Thursday, November 20, 2008

Thoughts for the Day - 21st November 2008 (Friday)


Sanathana Dharma which teaches the Truth of all religions and tolerance of all religions is the Dharma of all mankind. Born in various regions, flowing through various paths, the rivers at last reach the ocean; so, too, born in different lands, practising different faiths, people reach the ocean of the Lord through different modes of worship.

Sanathana Dharma - yang mengajarkan tentang kebenaran dari setiap agama serta sikap toleransi dari semua ajaran - merupakan Dharma bagi seluruh umat manusia. Walaupun terbentuk di daerah yang berbeda, mengalir melalui aliran yang beragam; namun pada akhirnya sungai harus bermuara ke samudera. Demikianlah, walaupun engkau terlahir di benua yang saling berbeda, mempraktekkan ajaran kepercayaan yang tidak sama; namun pada akhirnya engkau harus kembali kepada-Nya melalui berbagai macam cara ibadah yang bervariasi.
-BABA

Wednesday, November 19, 2008

Thoughts for the Day - 20th November 2008 (Thursday)


The desires that cling to the mind are the blemishes that tarnish man's inner consciousness. Control the senses, do not yield to their insistent demands for satisfaction. When a corpse is placed on a pyre, and when the pyre is lit, both the corpse and the pyre are reduced to ashes. So too, when the senses are negated, the mind too disappears. When the mind disappears, delusion dies and liberation is achieved.

Keinginan-keinginan (duniawi) adalah bagaikan noda-noda yang mencemari inner consciousness manusia. Kendalikanlah panca inderamu, dan janganlah engkau membiarkan dirimu diseret oleh keinginan-keinginannya. Ketika jenazah diletakkan di atas tempat perabuan dan kemudian api dinyalakan, maka baik kayu bakar maupun jenazah itu akan menjelma menjadi abu. Demikian pula, apabila kita sanggup mengingkari keinginan panca indera, maka mind akan kehilangan taringnya. Dan apabila mind sudah lenyap, maka delusi juga akan sirna dan tercapailah pencerahan (pembebasan/moksha).
-BABA

Tuesday, November 18, 2008

Thoughts for the Day - 19th November 2008 (Ladies Day)


Women are the makers of the home, the nation and the world. They are the mothers who shape the generation to come. So, they must enshrine in their hearts the spiritual urge towards light and love, wisdom and bliss. The Feminine Principle is the foundation on which a peaceful and happy world is to be raised. When women are true, brave, kind, and compassionate, the world can have an era of peace and joy.

Wanita adalah pendiri rumah-tangga, bangsa dan negara. Mereka adalah kaum ibu yang akan mengembleng para generasi penerus. Oleh sebab itu, para wanita harus menanamkan di dalam hatinya: dorongan spiritual yang menjurus kepada cahaya (Ilahi), cinta-kasih, kebijaksanaan dan bliss (ananda). Prinsip feminin adalah sebagai landasan berdirinya dunia yang damai dan bahagia. Ketika para wanita telah menjiwai nilai-nilai kebenaran, keberanian, kebajikan dan welas-asih, maka dengan sendirinya dunia ini akan memasuki era kedamaian dan kebahagiaan pula.
-BABA

Monday, November 17, 2008

Thoughts for the Day - 18th November 2008 (Tuesday)


Man is born out of desires and lives to fulfil his desires. His life is based on desires and thoughts which control his actions. Hence, man's destiny is determined by his thoughts. To act according to the dictates of the senses is the code of animals. What we should have is Divine Consciousness. The Divine Incarnation comes to warn, to guide, to awaken, to lay down the path and shed the light of love on it. But man has to listen, learn and obey with hope and faith.

Manusia terlahir oleh karena adanya unsur keinginan dan kehidupannya adalah dalam rangka pemenuhan terhadap keinginan-keinginannya tersebut. Kehidupan manusia dilandasi oleh keinginan dan buah pikiran yang mengendalikan setiap pola tindak-tanduknya. Apabila dalam bertindak manusia hanya mengikuti arahan panca inderanya semata-mata, maka itu sama saja artinya bahwa yang bersangkutan telah mengadopsi code of animals (sifat kebinatangan). Yang kita perlukan adalah Divine Consciousness (Kesadaran Ilahiah). Inkarnasi Tuhan (Avatar) telah datang untuk memberi peringatan, menuntun, mencerahkan serta menerangi jalan. Yang perlu dilakukan oleh manusia adalah mendengar, mempelajari serta mematuhi arahan-arahanNya dengan penuh keyakinan dan harapan.
-BABA

Sunday, November 16, 2008

Thoughts for the Day - 17th November 2008 (Monday)


The Avatar (Divine Incarnation) has come solely for saving mankind in response to the yearnings of noble people. He is aware of the past, present and future of all. He has come to lead and liberate. He comes when a large number of good men are afflicted with fear of the survival of goodness. The Lord incarnates to feed their drooping spirits and revive faith and courage in their hearts.


Kedatangan seorang Avatar adalah sebagai jawaban terhadap doa-doa mereka yang saleh dan demi untuk menyelamatkan umat manusia. Beliau mengetahui masa lampau, sekarang dan masa yang akan datang dari setiap insan! Beliau datang untuk menuntun serta membebaskan. Kehadiran-Nya bertepatan dengan saat dimana terdapat sejumlah orang bajik yang mulai dirundung ketakutan atas eksistensi kebajikan di dunia ini. Avatar berinkarnasi demi untuk mengembalikan semangat mereka yang sudah mulai kendor serta membangkitkan kembali keyakinan dan keberanian di dalam hatinya.

-BABA


Saturday, November 15, 2008

Thoughts for the Day - 16th November 2008 (Sunday)


The real nature of Avatars (Divine Incarnations) is one of unalloyed bliss. His heart overflows with limitless and boundless love when He beholds His devotees. There can be no change in His attitude and affection. But, the ignorant attribute the changes they imagine or the differences they see to God out of their petty-mindedness. When we are happy, we praise God, and in suffering we condemn Him. God, as a guardian has come to warn and wean people away from harmful habits. If necessary, He will not hesitate to resort to infliction of pain as a curative and corrective treatment.


Bliss adalah salah-satu ciri khas seorang Avatar. Dari diri Beliau tercurah cinta-kasih berlimpah bagi para bhakta-bhakta-Nya. Cinta-kasih-Nya tak pernah mengalami perubahan. Namun walaupun begitu, tetap saja ada sebagian orang – sebagai akibat kebodohan batinnya – yang mencoba untuk memberi atribut atas perubahan dalam diri avatar, hal ini terutama pada saat mereka merasakan adanya perubahan itu (yang tiada lain adalah hasil imajinasinya belaka). Ketika hati kita senang, kita memuji Tuhan; sebaliknya ketika sedang menderita, kita mencelaNya. Tuhan – sebagai pengayom – telah datang untuk menasehati manusia agar menjauhi kebiasaan yang berbahaya. Jikalau memang dianggap perlu, Beliau tidak akan segan-segan untuk menempuh jalan yang lebih keras sebagai tindakan pencegahan maupun untuk mengoreksi kita.

-BABA


Friday, November 14, 2008

Thoughts for the Day - 15th November 2008 (Saturday)



You ignore the divinity you have as the core of your being; at the same time, you seek it in others. This is the tragedy. You insult yourself by feeling helpless, weak and inferior. Cowardice and self-condemnation are not your qualities, you, who are a spark of the Divine flame. Once the ego is suppressed, that very moment two consequences follow: Freedom from grief and Freedom from joy. To achieve this great consummation, you must take one step after another. Good deeds like Pooja (worship), Dhyana (meditation) and the observance of vows etc. are steps on the way; good thoughts like prayer for greater discrimination, more chance to help others - also help. Slowly, steadily, cleanse the mind; sharpen the intellect; purify the senses and win His Grace.

Tragedi yang menimpa manusia dewasa sekarang ini adalah bahwa mereka cenderung mengabaikan divinitas yang ada di dalam dirinya sendiri; dan sebaliknya, mereka malahan mencoba untuk mencarinya di dalam diri orang lain. Dengan demikian, itu sama saja artinya dengan penghinaan terhadap dirimu sendiri, oleh karena engkau merasa tak berdaya, lemah dan inferior. Sikap pengecut dan self-condemnation (menyalahkan diri sendiri) bukanlah kualitas dirimu yang sebenarnya, oleh sebab engkau pada hakekatnya adalah percikan api Ilahi. Ketika engkau sanggup mengatasi ego-mu, maka pada saat itu timbullah dua bentuk konsekuensi, yaitu: pembebasan dari penderitaan dan juga dari kesenangan (freedom from grief and joy). Untuk mencapai keadaan itu, maka engkau harus mengambil langkah satu demi satu. Perbuatan baik seperti Pooja (ibadah), Dhyana (meditasi) dan sila (mengikuti nilai-nilai kemoralan) adalah langkah-langkah tersebut; sementara itu, pikiran-pikiran positif berikut juga membantu, seperti doa-doa untuk meminta anugerah kebijaksanaan dan kesempatan yang lebih banyak untuk menolong orang lain. Secara perlahan dan mantap, bersihkanlah batinmu; pertajam intellect (buddhi); suci & murnikah panca indera; dengan demikian, Rahmat-Nya akan menjadi milikmu.
-BABA