diungkapkan dalam pelayanan tanpa pamrih. Jadikan pikiran, hati dan tangan disucikan dalam kebaikan. Pendidikan spiritual harus mengambil tugas dalam pemurnian ini. Pendidikan spiritual pertama-tama harus menanamkan rahasia pelayanan. Pelayanan yang diberikan kepada orang lain harus memberikan suka cita penuh dalam segala cara. Pendidikan spiritual harus menekankan bahwa atas nama pelayanan, maka tidak boleh ada bentuk menyakiti, penderitaan atau kesedihan yang ditimpakan pada orang lain. Pada saat melakukan pelayanan, sikap bahwa pelayanan dilakukan untuk pepuasan diri sendiri tidak boleh menodainya. Pelayanan harus dilakukan sebagai bagian penting dalam dari proses kehidupan itu sendiri. Ini adalah inti sesungguhnya dari Pendidikan spiritual. 


- Ch 8, Vidya Vahini

Ketika engkau mengembangkan kasih, maka kasih itu secara teratur dan bertahap akan berubah menjadi kebijaksanaan.



Saturday, November 23, 2024

Thought for the Day - 23rd November 2024 (Saturday)

The divine power has neither birth nor death. I do not feel elated when praised or depressed when blamed. I treat these dualities of life with equanimity. I am happy both in pleasure and pain. There is only love in Me. My love lives by giving, giving and giving. It never receives. This is the difference between My love and worldly love which believes in receiving alone. That is why My love is ever-expanding. A small seed becomes a gigantic tree with many branches and fruits. All of them have their origin in the seed. Likewise out of love has emerged the creation. Love is God, live in love. Develop love. Love everyone wholeheartedly. Only when love is manifested will you attain self-realisation. In the first instance, develop self-confidence. Self-confidence is the foundation. Self-satisfaction is the wall. Self-sacrifice is the roof. Self-realisation is the mansion (of life). Everything is contained in the Self (Atma). With this Atmic Principle, acquire spiritual knowledge. The power in spirituality is limitless. The Power of Love far exceeds the power of the atom bomb. It transforms even those who hate. Develop such sacred love. 


- Divine Discourse, Nov 23, 1998.

You can be happy that you have given Swami a proper Birthday gift only when you love your fellowmen, share their sufferings, and engage yourselves in serving them.



Kekuatan Tuhan tidak memliki kelahiran ataupun kematian. Aku tidak merasa gembira ketika dipuji atau tertekan ketika dicela. Aku memperlakukan dualitas hidup ini dengan ketenangan hati. Aku bahagia dalam suka dan duka. Hanya ada kasih di dalam diri-Ku. Kasih-Ku hadir dengan memberi, memberi dan memberi. Kasih-Ku tidak pernah ada untuk menerima. Ini adalah perbedaan diantara kasih-Ku dan kasih duniawi yang hadir hanya untuk menerima. Itulah sebabnya mengapa kasih-Ku selalu berkembang. Sebuah benih yang kecil menjadi sebuah pohon yang sangat besar dengan banyak cabang dan buahnya. Semua bagian itu berasal dari benih yang ditanam. Sama halnya karena kasih maka ciptaan itu diciptakan. Kasih adalah Tuhan, hiduplah dalam kasih. Kembangkan kasih. Kasihi setiap orang dengan sepenuh hati. Hanya ketika kasih diwujudkan maka engkau akan mencapai kesadaran pada diri sejati. Pertama-tama kembangkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri adalah sebagai pondasi. Kepuasan diri adalah sebagai dindingnya. Pengorbanan diri adalah sebagai atapnya. Kesadaran pada diri sejati adalah bangunan kehidupan. Segala sesuatu terkandung di dalam diri sejati _(Atma)_. Dengan prinsip _Atma_ ini, dapatkanlah pengetahuan spiritual. Kekuatan dalam spiritual adalah tidak terbatas. Kekuatan kasih jauh melampaui kekuatan dari bom atom sekalipun. Kekuatan kasih ini merubah bahkan mereka yang membenci. Pupuk dan kembangkanlah kasih suci yang seperti itu. 


- Divine Discourse, 23 November 1998.

Engkau bisa bahagia saat memberikan Swami hadiah yang tepat yaitu hanya ketika engkau mengasihi sesamamu, berbagi penderitaan mereka, dan melibatkan dirimu dalam melayani mereka.



Friday, November 22, 2024

Thought for the Day - 22nd November 2024 (Friday)

Education today ends with the acquisition of degrees. Real education should enable one to utilise the knowledge one has acquired to meet the challenges of life and to make all human beings happy as far as possible. Born in society, one has the duty to work for the welfare and progress of society. The knowledge gained from education is being misused today solely to obtain and enjoy creature comforts and sensuous pleasures. This education has served to develop some kind of intellectual abilities and technical skills, but has totally failed to develop good qualities. Society today is steeped in materialism because of the preoccupation with mundane pleasures. Only in the institute here, one can witness the emphasis on the divinity inherent in man. In the olden days, when the pupils completed their educational tenure in the ashram of the guru and were about to enter the life of a grihastha (householder), the preceptor gave them a parting message to serve them as guidelines for their worldly and spiritual good. That ceremony is observed today as a Convocation. 


- Divine Discourse, Nov 22, 1987.

Humility, reverence, compassion, forbearance, sacrifice and self-control are the qualities which reveal the outcome of true education.



Pendidikan pada saat sekarang berakhir dengan pengumpulan gelar sarjana. Pendidikan sejati harus memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan pengetahuan yang seseorang dapatkan dalam menghadapi tantangan hidup dan membuat seluruh manusia bahagia sejauh mungkin. Lahir dalam masyarakat, seseorang memiliki kewajiban untuk bekerja bagi kesejahtraan dan kemajuan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan sekarang disalahgunakan hanya semata-mata untuk mendapatkan dan menikmati kenyamanan dan kesenangan sensual. Jenis Pendidikan ini telah berfungsi dalam mengembangkan beberapa jenis Kemahiran intelektual dan ketrampilan teknis, namun sepenuhnya gagal dalam mengembangkan sifat-sifat baik. Masyarakat pada saat sekarang terjerumus dalam materialisme karena karena tenggelam dalam kesenangan duniawi. Hanya dalam institusi pendidikan di sini, seseorang dapat menyaksikan penekanan pada kualitas keilahian yang melekat pada manusia. Pendidikan jaman dahulu, ketika para pelajar menyelesaikan masa belajar mereka di ashram dari guru dan memasuki kehidupan berumah tangga _(grihastha)_, maka sang guru akan memberikan mereka pesan-pesan perpisahan untuk dijadikan sebagai pedoman bagi kebaikan duniawi dan spiritual mereka. Upacara itu saat sekarang disebut dengan upacara wisuda. 


- Divine Discourse, 22 November 1987.

Kerendahan hati, rasa hormat, welas asih, ketabahan, pengorbanan dan pengendalian diri adalah sifat-sifat yang mengungkapkan hasil dari Pendidikan sejati.

Thursday, November 21, 2024

Thought for the Day - 21st November 2024 (Thursday)

What exactly is the secret of ensuring peace and prosperity for mankind? Rendering service to others without expecting service from them in return. Activity (karma) that binds is a huge fast-growing tree. The axe that can cut its roots is this: Do every act as an act of worship to glorify the Lord. This is the real sacrifice (yajna), the most important ritual. This sacrifice promotes and confers knowledge of Brahman (Brahma-vidya). Note that the yearning to do selfless service must flow in every nerve of the body, penetrate every bone and activate every cell. Those who engage themselves in spiritual discipline (sadhana) must have mastered this attitude toward service. Selfless service is the blossom of love, a flower that fills the mind with rapture. Harmlessness is the fragrance of that flower. Let even your little acts be redolent with compassion and reverence; be assured that your character would thereby shine greatly. 


- Ch 8, Vidya Vahini

All actions which are performed with the feeling that they are intended as offerings to please the Divine, do not lead to bondage.



Apa sejatinya rahasia untuk memastikan kedamaian dan kesejahtraan bagi umat manusia? Memberikan pelayanan pada yang lain tanpa mengharapkan pelayanan kembali dari mereka yang dilayani. Tindakan (karma) yang mengikat adalah sebuah pohon besar yang sedang tumbuh. Kapak yang dapat memotong akarnya adalah: lakukan setiap perbuatan sebagai ibadah untuk memuliakan Tuhan. Ini adalah pengorbanan yang sejati (yajna), sebuah ritual yang paling penting. Pengorbanan mengembangkan dan menganugerahkan pengetahuan tentang Brahman (Brahma-vidya). Catatlah bahwa kerinduan untuk melakukan pelayanan tanpa pamrih harus mengalir dalam setiap syaraf tubuh, merasuki setiap tulang dan mengaktifkan setiap sel. Mereka yang melibatkan diri mereka dalam disiplin spiritual (sadhana) harus sudah menguasai sikap terkait pelayanan. Pelayanan tanpa pamrih adalah mekarnya kasih, sebuah bunga yang mengisi pikiran dengan kegembiraan. Tidak menyakiti adalah wangi dari bunga tersebut. Biarkan tindakan-tindakanmu sekecil apapun dipenuhi dengan welas asih dan penghormatan; yakinlah bahwa karaktermu akan bersinar dengan cemerlang. 


- Ch 8, Vidya Vahini

Semua tindakan yang dilakukan dengan perasaan bahwa tindakan tersebut dimaksudkan sebagai persembahan untuk menyenangkan Tuhan, tidak mengarah pada perbudakan.

Wednesday, November 20, 2024

Thought for the Day - 20th November 2024 (Wednesday)

Work done with no concern or desire for profit, purely out of love or from a sense of duty, is yoga. Such yoga destroys one’s animal nature and transforms one into a divine being. Serving others, visualising them as kindred beings will help one to progress; it will save one from sliding down from the spiritual stage attained. Selfless service (seva) is far more salutary than even vows and worship (puja). Service disintegrates the selfishness latent in you; it opens the heart wide; it makes the heart blossom. So, work done with no desire is the supreme ideal; and when the mansion of life is built on that foundation, through the subtle influence of this basis of selfless service, virtues will gather unto him. Service must be the outer expression of inner goodness. And, as one undertakes selfless service more and more, one’s consciousness expands and deepens and one’s Atmic reality is more clearly known. 


- Ch 8, Vidya Vahini

When you go on performing your duty and enjoying what you do, that itself will confer bliss on you.



Pekerjaan yang dilakukan tanpa memikirkan atau menginginkan keuntungan, murni muncul dari kasih atau nilai dari kewajiban, adalah yoga. Yoga menghancurkan sifat binatang dalam diri seseorang dan merubah seseorang menjadi makhluk ilahi. Melayani yang lainnya, membayangkan mereka yang dilayani sebagai saudara akan membantu seseorang untuk maju; hal ini akan menyelamatkan seseorang tergelincir dari tahapan spiritual yang telah dicapai. Pelayanan tanpa pamrih (seva) adalah jauh lebih bermanfaat bahkan daripada tirakat dan pemujaan (puja). Pelayanan menghancurkan sifat mementingkan diri sendiri yang tersembunyi di dalam dirimu; pelayanan memperluas hati; dan membuat hati mekar. Jadi, kerja yang dilakukan tanpa adanya keinginan adalah ideal yang tertinggi; dan ketika rumah kehidupan dibangun dengan pondasi ini, melalui pengaruh halus dari dasar pelayanan yang tanpa pamrih ini, kemualiaan akan berkumpul pada dirinya. Pelayanan harus menjadi ungkapan keluar dari kebaikan yang ada di dalam diri. Dan, saat seseorang melakukan pelayanan tanpa pamrih lebih dan lebih lagi, maka kesadaran di dalam dirinya akan meluas dan mendalam serta kenyataan Atma akan lebih jelas dipahami. 


- Ch 8, Vidya Vahini

Ketika engkau menjalankan kewajibanmu dan menikmati apa yang engkau lakukan, hal itu sendiri akan memberikan kebahagiaan padamu.

Tuesday, November 19, 2024

Thought for the Day - 19th November 2024 (Tuesday)

From ancient times the feminine aspect of the Divine has been worshipped in various ways. Vedas declare that where women are honoured and esteemed, there Divinity is present with all its potency. Unfortunately, today men consider it demeaning to honour women. This is utterly wrong and is a sign of ignorance. Stree (Woman) is Grihalakshmi (Goddess of Prosperity for the home). She is hailed as dharma-patni (the virtuous spouse). She is called illalu (mistress of the house) and ardhangi (better half). People gloat over petty titles conferred on them. But women have been conferred the highest titles which are valid for all time. A home without a woman is a jungle. Men should realise the high status of women and honour and respect them accordingly. They should not make women weep and shed tears. A home where the woman sheds tears will be ruined. Men should give an honourable place for women and lead a respectable life. 


- Divine Discourse, Nov 19, 1995.

It is entirely due to the presence of virtuous women that Bharat remained safe and secure. Bharat owes its greatness and glory to its women.



Dari zaman dahulu aspek feminim dari Tuhan telah dipuja dalam berbagai bentuk. Weda menyatakan bahwa dimana perempuan dihormati dan dihargai, maka disana keilahian hadir dengan segala potensi-Nya. Namun sangat disayangkan, hari ini laki-laki menganggap bahwa menghormati perempuan adalah merendahkan martabat. Hal ini adalah benar-benar salah dan sebagai bukti dari kebodohan. Stree (perempuan) adalah Grihalakshmi (Dewi dari kesejahtraan di rumah). Perempuan dimuliakan sebagai dharma-patni (pasangan yang berbudi luhur). Perempuan juga disebut dengan nama illalu (Nyonya rumah) dan juga disebut dengan ardhangi (belahan hati). Orang-orang bersorak gembira atas gelar remeh yang diberikan pada mereka. Namun Perempuan telah diberikan gelar tertinggi yang mana berlaku sepanjang masa. Sebuah rumah tanpa adanya seorang perempuan adalah sebuah hutan. Laki-laki harus menyadari tingginya status perempuan dan menghormati serta menghargai mereka sebagaimana mestinya. Laki-laki seharusnya tidak membuat perempuan menangis dan meneteskan air mata. Sebuah rumah dimana perempuan menangis akan menjadi hancur. Laki-laki harus memberikan sebuah tempat terhormat bagi perempuan dan menjalani hidup yang terhormat. 


- Divine Discourse, 19 November 1995.

Semuanya ini berkat kehadiran perempuan yang berbudi luhur maka Bharat masih tetap aman dan terlindungi. Bharat berhutang kebesaran dan kemuliannya pada para perempuannya.

Monday, November 18, 2024

Thought for the Day - 18th November 2024 (Monday)

It is only when we look upon the universe as permeated by God that we acquire the strength to fight the forces of evil. Many persons who engage themselves in prayers and pilgrimages for years wonder why they have not been able to realise God. It is unnecessary to go around the world searching for God. God is in search of the genuine devotee. The devotee who is conscious of the omnipresence of God will find Him everywhere. He must have the firm conviction that there is no place where God is not present. That is the real mark of devotion. Meditation and prayer have value as means of purifying oneself. But they do not lead to God-realisation. Unwavering faith in God grants inexpressible Bliss. One should not give way to doubts which undermine faith. 


- Divine Discourse, Dec 25, 1986

We are unable to discern Divinity although it shines with the brilliance of a million Suns! We must open the eyes of faith and devotion - these are the eyes of wisdom, which see beyond physical eyes.



Hanya ketika kita memandang alam semesta yang diresapi oleh Tuhan maka kita mendapatkan energi untuk melawan kekuatan jahat. Banyak orang yang melibatkan diri mereka dalam doa dan perjalanan suci selama bertahun-tahun bertanya-tanya mengapa mereka belum mampu menyadari Tuhan. Adalah tidak perlu untuk berkeliling dunia untuk mencari Tuhan. Malahan Tuhan sedang mencari bhakta yang sejati. Bhakta yang menyadari kehadiran Tuhan dimana-mana akan menemukan Tuhan dimana saja. Manusia harus memiliki keyakinan yang teguh bahwa tidak ada tempat dimana Tuhan tidak ada. Itu adalah tanda dari bhakti. Meditasi dan berdoa memiliki nilai sebagai sarana untuk memurnikan diri. Namun keduanya itu tidak mengarah pada kesadaran Tuhan. Keyakinan yang tidak tergoyahkan pada Tuhan menganugerahkan kebahagiaan. Seseorang seharusnya tidak mengalah pada keraguan yang mana merusak keyakinan. 


- Divine Discourse, 25 Desember 1986

Kita tidak mampu untuk memahami keilahian walaupun keilahian bersinar dengan cemerlang seperti jutaan matahari! Kita harus membuka mata keyakinan dan bhakti – keduanya ini adalah mata kebijaksanaan yang melihat melampaui mata fisik.



Friday, November 15, 2024

Thought for the Day - 15th November 2024 (Friday)

The power of Love is infinite. It can conquer anything. Once while Lord Buddha was journeying, he was confronted by a demoness who threatened to kill him. Smilingly, Buddha said: "You are not a demon; you are a deity! I love you even if you behave like a demon." Hearing these loving words, the demoness turned into a dove and flew away. Love can change the heart of even an inveterate enemy. It is this kind of Universal love that should be cultivated by everyone. There are people professing different faiths in the world - Christians, Muslims, Hindus, Zoroastrians, etc. There should be no difference or distrust among them, for all of them uphold Truth and Dharma. It was to promote unity among people of different faiths that Guru Nanak started community bhajans which generate vibrations of harmony and peace. Today, the world is bedevilled by conflict and violence. Peace and prosperity can emerge only when people turn to the path of love and morality, and lead purposeful lives. 


- Divine Discourse, Dec 25, 1986

Just as the son is the rightful heir to the father’s property, man has equal claim to God’s property of love, truth, forbearance, peace, and empathy.



Kekuatan kasih adalah tidak terbatas. Kasih dapat menaklukkan apapun juga. Suatu hari Sang Buddha sedang dalam perjalanan, Beliau dihadang oleh seorang iblis Perempuan yang mengancam akan membunuh-Nya. Dengan tersenyum sang Buddha berkata: "engkau bukanlah iblis; engkau adalah makhluk surgawi! Aku menyayangimu walaupun engkau bertingkah laku seperti iblis." Mendengar kata-kata penuh kasih ini, iblis itu berubah menjadi seekor merpati dan terbang jauh. Kasih dapat merubah hati bahkan musuh bebuyutan. Adalah kasih universal jenis ini yang seharusnya dipupuk oleh setiap orang. Di dunia ini ada orang-orang yang memiliki keyakinan yang berbeda – Kristen, Muslim, Hindu, Zoroaster, dsb. Seharusnya tidak boleh ada perbedaan atau rasa curiga diantara pemeluk keyakinan yang berbeda ini, karena semua diantara mereka memegang teguh kebenaran dan Dharma. Adalah untuk memupuk persatuan diantara para pemeluk keyakinan yang berbeda ini dimana Guru Nanak mulai komunitas bhajan yang menghasilkan getaran keharmonisan dan kedamaian. Hari ini, dunia diganggu dengan konflik dan kekerasan. Kedamaian dan kesejahtraan hanya dapat terjadi ketika orang-orang mengarah pada jalan kasih dan moralitas, dan menuntun pada kehidupan yang penuh tujuan. 


- Divine Discourse, 25 Desember 1986

Seperti halnya seorang anak yang berhak atas kekayaan ayahnya, manusia memiliki klaim yang sama untuk kekayaan Tuhan berupa : kasih, kebenaran, ketabahan, kedamaian dan empati.



Thursday, November 14, 2024

Thought for the Day - 14th November 2024 (Thursday)

The hearts of young pupils must be filled by you with noble yearning, so that they may be shaped into strong and sturdy instruments for raising India of the future to the glory which is her right. Gurus (teachers/preceptors) have to be examples which can inspire the pupils. They must practise what they preach. As the teacher, so the pupil. When the tap is turned, water flows down from the overhead tank. The quality of the tap water is the same as that of the water in the tank. When the heart of the Guru is full of goodness, selflessness, and love, pupils will express these virtues in every act of theirs. There are, it is said, more than 5000 Bala Vikas Gurus. If each one corrects and improves a hundred children, the nation would indeed be transformed. You must examine what has been attained since Bala Vikas came into being. This study must be done constantly. When Guru cultivates satwic (pure) nature, the students will grow into embodiments of pure nature. Guru should be alert so that the weeds of hatred, envy and similar vices do not take root in their own heart. 


- Divine Discourse, Nov 20, 1979.

The parents first and foremost, the teachers next, the comrades, playmates and companions next, and the various levels of society later - these shape the character of the children, and the destiny of the country.



Engkau harus mengisi hati dari anak-anak dengan kerinduan yang luhur, sehingga mereka dapat dibentuk menjadi pribadi yang kuat dan kokoh untuk membawa masa depan bangsanya menuju pada kemuliaan yang menjadi hak bangsa. Para Guru harus menjadi teladan yang mana menginspirasi anak-anak didik. Mereka harus menjalankan apa yang mereka katakan. Sebagaimana gurunya maka begitulah muridnya. Ketika keran dibuka maka air mengalir turun dari tangki atas. Kualitas air keran sama dengan kualitas air yang ada dalam tangki. Ketika hati guru penuh dengan kebaikan, tidak mementingkan diri sendiri, dan kasih, maka anak anak didik akan mengungkapkan nilai kebaikan itu dalam setiap tindakan mereka. Telah disebutkan terdapat lebih dari 5000 guru Bala Vikas. Jika setiap orang guru memperbaiki dan memupuk seratus anak-anak, maka bangsa akan benar-benar berubah. Engkau harus memeriksa apa yang telah dicapai sejak Bala Vikas hadir. Kajian ini harus terus menerus dilakukan. Ketika Guru memupuk sifat yang murni (satwik), anak-anak didik akan tumbuh menjadi perwujudan sifat murni. Guru harus menjadi waspada agar gulma berupa kebencian, iri hati dan sifat jahat lainnya tidak mengakar di dalam hati mereka. 


- Divine Discourse, 20 November 1979.

Pertama dan utama adalah orang tua, selanjutnya adalah guru, kawan, teman bermain dan sahabat adalah berikutnya, dan kemudian berbagai lapisan masyarakat – semuanya ini membentuk karakter anak-anak, dan takdir dari sebuah bangsa.



Wednesday, November 13, 2024

Thought for the Day - 13th November 2024 (Wednesday)

Do not, like some mental patients, be always worrying about some little ailment or another. Have courage, that is the best tonic. Do not give up before you have to. It is not long life that counts; if you live on and on, a time may come when you have to pray to the Lord to take you away, to release you from travail. You may even start blaming Him for ignoring you and blessing other luckier people with death! By all means, be concerned about success or failure in achieving the real purpose of life. Then you will get as many years as are needed to fulfill that desire. Yearn, yearn, yearn hard, and success is yours. Remember, you are all certain to win; that is why you have been called and have responded to the call to come to Me. What other task have I than the showering of Grace? Treat Me not as one afar but as very close to you. Insist, demand, claim Grace from Me; do not praise, extol, and cringe. Bring your hearts to Me and win My Heart. Not one of you is a stranger to Me. Bring your promises to Me and I shall give you My Promise. But first see that your promise is genuine and sincere; see that your heart is pure; that is enough. 


- Divine Discourse, Oct 10, 1961.

God is ever beside man, within him as Conscience, without him as Companion and Guide.



Janganlah seperti beberapa pasien dengan gangguan jiwa, yang selalu cemas dengan beberapa penyakit kecil atau yang lainnya. Miliki keberanian karena itu adalah obat penguat yang terbaik. Jangan menyerah sebelum engkau harus melakukannya. Bukan umur panjang yang penting; jika engkau hidup terus dan lama, pada waktunya nanti engkau harus berdoa memohon pada Tuhan agar mengambilmu untuk melepaskanmu dari penderitaan. Engkau bahkan mulai untuk menyalahkan Tuhan karena mengabaikanmu dan memberkati mereka yang beruntung dengan kematian! Dengan cara apapun, miliki perhatian pada keberhasilan atau kegagalan dalam mencapai tujuan hidup yang sejati. Kemudian engkau akan mendapatkan waktu sebanyak yang dibutuhkan untuk memenuhi keinginan itu. Rindukan, rindukan, rindukan dengan sungguh-sungguh maka keberhasilan adalah milikmu. Ingatlah, engkau pastinya akan berhasil; itulah sebabnya mengapa engkau telah dipanggil dan telah menanggapi panggilan untuk datang pada-Ku. Tugas apa lagi yang Aku miliki selain mencurahkan Rahmat? Jangan perlakukan Aku sebagai seseorang yang jauh namun sebagai seseorang yang sangat dekat denganmu. Bersikeras, tuntut, klaim Rahmat dari-Ku; jangan memuji, meninggikan derajat, dan merendahkan diri. Bawalah hatimu pada-Ku dan dapatkan hati-Ku. Tidak ada seorangpun darimu yang asing bagi-Ku. Bawalah janjimu pada-Ku dan Aku akan memberikanmu janji-Ku. Namun, pertama-tama pastikan bahwa janji-janjimu adalah sejati dan tulus; pastikan bahwa hatimu adalah murni; itu adalah cukup. 


- Divine Discourse, 10 Oktober 1961.

Tuhan selalu ada disamping manusia, dalam diri manusia sebagai Nurani, diluar diri manusia sebagai sahabat dan pembimbing.

Tuesday, November 12, 2024

Thought for the Day - 12th November 2024 (Tuesday)

Merely chanting mantras or repeating God’s Name is of no use. We must engage ourselves in God’s work, as I have told you a number of times. Hanuman reached Lanka and befriended Vibhishana. During their conversation, Vibhishana expressed grief, “Hanumanta, you are fortunate, indeed. You are ceaselessly engaged in service to Rama, thereby worthy of His Grace. I’ve been repeating the Name of Rama for many years now, but I haven’t secured His darshan yet.” Hanuman asked him beautiful questions, “Vibhishana, you chant Rama’s name, but are you involved in Rama’s work? Without working for Rama, how can you expect Grace? It has been many weeks since Sita Devi was brought captive to Lanka. Isn’t service to Sita a valuable service to Rama? Have you ever gone to the Ashoka grove and consoled her? Have you even met her once? Have you familiarised yourself with her troubles and taken steps to provide her with conveniences? My every roma (hair) says Rama! But I did not stop there. I offered my life to Rama. I am engaged in actions dear to Him, day and night.” Therefore, the lesson is: The name of Rama in the heart, the work of Rama in the hand (Dil me Ram, hat me kam). This is the way to offer our lives to the Lord. 


- Divine Discourse, May 21, 1991.

Both, the chanting of God's name and rendering of service should be done with a love-filled heart.


Hanya dengan melantunkan mantra atau mengulang-ulang nama suci Tuhan adalah tidak ada gunanya. Kita harus melibatkan diri dalam kerja Tuhan, seperti yang Aku sampaikan kepadamu berulang kali. Hanuman mencapai Lanka dan berteman dengan Vibhishana. Dalam percakapan mereka, Vibhishana mengungkapkan kesedihannya, “Hanumanta, engkau begitu beruntung. Engkau tidak henti-hentinya melakukan pelayanan pada Sri Rama, karenanya engkau layak untuk Rahmat dari Sri Rama. Aku telah mengulang-ulang nama suci Sri Rama selama bertahun-tahun, namun aku belum mendapatkan darshan Sri Rama.” Hanuman menanyakan Vibhisana dengan pertanyaan yang indah, “Vibhishana, engkau melantunkan nama suci Sri Rama, namun apakah engkau terlibat dalam misi dari Sri Rama? Tanpa ikut terlibat dalam kerja untuk Rama, bagaimana bisa engkau mengharapkan Rahmat-Nya? Sudah berminggu-minggu sejak Dewi Sita ditahan di Lanka. Bukankah pelayanan kepada Dewi Sita adalah sama bernilainya dengan pelayanan kepada Sri Rama? Pernahkah engkau pergi ke hutan Ashoka dan menghibur Dewi Sita? Pernahkah engkau bertemu dengannya sekali? Pernahkah engkau memahami kesulitannya dan mengambil langkah-langkah untuk memberikannya kemudahan? Dalam setiap buluku (roma) melantunkan nama Rama! Namun aku tidak berhenti disana. Aku mempersembahkan hidupku pada Sri Rama. Aku melibatkan diriku pada perbuatan yang disenangi oleh Sri Rama, siang dan malam.” Maka dari itu, hikmahnya adalah: Nama suci Sri Rama ada di dalam hati, kerja untuk Sri Rama dilakukan dengan tangan (Dil me Ram, hat me kam). Ini adalah jalan terbaik untuk mempersembahkan hidup kita pada Tuhan. 


- Divine Discourse, 21 Mei 1991.

Keduanya, yaitu melantunkan nama suci Tuhan dan memberikan pelayanan harus dilakukan dengan hati diliputi kasih.



Monday, November 11, 2024

Thought for the Day - 11th November 2024 (Monday)

How can a person who cannot himself swim, teach others the art? How can one whose granary is empty pour out in charity? Acquire the wealth of devotion, fortitude and peace before venturing to advise others how to acquire them. Bharat (India) has suffered slights and disregard as a result of a spate of teachers who have not cared to practise what they teach. I know you have the enthusiasm to carry My message among the people of this country and other countries. Let Me remind you that the best and the only successful way in which you can do it is to translate the message into your own lives. Your thoughts, words and deeds must be saturated with the message. Then, they will spread effortlessly and efficiently, and the face of the world will be transformed. You are officers of the Sai Army. How can you lead soldiers into the fray when you are not aware of the intricacies of warfare, when you are yourselves inefficient instruments? You can attempt to lead others only after practising the disciplines to perfection. This is true of all fields of human activity. Ananda (bliss) and Prashanti (supreme peace) have to be acquired first by you and then can be communicated to others.


- Divine Discourse, May 17, 1968

You can declare that your life is Swami’s message only when you take to the path of truth and righteousness, install peace and love in your heart, and uphold nonviolence.



Bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa berenang mengajarkan orang lain seni berenang? Bagaimana bisa seseorang yang lumbung padinya kosong dapat memberikan sedekah? Dapatkanlah kekayaan berupa bhakti, ketabahan dan kedamaian sebelum mulai untuk menasehati orang lain tentang cara memiliki kekayaan itu. Bharat (India) telah menderita karena penghinaan dan pengabaian sebagai akibat dari banyaknya guru yang tidak memiliki kepedulian untuk menjalankan apa yang mereka ajarkan. Aku tahu bahwa engkau memiliki semangat untuk menjalankan pesan-Ku bagi masyarakat di negerimu dan juga di negara lain. Aku ingin mengingatkanmu bahwa satu-satunya jalan yang terbaik dan berhasil untuk melakukannya adalah dimana engkau menerjemahkan pesan itu ke dalam hidupmu sendiri. Pikiran, perkataan dan perbuatanmu harus diliputi dengan pesan-pesan-Ku. Baru kemudian, pesan-pesan-Ku dapat menyebar dengan mudah dan efisien, dan wajah dunia akan berubah. Engkau adalah petugas dari bala pasukan Sai. Bagaimana engkau dapat memimpin pasukan ke medan pertempuran ketika engkau tidak mengetahui seluk beluk peperangan, ketika dirimu sendiri adalah sebagai alat yang tidak efisisen? Engkau dapat berusaha untuk memimpin yang lain hanya ketika engkau telah menjalankan disiplin hingga mencapai sempurna. Hal ini berlaku dalam semua bidang aktifitas manusia. Ananda (kebahagiaan) dan Prashanti (kedamaian tertinggi) harus engkau peroleh terlebih dahulu dan baru kemudian engkau dapat menyampaikannya kepada yang lain. 


- Divine Discourse, 17 Mei 1968

Engkau dapat menyatakan bahwa hidupmu adalah pesan Swami hanya ketika engkau menempuh jalan kebenaran dan kebajikan, menanamkan kedamaian dan kasih di dalam hatimu, dan menjunjung tinggi tanpa kekerasan.

Sunday, November 10, 2024

Thought for the Day - 10th November 2024 (Sunday)

The word Nama has great significance numerologically. ‘Na’ is equal to zero. ‘A’ is equal to two and ‘Ma’ equals five, the total being seven, indicating that the Nama Sankirtanam needs seven elements for success: Shruti, Laya, Raga, Tala, Bhava, Prema, Samhita. Seven cannotes the seven swaras, the seven sages, the seven days of the week known as the sacred Saptaha. Sankirtanam must be done with emphasis on tone, timing, tune, rhythm, attitude, love, and the attainment of the highest good. It is not singing for singing's sake. The melody must emerge from the heart, must be saturated with genuine feeling, should be soaked in love, and must make you forget yourself, then it is a tapas or penance. Sankirtanam of such kind will save not just the individual, but will save the entire world. Embodiments of love! Even if you are unable to do meditation, recitation, yoga, or yajna, engage yourself in singing the Name of God. From a simple person (pamara) to an awakened one (Paramahamsa), Namasankirtana can be taken up.


- Divine Discourse, Jan 26, 1982

Know that the Divine Name is the key to success in your search for consolation, confidence, courage, illumination and liberation.



Kata Nama memiliki makna yang begitu besar secara numerologi. ‘Na’ adalah sama dengan nol. ‘A’ adalah sama dengan dua dan ‘Ma’ sama dengan lima, keseluruhan jumlahnya adalah tujuh, yang menunjukkan bahwa Nama Sankirtanammmembutuhkan tujuh unsur untuk berhasil yaitu: Shruti, Laya, Raga, Tala, Bhava, Prema, Samhita. Angka tujuh bermakna kontekstual adalah tujuh swara, tujuh Rsi, tujuh hari dalam seminggu yang dikenal dengan Saptaha yang suci. Sankirtanam harus dilakukan dengan menekankan pada nada, waktu, ketukan, irama, sikap, kasih dan pencapaian kebaikan tertinggi. Ini bukanlah bernyanyi yang menjadi tujuan dalam lantunan kidung suci ini. Melodi harus muncul dari dalam hati, harus diresapi dengan perasaan yang tulus, harus diliputi dengan kasih, dan harus membuatmu lupa pada dirimu sendiri, baru kemudian ini disebut sebagai sebuah tapa atau penebusan dosa. Sankirtanam yang seperti itu tidak hanya menyelamatkan seseorang, namun akan menyelamatkan seluruh dunia. Perwujudan kasih! Bahkan jika engkau tidak mampu untuk melakukan meditasi, japa, yoga, atau yajna, maka libatkan dirimu dalam melantunkan nama suci Tuhan. Dari seorang yang sederhana (pamara) menjadi seorang yang tercerahkan (Paramahamsa), Namasankirtana dapat melakukannya.


- Divine Discourse, 26 Januari 1982

Ketahuilah bahwa nama suci Tuhan adalah kunci sukses dalam pencarianmu pada penghiburan, kepercayaan diri, keberanian, pencerahan dan pembebasan.



Friday, November 8, 2024

Thought for the Day - 8th November 2024 (Friday)

Man's duty is to sanctify his days and nights with the unbroken smarana (recollection) of the Name. Recollect with joy, with yearning. If you do so, God is bound to appear before you in the form and with the name you have allotted Him, as most beautiful and most appropriate! God is all Names and all forms, the integration of all these in harmonious charm! Gods designated in different faiths, adored by different human communities, are all limbs of the One God that really is. Just as the body is the harmonious blending of the senses and the limbs, God is the harmony of all the forms and names that man gives Him! Only those who are ignorant of the Glory of God will insist on one Name and one Form for His adoration and what is worse, condemn the use by others of other names and forms! Since you are all associated with Sathya Sai Organisations, I must warn you against such silly obduracy. Do not go about proclaiming that you are a sect distinct and separate from those who adore God in other forms and names. Thereby you are limiting the very God whom you are extolling.


- Divine Discourse, May 17, 1968

Men may be different in form, name and colour and their country and historical circumstances may vary. But God has no such differences.



Kewajiban manusia adalah untuk menyucikan hari-harinya dengan tanpa putus menjalankan smarana (mengingat) nama suci Tuhan. Ingatlah nama-Nya dengan suka cita dan kerinduan. Jika engkau melakukannya seperti ini maka Tuhan terikat untuk hadir di hadapanmu dalam wujud dan nama yang engkau berikan pada-Nya, sebagai yang paling indah dan paling sesuai! Tuhan adalah semua nama dan semua wujud, perpaduan dari semuanya dalam daya tarik yang indah! Tuhan yang dipilih dalam berbagai keyakinan yang berbeda, dipuja oleh komunitas masyarakat yang berbeda, semuanya adalah anggota Tubuh dari satu Tuhan yang sejati. Seperti halnya tubuh adalah perpaduan yang indah dari indria dan anggota tubuh, Tuhan adalah keindahan dari semua wujud dan nama yang manusia peruntukkan pada-Nya! Hanya mereka yang tidak mengetahui kemuliaan Tuhan akan bersikeras pada satu nama dan satu wujud Tuhan pujaannya, dan yang menjadi lebih buruk adalah dengan menyalahkan nama dan wujud Tuhan yang dipuja orang lain! Karena engkau semua terkait dengan organisasi Sathya Sai, Aku harus memperingatkanmu pada sikap keras kepala yang bodoh seperti itu. Janganlah engkau menyatakan kepada yang lainnya bahwa engkau adalah sebuah kumpulan yang berbeda dan terpisah dari mereka yang memuja Tuhan dalam wujud dan nama yang berbeda. Dengan demikian engkau membatasi Tuhan yang engkau puja.


- Divine Discourse, 17 Mei 1968

Manusia adalah mungkin ada perberdaan dalam bentuk, nama, warna kulit serta bangsa dan keadaan sejarah. Namun Tuhan tidak memiliki perbedaan yang seperti itu.



Thursday, November 7, 2024

Thought for the Day - 7th November 2024 (Thursday)

Your aim should be to see the self-same God in all the Forms that are worshipped, to picture Him in all the Names, nay, to be conscious of His presence as the inner motivator of every living being, in every particle of matter. Do not fall into the error of considering some to be men worthy of reverence and some unworthy. Sai is in everyone; so, all deserve your reverence and service. Propagate this truth; that is the function I assign to the Seva Samitis. You can observe Me and My activities; note how I adhere to righteousness, moral order, truth and universal compassion. That is what I desire you to learn from Me. Many of you plead for a 'Message' from Me, to take to the Samiti of which you are members. Well, My life is My message. You will be adhering to My message if you so live that your lives are evidence of the dispassionate quiet, the courage, the confidence, and the eagerness to serve those who are in distress, that My life inspires you with.


- Divine Discourse, May 17, 1968

My Life is My Message and My Message is Love.



Tujuanmu seharusnya adalah melihat Tuhan yang sama dalam semua bentuk yang dipuja, untuk menggambarkan Tuhan dalam semua nama, bahkan untuk menyadari kehadiran Tuhan sebagai pendorong dan motivator batin dalam setiap makhluk hidup, dan juga dalam setiap partikel materi. Jangan jatuh dalam kesalahan dengan menganggap bahwa beberapa orang layak dihormati dan beberapa orang tidak layak dihormati. Sai adalah bersemayam di dalam setiap orang; jadi, semuanya layak mendapatkan penghormatan dan pelayananmu. Sebarkan kebenaran ini; itu adalah fungsi yang Aku berikan pada Seva Samiti. Engkau dapat mengamati Aku dan kegiatan-Ku; perhatikan bagaimana Aku berpegang teguh pada kebajikan, tananan moral, kebenaran dan kasih universal. Itu yang Aku inginkan engkau pelajari dari-Ku. Banyak darimu yang meminta “Pesan” dari-Ku, untuk dibawa ke Samiti dimana engkau menjadi anggotanya. Hidup-Ku adalah pesan-Ku. Engkau akan sesuai dengan pesan-Ku jika engkau hidup sedemikian rupa sehingga hidupmu dapat menjadi bukti dari ketenangan yang tidak memihak, keberanian, kepercayaan diri, dan hasrat untuk melayani mereka yang berada dalam kesulitan, yang mana hidup-Ku telah menginspirasimu.


- Divine Discourse, 17 Mei 1968

Hidup-Ku adalah pesan-Ku dan pesan-Ku adalah Kasih.



Monday, November 4, 2024

Thought for the Day - 4th November 2024 (Monday)

Life is a short play on the stage. This body is like a bubble. The mind is always fickle. In Gita, Arjuna confesses to Krishna that the mind, which is constantly vacillating, is difficult to control. Nevertheless, man has to concentrate on his true destination. What is this destination, the goal and the aim of life? The Bhagavata and the Bhagavad Gita have made this clear. Our destination is the source from which we came. As long as the individual is caught up in the prakriti (phenomenal world), his mind will be unsteady and vacillating. The Vedic declaration, "Soham" (He is I) is demonstrated by the inhaling done during breathing. When you exhale and utter "Aham," you are giving up the "I". "So-ham" proclaims the identity of the individual and the Divine ('I am He'). This identity will not be understood as long as one is caught up in the tentacles of the material world. 


- Divine Discourse, Feb 11, 1983.

Just as two wings are essential for a bird to soar high in the sky, and two wheels for a bicycle to move, prema (love) and seva (service) are essential for man to reach his destination.



Hidup adalah sebuah sandiwara singkat di atas panggung. Tubuh ini adalah seperti gelembung. Pikiran adalah selalu berubah-ubah. Dalam Bhagavad Gita, Arjuna mengakui pada Krishna bahwa pikiran yang selalu bimbang adalah sulit untuk dikendalikan. Namun demikian, manusia harus memusatkan perhatiannya pada tujuannya yang sejati. Apa tujuan dari hidup ini? Bhagavata dan Bhagavad Gita telah membuat jelas atas pertanyaan ini. Tujuan kita adalah sumber dari mana kita berasal. Selama individual terjebak dalam prakriti (dunia fenomenal), pikirannya akan menjadi tidak stabil dan bimbang. Weda menyatakan, "Soham" (Tuhan adalah aku) ditunjukkan dengan tarikan nafas saat bernafas. Ketika engkau menghembuskan nafas dan mengeluarkan suara "Aham," engkau melepaskan "aku". "So-ham" menyatalan identitas individual dan Tuhan ('aku adalah Tuhan’). Identitas ini tidak akan dipahami selama seseorang terperangkap dalam tentakel dunia material ini. 


- Divine Discourse, 11 Februari 1983.

Seperti halnya dua sayap yang mendasar pada burung untuk terbang tinggi di langit, dan dua roda pada sepeda untuk bergerak, prema (kasih) dan seva (pelayanan) adalah mendasar bagi manusia untuk mencapai tujuannya.

Sunday, November 3, 2024

Thought for the Day - 3rd November 2024 (Sunday)

How are one’s internal impulses to be purified? These relate to the mind, speech and the body. Of the three, speech is the most important. How is purity in speech to be achieved? Anudvegakaram vakyam satyam priyahitam ca yat, says the Gita. Every word you utter should be anudvegakaram (free from causing excitement or agitation). It should be satyam (true) and priyam (pleasing). There are four factors which account for the pollution of the tongue. One is, uttering falsehood; two, excessive talking; three, carrying tales against others; four, abuse or criticism of others. The tongue is prone to indulge in these four types of offences in speech. Unfortunately, in this Kali age, all these four are rampant. Untruth has become ubiquitous. People freely indulge in slandering others. Tale-bearing goes on. Indulgence in loquacity is widespread. It is only when one gets rid of these four evil tendencies can his speech become pure and unpolluted. Hence, the first task is to purify one's speech. 


- Divine Discourse, Aug 30, 1993.

The Triple purity - speech free from the pollution of falsehood, mind free from the taint of passionate desire or hatred, the body free from the poison of violence - has to be attained by all.



Bagaimana dorongan batin seseorang dapat disucikan? Hal ini terkait dengan pikiran, perkataan dan tubuh. Diantara ketiganya, perkataan adalah yang paling penting. Bagaimana kesucian perkataan dapat dicapai? Anudvegakaram vakyam satyam priyahitam ca yat, dijelaskan dalam Gita. Setiap kata yang engkau ucapkan seharusnya adalah anudvegakaram (bebas dari menimbulkan kegembiraan atau agitasi). Perkataan seharusnya adalah satyam (benar) dan priyam (menyenangkan). Ada empat faktor yang menyebabkan tercemarnya lidah. Pertama adalah menyampaikan kebohongan; kedua adalah bicara terlalu banyak; ketiga adalah membicarakan orang lain; keempat adalah mencaci atau mengkritik orang lain. Lidah rentan melakukan keempat jenis kelasahan ini dalam perkataan. Sayangnya, di jaman kali ini, semua keempatnya ini merajalela. Kebohongan telah menjadi hal yang umum. Orang-orang dengan bebasnya memfitnah orang lain. Menyebarkan gosip terus belanjut. Kegemaran berbicara terus menyebar. Hanya ketika seseorang melepaskan keempat kecendrungan jahat ini maka perkataanya menjadi murni dan tidak tercemar. Karena itu, tugas pertama adalah dengan menyucikan perkataan seseorang. 


- Divine Discourse, 30 Agustus 1993.

Tiga kesucian – perkataan yang bebas dari polusi kebohongan, pikiran yang bebas dari noda nafsu atau kebencian, tubuh yang bebas dari racun kekerasan – harus dapat dicapai oelh semuanya.

Friday, November 1, 2024

Thought for the Day - 1st November 2024 (Friday)

Develop prema (divine love) towards the Lord, the parama-prema (Supreme divine love) of which He is the embodiment. Never give room for doubts and hesitations, or for questions to test the Lord's love. "My troubles have not ended; why? Why is it that He did not speak to me? Why did He not call me?", you whine! Do not think that I do not care for you or that I do not know you. I may not talk to you but do not be under the impression that I have no love. Whatever I do, it is for you, not for Me. For, what is it that can be called Mine? Only you. So, do not get shaken in your mind; do not allow faith to decline. That will only add to the grief you already suffer from. Hold fast - that must be your vow. Whoever is your Ishta Devata (the chosen deity) - Vishnu or Rama or Shiva or Venkateshwara - hold fast to Him. Do not lose the contact and the company; for, it is only when the coal is in contact with the live embers that it can also become a live ember. Cultivate nearness to Me in the heart and you will be rewarded. Then you too will acquire a fraction of the Supreme Prema. This is the great chance. 


- Divine Discourse, Oct 10, 1964.

You are really of the same essence, the same taste, the same quality as the sea, though you have the name and form of the wave.



Pupuklah prema (kasih Tuhan) pada Tuhan, parama-prema (kasih Tuhan tertinggi) yang merupakan perwujudan dari Tuhan. Jangan pernah berikan ruang untuk keraguan dan kebimbangan, atau memberikan pertanyaan untuk menguji kasih Tuhan. Engkau menggerutu pada Bhagawan, "masalahku belum selesai; lantas mengapa? Mengapa Bhagawan tidak berbicara padaku? Mengapa Bhagawan tidak memanggilku?” Jangan memiliki pikiran bahwa Aku tidak peduli padamu atau bahwa Aku tidak mengetahui masalahmu. Aku mungkin tidak berbicara padamu, namun jangan memiliki asumsi bahwa Aku tidak memiliki kasih. Apapun yang Aku lakukan, ini adalah untukmu, dan bukan untuk diri-Ku. Karena, apa yang bisa disebut sebagai milik-Ku? Hanyalah dirimu. Jadi, jangan menjadi goyah di dalam pikiranmu; jangan biarkan keyakinanmu menjadi merosot. Hal itu hanya menambahkan kesedihan dari penderitaan yang engkau alami. Bertahanlah – itu haruslah menjadi tekadmu. Siapapun yang menjadi Ishta Devatamu (Tuhan pilihan) – Wisnu atau Rama atau Shiva atau Venkateshwara – berpeganglah dengan erat pada-Nya. Jangan putus hubungan dan kebersamaan; karena, hanya jika bara api bersentuhan dengan api yang menyala maka bara api itu dapat juga menjadi api yang menyala. Pupuklah kedekatan dengan-Ku dan engkau akan diberkati. Kemudian engkau juga akan mendapatkan sebuah bagian dari Prema tertinggi. Itu adalah kesempatan yang sangat besar. 


- Divine Discourse, 10 Oktober 1964.

Engkau sejatinya adalah hakikat yang sama, rasa yang sama, kualitas yang sama dengan lautan, walaupun engkau memiliki nama dan wujud sebagai gelombang.