Saturday, November 6, 2010

Thought for the Day - 6th November 2010 (Saturday)


Do not get elated at the riches, status, authority, intelligence, etc., which you may possess. Consider that they have been given to you on trust, so that you may use it to benefit others. They are all signs of His Grace, opportunities for service, symbols of responsibility. Never seek to exult over others' faults; deal sympathetically with the errors and mistakes of others. Seek the good in others; hear only good tidings about them; do not give ear to scandal. On this Deepavali Day, resolve to light the lamp of Naamasmarana and place it at your doorstep, the lips. Feed it with the oil of devotion; have steadiness as the wick. Let the lamp illumine every minute of your life. The splendour of the Name will drive away darkness from outside you as well as from inside you. You will spread joy and peace among all who come near you.

Janganlah terlalu bergembira pada kekayaan, status, otoritas, kecerdasan, dll, yang mungkin engkau miliki. Pikirkanlah bahwa semuanya itu telah diberikan kepadamu atas dasar kepercayaan, sehingga engkau dapat menggunakannya untuk kepentingan orang lain. Semua itu merupakan tanda-tanda Rahmat-Nya, kesempatan untuk melakukan pelayanan, dan merupakan simbol tanggung jawab. Jangan pernah berusaha untuk bersuka ria atas kesalahan orang lain; bersimpatilah dengan kesalahan dan kekeliruan orang lain. Carilah kebaikan dalam diri orang lain, dengarlah hanya berita-berita baik tentang mereka, janganlah mendengarkan skandal. Pada hari Deepavali ini, ambillah cahaya dari Naamasmarana dan letakkanlah di depan pintu rumahmu. Isilah lentera itu dengan minyak pengabdian, gunakanlah kemantapan hati sebagai sumbunya. Biarkan cahaya itu menerangi setiap menit hidupmu. Kemuliaan Nama Tuhan akan mengusir kegelapan yang berasal dari luar maupun dari dalam dirimu. Engkau akan menyebarkan sukacita dan kedamaian di antara semua yang datang ke dekatmu.

-BABA

Friday, November 5, 2010

Thought for the Day - 5th November 2010 (Friday)


Deepavali has to be observed as a day for getting rid of all the bad qualities in us, symbolised by the demon Narakasura. The inner meaning underlying the festival should be rightly understood. A whole array of lamps is lit by the light from one lamp. That one lamp symbolises the Supreme Effulgent Lord. The others symbolise the light in individual selves. The truth of the Vedic saying, "The One willed to become the many" is exemplified by the lighting of many lamps by the flame of one. Deepavali festival thus bears out the profoundest spiritual truth. The lamp points to another significant fact. Wherever it may be placed, the flame rises upwards only and never moves down. Likewise, the flame of Jnana (Spiritual Wisdom) leads one to a sublime level through the path of Righteousness.

Deepavali harus dirayakan sebagai hari untuk menyingkirkan semua sifat buruk dalam diri kita, yang dilambangkan dengan iblis Narakasura. Makna yang mendasari perayaan ini harus benar-benar dipahami. Keseluruhan lentera menyala oleh cahaya dari satu lentera. Lentera yang satu itu melambangkan Tuhan Yang Maha Bercahaya. Lentera yang lainnya melambangkan cahaya dalam diri kita masing-masing. Veda mengatakan, "Tuhan dapat berwujud ‘menjadi’ banyak" dicontohkan dengan banyaknya lentera yang bisa dinyalakan dari satu lentera. Perayaan Deepavali ini membuktikan kebenaran spiritual yang mendalam. Lentera itu menunjukkan kebenaran penting lainnya. Dimanapun lentera tersebut ditempatkan, cahaya pasti hanya naik ke atas dan tidak pernah bergerak ke bawah. Demikian juga, api Jnana (KebijaksanaanSpiritual) menuju ke tingkat yang lebih mulia melalui jalan Kebenaran.

-BABA

Thursday, November 4, 2010

Thought for the Day - 4th November 2010 (Thursday)


The One Divine Principle works through many forms in order to manipulate and complete the process Srishti (creation). All forms are fundamentally of the same essence. There is no higher or lower. All are equally divine. When God comes down assuming special form on special occasions for a specific purpose, He is known as Avatar. Each Avatar is born as a consequence of Divine Will and with the purpose of restoring Dharma and moral life.

Prinsip Ketuhanan bekerja melalui berbagai bentuk agar menggunakan dan menyelesaikan proses Srishti (penciptaan). Semua bentuk pada dasarnya memiliki esensi yang sama. Tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah. Semua memiliki Ketuhanan yang sama. Ketika Tuhan turun dengan wujud khusus dalam kesempatan yang khusus untuk tujuan tertentu, Beliau dikenal sebagai Avatar. Setiap Avatar lahir sebagai akibat dari Kehendak Tuhan dan dengan tujuan untuk memulihkan Dharma dan kehidupan moral.

-BABA

Wednesday, November 3, 2010

Thought for the Day - 3rd November 2010 (Wednesday)


Speech is a beautiful instrument that is gifted to man for uplifting himself. Speech is charged with tremendous power. Through the choice of our words, we can communicate to a person something which upsets their balance or shocks them into grief; the words then completely drain off their physical strength and mental courage. They fall on the ground, unable to stand. On the other hand, when through speech, we communicate something happy, or cheer them, they get the strength of an elephant. Words do not cost anything, but they are priceless. So they have to be used with care. They must be employed not for gossip, which is barren, but for pure and productive purposes only. The ancients recommended the vow of silence in order to purify speech of its evils. A mind turned inwards towards an inner vision of God and speech turned towards outer vision, both will promote spiritual strength and success.

Ucapan adalah instrumen indah yang diberikan pada manusia untuk mengangkat dirinya sendiri. Ucapan memiliki kekuatan yang luar biasa. Melalui pilihan kata-kata kita, kita dapat mengatakan sesuatu pada seseorang yang dapat mengganggu ketenangan mereka atau membawa mereka ke dalam kesedihan; kata-kata itu kemudian melemahkan kekuatan fisik dan keberanian mental mereka. Mereka jatuh di tanah sehingga tidak mampu berdiri lagi. Di sisi lain, ketika melalui kata-kata, kita mengatakan sesuatu yang menyenangkan, atau menghibur mereka, mereka mendapatkan kekuatan seperti kekuatan gajah. Kata-kata tidak memerlukan biaya apapun, tetapi ia tak ternilai harganya. Jadi kata-kata harus digunakan dengan hati-hati. Kata-kata harus digunakan bukan untuk gosip yang kering, tetapi hanya untuk tujuan yang murni dan produktif. Orang-orang zaman dahulu bersumpah diam untuk memurnikan ucapan mereka dari kata-kata yang tidak baik. Pikiran dapat mengarahkan kedalam pandangan batin Tuhan dan ucapan dapat membawa kita ke pandangan luar, tetapi keduanya akan meningkatkan kekuatan spiritual dan kesuksesan kita.

-BABA

Monday, November 1, 2010

Thought for the Day - 2nd November 2010 (Tuesday)


I am immanent in every being. People forget Me, who am within and without them. I am the inner core of every being, but they are not aware of this. So, they are tempted to believe the objective world to be real and true, and they pursue objective pleasures, and fall into grief and pain. On the other hand, if they concentrate all attention on Me alone, believing that the Lord has willed everything and everyone, I bless them and reveal to them the truth that they are I and I am they. Thousands have been blessed thus.

Aku selalu ada dalam setiap makhluk. Orang-orang melupakan Aku, siapa yang bersama mereka dan siapa yang tanpa mereka. Akulah inti dari setiap wujud, tetapi mereka tidak menyadari hal ini. Jadi, mereka tergoda untuk percaya bahwa objek-objek duniawi-lah yang nyata dan benar, dan mereka mengejar kesenangan objektif, lalu jatuh ke dalam kesedihan dan penderitaan. Di sisi lain, jika mereka memusatkan seluruh perhatiannya hanya pada-Ku, percaya bahwa Tuhan telah menghendaki segalanya, Aku memberkati mereka dan mengungkapkan kebenaran kepada mereka bahwa mereka adalah Aku dan Aku adalah mereka. Ribuan telah diberkati dengan hal seperti ini.

-BABA

Thought for the Day - 1st November 2010 (Monday)

The rain falling on the mountain range slides down the sides into many valleys and flows as turbid streams. The same rain falling on fresh water lakes or limpid rivers remains pure and clear. The sages who are cognizant of their Atmic reality are transformed into the purity, equanimity, and charity that it represents. They are ever in the full awareness of the Atma, their inner core. In the purified consciousness of these persons, there is the experience of identification. Likes and dislikes, sense of “I” and “mine”, anxiety and calmness, elation when praised and depression when blamed - these cannot contaminate or agitate a person who has attained that state. These opposites become balanced and are accepted with equanimity as waves on the Atmic consciousness. This is the authentic Atmic attitude, the Brahman inner-look, the unitary vision.

Hujan yang jatuh di gunung kemudian bergerak turun ke lembah-lembah dan mengalir sebagai sungai yang keruh. Hujan yang sama yang jatuh di danau air tawar atau sungai jernih, airnya tetap murni dan jernih. Para bijaksana yang menyadari realitas Atma akan diubah kedalam kemurnian, ketenangan, dan kemurahan hati. Mereka selalu dalam kesadaran penuh Atma, inti batin mereka. Didalam kesadaran yang dimurnikan oleh para bijaksana tersebut, ada pengalaman khusus. Suka dan tidak suka, rasa "aku" dan "milikku", kecemasan dan ketenangan, kegembiraan ketika dipuji dan depresi ketika disalahkan – hal ini tidak dapat mencemari atau mengganggu orang yang telah mencapai keadaan tersebut. Hal-hal yang berlawanan ini menjadi seimbang dan diterima dengan tenang sebagai gelombang pada kesadaran Atma. Ini adalah sikap sejati Atma, pandangan batin Brahman, yaitu kesatuan visi.

-BABA

Thought for the Day - 31st October 2010 (Sunday)


The Upanishads announce certain Sadhanas (spiritual exercise) to achieve inner peace. One of that is engaging in Karma or beneficial activity - that is to say, service to people which will help diminish the ego sense, acts that are good and godly. When one’s thoughts are engaged in such activities, the mind turns away from the talk it indulges in. Listening to spiritual advice, reflection on spiritual directions, and discovering ways and means of confirming faith in the Lord and recital of the names of God and withdrawing the mind from sensual pursuits have been prescribed by the scriptures for silencing the mental chatter, this inner talk, as a preparation for attaining the Supreme Lord. For it is only when the mind is cleansed and clarified that it can achieve such a profound task. Only then the lessons taught and the experiences undergone can be pure and unsullied.

Upanishad memberitahukan sadhanas tertentu (latihan spiritual) untuk mencapai kedamaian batin. Seseorang yang terlibat dalam Karma atau kegiatan bermanfaat - yaitu memberikan pelayanan kepada orang lain akan membantu mengurangi rasa ego, tindakan ini merupakan perbuatan yang baik dan saleh. Ketika pikiran seseorang terlibat dalam kegiatan tersebut, pikiran berpaling dari percakapan-percakapan yang hanya memperturutkan kehendak. Mendengarkan nasihat spiritual, refleksi yang mengarah pada spiritual, menemukan cara dan sarana untuk menyatakan kepercayaan pada Tuhan, serta mengulang-ulang nama Tuhan dan menarik pikiran dari pengejaran sensual telah ditetapkan dalam kitab suci untuk mengheningkan percakapan batin, sebagai persiapan untuk mencapai Tuhan Yang Agung. Karena hanya ketika pikiran dibersihkan dan dijernihkan, maka akan mencapai tugas yang amat mulia. Selanjutnya pelajaran yang telah diajarkan dan pengalaman yang telah dialami bisa murni dan tak ternoda.

-BABA