Saturday, November 13, 2010

Thought for the Day - 13th November 2010 (Saturday)



Unfortunately, no transformation is taking place in the human beings in spite of repeating the Divine Name several times. You should chant the Divine Name wholeheartedly with full faith. Faith develops love towards God and that love towards God confers Grace. No doubt, people today are repeating the holy name, but not with love and steady faith. They are more concerned with how others are singing and whether their Shruthi (pitch) and Raaga (melody) are in order, etc. They are doing the Naamasankirtana with a wavering mind. There can be no transformation in them by such fickle minded Naamasankirtan in spite of doing it for hours together. Naamasankirtan has to be done with absolute concentration and steady faith like a yogi. It is said “Sathatham Yoginah”. One can achieve great transformation if the mind is steadily fixed on the Divine Name.

Sayangnya, tidak ada transformasi yang terjadi dalam manusia meskipun mengulang-ulang Nama Tuhan berkali-kali. Engkau harus mencantingkan Nama Tuhan dengan sepenuh hati dan dengan penuh keyakinan. Keyakinan mengembangkan cinta-kasih menuju Tuhan dan cinta-kasih menuju Tuhan-lah yang menganugerahkan berkat Tuhan. Tidak diragukan lagi, orang-orang saat ini mengulang-ulang Nama suci Tuhan, tetapi hal itu tidak dilakukan dengan cinta-kasih dan keyakinan yang mantap. Mereka lebih memperhatikan dengan bagaimana orang lain menyanyikannya dan apakah Shruthi (nada) dan Raaga (melodi) yang mereka bawakan sesuai, dll. Mereka melakukan Naamasankirtana dengan pikiran yang ragu-ragu. Tidak ada transformasi di dalam hati mereka karena Naamasankirtan dilakukan dengan pikiran yang berubah-ubah meskipun mereka melakukannya bersama-sama selama berjam-jam. Naamasankirtan harus dilakukan dengan penuh konsentrasi dan keyakinan yang mantap seperti seorang yogi. Dikatakan "Sathatham Yoginah". Seseorang dapat mencapai transformasi jika pikiran terus dengan mantap ditujukan pada Nama Tuhan.

-BABA

Friday, November 12, 2010

Thought for the Day - 12th November 2010 (Friday)


Bhajan is very necessary to melt the heart of God. When you do Nagar Sankirtan early in the morning, everybody will get up and listen to the Divine Name. Hearing the name of God as soon as they wake up will fill them with great bliss and enthusiasm. Constantly remember the name of God; never forget it. This is the noblest path. This is true spiritual practice. When you do this, you will be immensely blessed.

Bhajan sangat diperlukan untuk mencairkan hati Tuhan. Ketika engkau melakukan Nagar Sankirtan pagi-pagi sekali, semua orang akan bangun dan mendengarkan Nama Tuhan. Mendengarkan nama Tuhan segera setelah mereka bangun akan mengisi mereka dengan kebahagiaan besar dan antusiasme. Ingatlah Nama Tuhan secara terus-menerus, jangan pernah melupakannya. Ini adalah jalan mulia. Ini merupakan praktek spiritual yang sejati. Ketika engkau melakukan hal ini, engkau akan sangat diberkati.

-BABA

Thursday, November 11, 2010

Thought for the Day - 11th November 2010 (Thursday)


Surrender does not mean offering your body to God. Real surrender is the chanting of the Divine Name and making it the basis of your life. It is for the same reason that Guru Nanak, the first Guru of the Sikhs, started community singing. He told his followers that they should seek fulfilment in life by chanting the Divine Name. Consider the chanting of the Name of God as the most important spiritual practice. You may spend any amount of money in charity and in doing acts of service, but these practices will give you only temporary mental satisfaction at the most if they are not complemented by the chanting of the Divine Name.

Pasrah total bukanlah berarti mempersembahkan badan-mu kepada Tuhan. Pasrah total yang sebenarnya adalah menchantingkan Nama Tuhan dan menjadikannya sebagai dasar hidupmu. Karena alasan yang sama inilah Guru Nanak, guru pertama Sikh, memulai ajarannya untuk mengajak masyarakat menyanyikan nama Tuhan secara bersama-sama. Beliau mengatakan kepada pengikutnya bahwa mereka harus mencari pemenuhan dalam hidup dengan cara menchantingkan Nama Tuhan. Rasakanlah bahwa menchantingkan Nama Tuhan sebagai praktek spiritual yang paling penting. Engkau dapat menghabiskan sejumlah uang untuk beramal dan dalam melakukan tindakan pelayanan, tetapi praktik ini hanya akan memberikan kepuasan mental yang sifatnya sementara, jika tindakan itu tidak dilengkapi dengan menchantingkan Nama Tuhan.

-BABA

Wednesday, November 10, 2010

Thought for the Day - 10th November 2010 (Wednesday)

Today the country is facing a lot of problems because people are not doing enough Naamasmarana (remembering the divine name). Let each and every street reverberate with the singing of divine glory. Let each and every cell of your body be filled with divine name. Nothing else can give you the bliss, courage and strength that you derive from Naamasmarana. Even if some people make fun of you, do not bother about it. Do Naamasmarana with total concentration and dedication. Do not be afraid of anyone. Sing the glory of God wholeheartedly without any inhibition. Only then can you experience divine bliss.

Saat ini negara sedang menghadapi banyak masalah karena orang tidak melakukan Naamasmarana (mengulang-ulang nama Tuhan) dengan cukup. Biarlah setiap tempat berkumandang nyanyian kemuliaan Tuhan. Biarlah setiap sel tubuhmu diisi dengan nama Tuhan. Tidak ada lagi yang bisa memberikan kebahagiaan, keberanian, dan kekuatan yang bisa engkau dapatkan dari Naamasmarana. Bahkan jika beberapa orang menertawakan-mu, jangan engkau hiraukan hal tersebut. Lakukan Naamasmarana dengan penuh konsentrasi dan pengabdian (bhakti). Jangan takut terhadap siapapun. Nyanyikan kemuliaan Tuhan dengan sepenuh hati tanpa hambatan apapun. Baru setelah itu, engkau dapat mengalami kebahagiaan Ilahi.

-BABA

Tuesday, November 9, 2010

Thought for the Day - 9th November 2010 (Tuesday)


There are many snakes of wicked qualities in the anthill of your heart. When you do Naamasmarana (remembering the divine name) all the ‘snakes’ of bad qualities will come out. Naamasmarana is like the musical wind instrument (Nadaswaram) which attracts snakes and brings them out of anthills. This Nadaswaram is your Jeevanaswaram and Pranaswaram (breath of life). One has to repeat God’s name in order to get rid of evil qualities. Today there are many who do not attach any importance to Naamasmarana. It is a great mistake. In this Age of Kali only chanting of the divine name can redeem your lives. There is no other refuge. Singing the glory of the Lord is highly sacred!

Ada banyak 'ular' sifat-sifat buruk yang bersarang di hatimu. Ketika engkau melakukan Naamasmarana (mengulang-ulang Nama Tuhan) semua 'ular' sifat-sifat buruk akan keluar dari dirimu. Naamasmarana diibaratkan seperti alat musik (Nadaswaram) yang menarik ular dan membawa mereka keluar dari sarangnya. Nadaswaram ini adalah Jeevanaswaram-mu dan Pranaswaram-mu (nafas kehidupan). Kita harus mengulang-ulang Nama Tuhan untuk menyingkirkan sifat-sifat buruk yang bersemayam di dalam diri. Saat ini ada banyak yang tidak menganggap penting untuk melakukan Naamasmarana. Ini merupakan kekeliruan besar. Dalam zaman Kali ini hanya menchantingkan Nama Tuhan-lah yang dapat menyelamatkan hidupmu. Tidak ada perlindungan lain. Menyanyikan kemuliaan Tuhan sangatlah suci!

-BABA

Monday, November 8, 2010

Thought for the Day - 8th November 2010 (Monday)


Fill the reservoir when it rains, so that in times of drought, you can feed the fields. Do intense Sadhana (spiritual exercises) now, when you are young and strong so that you can be in peace and joy for the rest of your life. Make the most profitable use of this present period of your lives. Do not waste the hours in irrelevance and irreverence. Do not indulge in the condemnation of others or in self-condemnation. Let your hearts rejoice, clothed in fresh ideals and feelings and resolutions. Mould your lives into sweet songs of Love.

Isilah tempat penyimpanan air saat hujan, sehingga pada musim kering, engkau bisa mengairi ladang. Lakukan Sadhana (latihan spiritual) saat ini, ketika engkau masih muda dan kuat sehingga engkau selalu berada dalam kedamaian dan sukacita selama sisa hidupmu. Buatlah periode ini sebagai saat yang paling berharga dalam hidupmu. Janganlah membuang-buang waktumu dengan hal-hal yang tidak berguna. Jangan menyalahkan orang lain atau menyalahkan dirimu sendiri. Biarlah hatimu bersukacita, memiliki perasaan yang baik dan kemantapan hati. Bentuklah hidupmu dalam manisnya lagu Cinta-kasih Tuhan.

-BABA

Sunday, November 7, 2010

Thought for the Day - 7th November 2010 (Sunday)


The farmer, intent on cultivation, ignores even food and sleep, for he is too busy ploughing, levelling, scattering seeds, watering, weeding, guarding and fostering the crop. He knows that his family will have to subsist on the harvest that he brings home and that if he fritters away the precious season in idle pursuits, his family will be confronted with hunger and ill-health. So, he sets aside or postpones other pursuits and focuses all his attention on farming alone. He puts up with difficulties and deprivations, toils day and night, watches over the growing crops and garners the grain. As a consequence, he is able to spend the months ahead, in peace and joy, with his happy family. Students and spiritual seekers have to learn important lessons from the farmer. The stage of youth is the season for mental and intellectual culture. These years should be intensively and intelligently cultivated; irrespective of difficulties and obstacles. The clamour of the senses has to be silenced; hunger and thirst have to be controlled; the urge to sleep and relax has to be curbed.

Para petani, penuh perhatian pada pertanian, bahkan ia mengabaikan makan dan tidur, karena ia terlalu sibuk membajak, meratakan tanah, menebarkan benih, mengairi, melakukan penyiangan, serta menjaga dan memelihara tanaman. Petani mengetahui bahwa keluarganya mendapatkan nafkah dari hasil panen yang akan ia bawa pulang dan jika ia membuang-buang waktunya pada musim yang berharga ini dengan bermalas-malasan, keluarganya akan menderita kelaparan dan gangguan kesehatan. Jadi, ia mengesampingkan atau menunda pencarian lainnya dan memfokuskan seluruh perhatiannya hanya pada pertanian saja. Ia berjuang dengan gigih dengan kesulitan dan kekurangan, bekerja keras siang dan malam, mengawasi pertumbuhan tanaman dan mengumpulkan hasil panen. Akibatnya, ia mampu melewatkan bulan-bulan selanjutnya, dalam kedamaian dan sukacita, dengan keluarga bahagianya. Para siswa dan para pencari spiritual harus mempelajari pelajaran penting dari para petani. Pada tahapan remaja (pemuda) adalah saatnya untuk memelihara mental dan intelektual. Tahun-tahun ini seharusnya dikembangkan secara intensif dan dengan cerdas; dengan tidak mengindahkan kesulitan dan hambatan yang dihadapi. Keinginan-keinginan dari indera harus dihilangkan; rasa lapar dan haus harus dikendalikan, keinginan untuk tidur dan bersantai harus diatasi.

-BABA