Wednesday, January 30, 2008

Thoughts for the Day - 31st January 2008 (Thursday)


Everyone is endowed with a spiritual heart (Hridaya). When you fill your heart with love and compassion, peace will reign supreme in the world. There will be love everywhere. There will be no jealousy, hatred or anger in the world. Restlessness will disappear from the face of the earth. One who has filled his heart with compassion will always remain in peace. It is most essential to know this truth. People mistake Hridaya for the physical heart. Hridaya is nothing but the all-pervasive Atmic principle, in other words, the Aham. So you should keep your heart absolutely pure and sacred.

Setiap orang telah dibekali dengan hati spiritual (Hridaya). Apabila engkau mengisi hatimu dengan cinta-kasih dan welas-asih, maka kedamaian akan bersinar di dunia ini. Dimana-mana hanya akan terdapat cinta-kasih. Tidak ada lagi kecemburuan, kebencian ataupun kemarahan di muka bumi ini. Kericuhan dan keonaran akan sirna tertelan oleh cahaya cinta-kasih. Mereka yang hatinya penuh dengan welas-asih akan senantiasa hidup dalam kedamaian. Oleh sebab itu, sangatlah penting bila engkau menyadari kebenaran ini. Banyak orang yang mengira Hridaya sebagai jantung, padahal sebenarnya Hridaya tak lain adalah prinsip Atmic yang maha luhur; dengan perkataan lain, Hridaya = Aham. Engkau harus selalu menjaga kemurnian dan kesucian hatimu.

-BABA

Tuesday, January 29, 2008

Thoughts for the Day - 30th January 2008 (Wednesday)


Only when there is no ego, or at least, less ego, can peace, happiness, co-operation and love flourish. Man cannot claim to be a man until this ego which urges him to destroy others is overcome by the Sadhana (spiritual discipline) of Seva (selfless service). By saturating the Seva with love, work is offered to God; it then gets sanctified into Pooja (worship). This makes it free from ego. Only by reducing his wants and overcoming jealousy and envy can man reduce his ego, since to overpower the ego otherwise is well-nigh impossible.

Kedamaian, kebahagiaan, kerja-sama dan cinta-kasih hanya bisa tumbuh berkembang bilamana tiada terdapat ego atau paling tidak, seiring dengan semakin berkurangnya ego. Manusia tidak berhak untuk mengklaim dirinya sebagai manusia sebelum sang ego – yang mendorongnya untuk selalu bersaing dengan orang lain - ditaklukkan melalui serangkaian sadhana (disiplin spiritual) seva (pelayanan tanpa-pamrih). Dengan menjadikan cinta-kasih sebagai nafas seva, maka semua bentuk aktivitas dipersembahkan kepada Tuhan, sehingga akhirnya pekerjaan itu mengalami pemurnian menjadi Pooja (ibadah). Inilah caranya untuk dapat melepaskan diri dari jeratan ego. Sangatlah sulit untuk melawan ego, kecuali dengan jalan mengurangi keinginan dan mengatasi sifat pecemburu dan keiri-hatian.

-BABA

Monday, January 28, 2008

Thoughts for the Day - 26th until 28th January 2008

An empty iron box gets value when it contains jewels; the body is honoured when it contains the jewels of consciousness and values known as 'virtues'. Life has to be lived through for the sake of the chance to unfold the virtues. Otherwise, man is a burden upon the earth, merely a consumer of food. Help to the needy has been described as the highest virtue and harming others has been condemned as sin.
Sebuah almari besi yang kosong akan menjadi sangat bernilai jikalau di dalamnya tersimpan perhiasan; demikian pula, badan jasmani ini dihormati hanya jikalau di dalamnya terdapat perhiasan dalam wujud kesadaran dan nilai-nilai luhur. Kehidupan ini haruslah dijalani dengan tujuan untuk mencari kesempatan guna membangkitkan nilai-nilai luhur tersebut. Jikalau tidak, maka manusia hanya merupakan beban bagi bumi ini, sebab ia tak lain hanya menghabiskan jatah makanan yang tersedia. Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan merupakan nilai luhur yang paling tinggi dan sebaliknya mencelakai orang lain dicela sebagai dosa (perbuatan yang salah).
-BABA

Men try to know everything about everybody else; but they do not try to know about themselves! The attempt to know about the Self is called 'Atma Vidya'. It is only through that knowledge that man can live in peace. For, when you know that all is Divine, you look upon all Creation with reverence and true Love; your heart is filled with supreme joy and the assertions of the ego are rendered ineffective. Man seeks joy in far places and peace in quiet spots; but the spring of joy is in his heart, the haven of peace is within him. Have faith in God, and in the correctness of moral living. Then you can have peace and joy, whatever may be the fare that fortune offers you.
Manusia mencoba untuk mengetahui segala sesuatu tentang setiap orang lain; padahal mereka sendiri tidak pernah mencoba untuk mengenali dirinya sendiri! Usaha untuk mengenali diri sendiri disebut sebagai 'Atma Vidya'. Kehidupan yang damai hanya bisa diperoleh bila manusia memiliki pengetahuan tersebut. Sebab apabila engkau mengetahui bahwa semuanya adalah Divine, maka engkau akan memperlakukan semuanya dengan rasa hormat dan cinta-kasih; hatimu akan ceria dan sang ego akan dibuat tak berdaya. Manusia mencari kesenangan di tempat yang nun jauh dan kedamaian di tempat-tempat yang sepi; padahal kedamaiannya justru ada di dalam dirinya sendiri. Milikilah keyakinan kepada Tuhan dan jalanilah kehidupan yang bermoral. Dengan demikian, maka kedamaian dan kegembiraan pasti akan engkau peroleh.
-BABA

Dharma is bound up with a great many variety of meanings and does not mean only duty, which pertains to one individual. Dharma is a body of principles that are fundamental to social stability and individual progress. It is eternal, same for everyone, everywhere. The birthplace of Dharma is the heart. What emanates from the heart as a pure idea, when translated into action, is Dharma, or to put it in simple words - "Do unto others as you would have them do unto you".
Dharma (nilai-nilai kebajikan) mengandung banyak makna dan tidak hanya diartikan sebagai tugas/tanggung-jawab (yang notabene hanya berkaitan dengan satu individu saja). Dharma adalah prinsip-prinsip pokok yang menjadi dasar stabilitas sosial dan kemajuan individu. Ia bersifat abadi, berlaku sama untuk setiap orang dan dimanapun juga. Tempat lahir Dharma adalah di dalam hati nurani. Sesuatu yang bersumber dari hati sebagai idealisme murni, ketika diterjemahkan dalam tindakan nyata, maka itulah yang disebut sebagai Dharma. Dengan perkataan lain: "Lakukanlah sesuatu kepada orang lain sebagaimana engkau berharap untuk diperlakukan oleh orang lain terhadapmu."
-BABA

Thoughts for the Day - 29th January 2008 (Tuesday)


Matham (religion) is a matter of Mathi (mind). Based on the teachings of the different faiths, having regard to the requirements of the time and circumstances of different countries, and keeping in view the specific needs of the people concerned, certain rules and regulations were laid down. On this account, one faith should not be considered superior to another. Man's primary duty is to bear in mind the sacred truths enshrined in every religion and practise them in his life.

Matham (agama) berkaitan dengan Mathi (mind/batin). Berdasarkan ajaran-ajaran dari berbagai keyakinan serta setelah mempertimbangkan aspek-aspek waktu dan keadaan dari berbagai negara serta kebutuhan khusus dari masyarakat lokal masing-masing; maka ajaran agama telah mengalami penyesuaian aturan dan kebijakan sesuai dengan kondisi sekitarnya. Dalam hal ini, maka pemeluk salah-satu aliran kepercayaan tidak bisa dan tidak berhak untuk menganggap dirinya lebih superior daripada yang lainnya. Tugas utama manusia adalah menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebenaran yang terdapat di dalam setiap agama serta mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

-BABA

Thursday, January 17, 2008

Thoughts for the Day - 18th January (Friday) until 25th January (Friday) 2008

Date:Friday, January 18, 2008

THOUGHT FOR THE DAY





Man is deriving innumerable benefits from Nature and enjoying the amenities provided by it in various ways. But what is the gratitude he is offering to Nature and God? Man is forgetting the Divine who is the Sole Provider of everything. This is the reason for his falling prey to various difficulties and calamities. While he is receiving countless benefits from Providence, he is offering nothing in return to Nature or God. This shows how unnatural and heartless man's behaviour is. When we are enjoined to return good for evil, how unbecoming is it to fail even to return good for good? Man should learn the great lesson Nature is trying to teach him - the lesson of doing service with no expectation of return.

Manusia memetik begitu banyak manfaat dari alam (bumi) ini serta menikmati begitu banyak kesenangan yang diberikan olehnya dengan melalui berbagai macam bentuk. Akan tetapi sebaliknya, apa bentuk ungkapan syukur/berterima-kasih yang telah diberikan oleh manusia kepada alam dan Tuhan? Manusia justru melupakan Divine yang merupakan sumber pemberi utama dari segala-galanya. Itulah sebabnya mengapa manusia terus-menerus menghadapi berbagai macam kesulitan dan kemalangan. Walaupun ia sudah menerima begitu banyak manfaat dari Sang Pemberi (God), namun ia tidak berkontribusi apapun juga. Hal ini menunjukkan betapa keji dan tidak manusiawinya perilaku manusia. Apabila kita telah diajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, maka bisa dilihat betapa tidak pantasnya bila engkau membalas kebaikan dengan kejahatan!? Manusia perlu belajar dari alam yang telah menunjukkan kepadanya bahwa tindakan pelayanan hendaknya dilakukan tanpa adanya harapan imbalan (tanpa pamrih).

-BABA

Date:Saturday, January 19, 2008

THOUGHT FOR THE DAY



Man is carried away by identification with the body and therefore he perceives diversity in creation. In fact, unity is what underlies the apparent diversity. Whatever differences you see are only creations of your mind. The mind of man alone is responsible for both his bondage and liberation. Recognise the truth that the same divine essence is present in all and you will be free from all differences and conflicts.

Manusia melakukan kekeliruan dengan mengidentifikasikan dirinya sebagai badan fisik dan itulah sebabnya mengapa ia selalu melihat diversity (kemajemukan) di sekitarnya. Padahal, unity (persatuan) merupakan dasar dari segala-galanya. Apapun juga perbedaan yang engkau lihat di alam ciptaan ini, semuanya adalah merupakan hasil kreasi batinmu sendiri. Mind manusia merupakan biang-keroknya. Ketahuilah bahwa esensi Ilahi yang sama hadir di dalam diri setiap orang, sehingga dengan demikian, maka engkau akan terbebaskan dari segala bentuk perbedaan dan konflik.

-BABA

Date:Sunday, January 20, 2008

THOUGHT FOR THE DAY




You are in this body in order to realise the God you really are. This body is the cocoon you have spun around yourselves by means of your impulses and desires. Use it while it lasts, to grow wings so that you can escape from it. You came into this world crying, announcing your grief for having to take on the burden of earthly existence. Having come with grief, decide not to go back with it from here. Get rid of it in this very life.

Tujuan kelahiranmu dalam badan jasmani ini adalah untuk merealisasikan keTuhanan yang sebenarnya merupakan jati dirimu yang asli. Badan jasmani ini bagaikan kepompong yang terbentuk berkat hasil kreasimu sendiri berdasarkan pemupukan keinginan-keinginanmu. Pergunakanlah badan ini selama ia masih berfungsi dan lakukanlah upaya-upaya agar engkau bisa mengembangkan sayap-sayap sehingga dapat dipergunakan untuk meloloskan diri (dari jeratan kehidupan duniawi ini). Engkau terlahir di dunia ini sembari menangis, seolah-olah hendak menyatakan penderitaanmu dalam menanggung beban duniawi ini. Setelah datang dengan hati yang sedih, maka pastikanlah bahwa engkau tidak membawa pulang kesedihan itu dari sini. Singkirkanlah noda-noda batin dalam kehidupanmu sekarang ini juga.


Date:Monday, January 21, 2008

THOUGHT FOR THE DAY



To achieve anything in this world, discipline is indispensable; we must also have self-confidence, and then self-sacrifice. If you do not possess these three, your life will be meaningless. When a river is flowing erratically, we construct a dam, change its course and divert is usefully on its way to the ocean. So also, when our ideas are recklessly and aimlessly going their own way, they should be channelled by the construction of the dam of discipline. They should be made to take the form of sacrifice and go towards the ocean of faith in one’s Self. We should regard it as absolutely essential to attain these three qualities – sacrifice, self-confidence and discipline.

Untuk mencapai segala sesuatu di dunia ini, maka kedisiplinan merupakan prasyarat yang tidak bisa ditawar-tawar lagi; di samping itu, kita juga perlu memiliki self-confidence (kepercayaan diri), dan selanjutnya self-sacrifice (sikap siap berkorban). Jikalau engkau tidak memiliki ketiga hal tersebut, maka kehidupanmu menjadi tak ada artinya. Ketika sebuah sungai mengalir secara liar, maka kita bisa membangun sebuah bendungan dan mengarahkan aliran sungai itu agar dapat dimanfaatkan selama perjalanannya menuju ke samudera. Nah demikian pula, ketika idealisme kita bergejolak secara tak beraturan, maka kita perlu mengarahkannya melalui bendungan yang dinamakan “disiplin”. Bendungan itu harus dibangun sedemikian rupa sehingga mengambil wujud pengorbanan dan diarahkan ke samudera keyakinan atas Atma. Untuk itu, ketiga kualtias tersebut sangatlah penting untuk dimiliki, yaitu sikap pasrah/rela berkorban, keyakinan terhadap diri dan kedisiplinan.

-BABA


Date:Tuesday, January 22, 2008

THOUGHT FOR THE DAY



Reflections of the sun shining in the sky can be seen in the oceans, rivers, lakes and wells. Though the reflections are varied, there is only one sun. The Divine is present in man like the unseen thread which holds a garland of gems together. The entire cosmos is permeated by the Divine and is the visible manifestation of the Divine. Nothing in the world, no object, no human being, no creature can be found wherein God is not present. There is only one God and he is 'Sath-Chith-Ananda' (Being-Awareness-Bliss).

Pantulan matahari yang sedang bersinar di langit bisa terlihat di samudera, sungai, danau dan sumur. Walaupun pantulan-pantulan itu bervariasi, namun matahari hanya ada satu adanya. Divine yang eksis di dalam diri manusia adalah bagaikan benang (tak terlihat) yang memegang semua bunga-bunga yang terdapat dalam sebuah kalungan bunga. Seisi alam semesta ini diliputi oleh Divine dan ia merupakan manifestasi Divine yang bisa terlihat oleh mata kita. Tuhan eksis di dalam setiap obyek di alam semesta ini, baik itu benda mati, manusia maupun mahluk hidup lainnya. Hanya ada satu Tuhan dan Beliau adalah ‘Sath-Chith-Ananda’ (Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan).

-BABA


Date:Wednesday, January 23, 2008

THOUGHT FOR THE DAY


People feel that adhering to truth is difficult. Actually, it is untruth that creates difficult problems. All kinds of plans have to be made to cover up a lie. But to stick to the facts, as they are, is easy. People should come to realise that it is easy to be good. It is going astray that causes difficulties. One cannot always avoid committing a mistake, but one should learn a lesson from it and avoid repeating it.

Orang-orang merasa bahwa berpegang pada kebenaran adalah suatu praktek yang sulit. Padahal sebenarnya, justru ketidak-benaranlah yang menimbulkan banyak persoalan sulit sebab engkau harus mempersiapkan berbagai macam rencana untuk menutupi kebohonganmu itu. Akan tetapi, jikalau engkau tetap mengikuti fakta sebenarnya, maka semuanya akan menjadi lebih gampang. Orang-orang harus menyadari bahwa jauh lebih mudah untuk berbuat kebajikan. Bila kita melenceng dari jalan kebenaran, maka timbullah persoalan-persoalan. Memang engkau tidak bisa seratus persen untuk tidak berbuat kesalahan, tetapi hendaknya engkau belajar dari setiap kesalahanmu itu dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

-BABA

Date:Thursday, January 24, 2008

THOUGHT FOR THE DAY


Everything that is born must die. But you can escape death by not being born again. When you realise that you are the limitless Atma, you are no longer subjected to the limitation of birth. That is the secret. How is this knowledge to be acquired? It is the result of a long process of sharpening and purifying the emotions and the impulses. You may do the most rigorous Japa (repetition of God's name) or submit yourself to the ordeal of austerities, but if you are not virtuous, all of it is sheer waste.

Setiap orang harus meninggal suatu hari kelak. Akan tetapi walaupun begitu, engkau bisa meloloskan diri dari kematian dengan jalan tidak terlahir kembali. Ketika engkau menyadari bahwa dirimu adalah Atma yang tanpa batas, maka di saat itu engkau tidak akan didikte lagi oleh kelahiran. Inilah rahasianya. Lalu, bagaimana caranya untuk dapat memperoleh pengetahuan itu? Ia merupakan hasil dari serangkaian proses yang berkelanjutan dalam hal mempertajam dan memurnikan gelombang-gelombang emosi dan impuls/dorongan batin. Engkau mungkin sudah melakukan latihan berat berupa Japa (pengulangan nama Tuhan) atau menjadi pengikut dari lembaga kerohanian tertentu; namun di atas segalanya, jikalau hatimu tidak/belum tulus & saleh, maka semua latihan tersebut adalah sia-sia belaka.

-BABA


Date:Friday, January 25, 2008

THOUGHT FOR THE DAY


When you love Me, you love all; for you begin to feel, know and experience that I am in all. By means of meditation, you can realise that I am the resident in all hearts, the urge, the motive, the guide and the goal. Yearn for that vision, that awareness and make it your priceless possession. Then, you have what you often ask Me for… Sakshathkara (direct vision of reality). Your love has to be pure and free from the taint of ego, so that it can merge in Me.

Apabila engkau mencintai-Ku, maka itu berarti engkau mencintai semuanya; sebab engkau akan mulai merasakan, mengetahui dan mengalami bahwa Aku ada di dalam diri setiap insan. Melalui meditasi, engkau bisa menyadari bahwa Aku adalah penghuni hati setiap orang; Aku-lah sang pendorong, motivator, penuntun dan sasaran yang hendak dituju. Dambakanlah vision dan kesadaran seperti itu dan jadikanlah ia sebagai barang milikmu yang paling berharga. Bila demikian, maka engkau akan mendapatkan sesuatu yang selama ini sering engkau minta dari-Ku, yaitu... Sakshathkara (direct vision of reality/Moksha). Agar engkau dapat bersatu dengan-Ku, maka pastikanlah bahwa cinta-kasihmu haruslah murni dan terbebas dari noda ego.

-BABA

Wednesday, January 16, 2008

Thoughts for the Day - 17th January 2008 (Thursday)


What is spirituality? It is the resolute pursuit of cosmic consciousness. Spirituality aims at enabling a person to manifest in all its fullness the divine cosmic consciousness (Chaitanya) that is present both within and outside oneself. It means getting rid of one’s animal nature and developing the divine tendencies within one. It means breaking down the barriers between God and Nature and establishing their essential oneness. Today, people think that spirituality has no relation to mundane life, and vice versa. This is a big mistake. True divinity is a combination of spirituality and social obligations. National unity and social harmony are founded upon spirituality. It is the Divine that links spirituality and social existence.

Apakah yang dimaksud dengan spirituality? Spiritualitas adalah suatu kebulatan tekad untuk merealisasikan kesadaran kosmik (cosmic consciousness). Spirituality bertujuan untuk membekali serta mempersiapkan setiap orang dalam memanifestasikan secara utuh divine cosmic consciousness-nya (Chaitanya). Kesadaran kosmik tersebut eksis baik di dalam maupun di luar diri manusia. Dengan perkataan lain, spirituality bertujuan untuk mengikis-habis kecenderungan-kecenderungan rendah (baca: sifat-sifat kebinatangan) dan sebaliknya untuk mengembangkan divine tendencies (kecenderungan Ilahiah) di dalam diri manusia. Artinya, spirituality berfungsi untuk menghapus tembok pemisah antara Tuhan dan Nature (alam), karena keduanya memang pada prinsipnya adalah satu adanya. Dewasa ini, banyak orang yang beranggapan bahwa spiritualitas tidak ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Padahal ini adalah pengertian yang salah. True divinity justru adalah merupakan kombinasi antara spirituality dan tanggung-jawab sosial. National unity dan social harmony dibangun atas landasan spirituality. Divinity adalah penghubung antara spirituality dan social existence.

-BABA

Tuesday, January 15, 2008

Thoughts for the Day - 16th January 2008 (Wednesday)




Man's conduct is based on his thoughts. Thoughts are based on desires. Desires depend on the company that one keeps. The company of noble people gives rise to noble thoughts. The mind by nature is pure, but it gets polluted by association with evil qualities. Purification of the mind is therefore the main spiritual practice that one has to undertake. Repent wholeheartedly for the mistakes that have been committed. This penance will purify your mind and make it sacred.

Tingkah-laku manusia didasari oleh pemikirannya. Pikiran dilandasi oleh keinginan, sedangkan keinginan bergantung pada jenis pergaulan yang dimiliki oleh seseorang. Pergaulan dengan orang-orang yang saleh akan membangkitkan pemikiran yang positif & luhur. Pada dasarnya manusia memiliki mind yang murni, namun oleh karena salah pergaulan, maka mind tersebut mengalami polusi/kontaminasi. Oleh sebab itu, purifikasi mind merupakan latihan spiritual pokok yang harus dilaksanakan oleh setiap orang. Sesalilah sepenuh hati atas kesalahan-kesalahan yang sudah pernah dilakukan. Latihan seperti ini akan memurnikan batinmu serta mensucikannya.

-BABA