Tuesday, April 7, 2009

Thought for the Day - 7th March 2009 (Tuesday)


The Vedas have taught the means to make life in the world pure and meaningful. They have declared: " Na karmanaa na prajayaa dhane na, thyaagenaike amrutatwamaanashuhu" (not through rituals, progeny or wealth, but only through sacrifice can immortality be achieved). A Thyagi (renunciant) does not hesitate even to sacrifice his body for others welfare. Sacrifice means something more than giving up of wealth, gold and material objects. Evil qualities like hatred, jealousy, wrath and malice which have become ingrained in man over many lifetimes should be discarded.

Weda telah mengajarkan cara untuk membuat hidup di dunia murni dan bermakna. Weda telah mengatakan:” Na karmanaa na prajayaa dhane na, thyaagenaike amrutatwamaanashuhu" (bukan melalui upacara agama, keturunan atau kekayaan, tetapi hanya melalui pengorbanan keabadian dapat dicapai). Seorang Thyagi (orang yang sudah melepaskan diri dari ikatan duniawi) bahkan tidak ragu-ragu untuk mengorbankan dirinya untuk kesejahteraan orang lain. Pengorbanan berarti memberi sesuatu yang lebih dari harta, emas dan benda lain. Sifat buruk seperti kebencian, kecemburuan, kemarahan dan kedengkian yang sudah berurat akar pada manusia sepanjang hidupnya, harus dilenyapkan.

 

-BABA

Monday, April 6, 2009

Thought for the Day - 6th April 2009 (Monday)


To win perfect happiness, one has to follow the path of Bhakti (devotion), dedicating oneself fully to the Lord. It cannot be got by any other means. The path of Jnana (wisdom) is possible for only one in a million. Under present conditions, Jnana-marga (path of wisdom) is indeed very difficult. The Karma-marga (path of action) and Yoga-marga (path of mind control) are also full of obstacles. Therefore, Bhakti-marga (path of devotion) is the smoothest, the most conducive to success and yields infinite bliss.

 Untuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, seseorang harus mengikuti jalan Bhakti, mempersembahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan cara lainnya. Jalan Jnana mungkin hanya bisa dilakukan oleh satu orang dalam satu juta orang. Sesuai dengan kondisi sekarang, Jnana-marga sesungguhnya sangat sulit. Karma-marga dan Yoga-marga juga penuh dengan rintangan-rintangan. Oleh karena itu, Bhakti-marga adalah yang paling mudah, yang paling baik menuju keberhasilan dan menghasilkan kebahagiaan tanpa batas.

 

-BABA

Sunday, April 5, 2009

Thought for the Day - 5th April 2009 (Sunday)


The fundamental ignorance called Maya (delusion) plays many tricks with you. It makes you believe the rope to be a snake and you run away in fright. It makes you imagine a lake of water where there are only the hot sands of the desert, and you run towards it to slake your thirst! And you call it, "mayaa," meaning, "through me," "for me," in Sanskrit, thus identifying yourselves with it, as if it is real and beneficial. The moment you realize it is illusory, it ceases to bother you. Maya creates the universe; it spreads before the mind the vast paraphernalia of the objective world. It is a Narthakee (dancer), an enchantress who entices the intelligence and traps the senses. This Na-rtha-kee can be subdued by Kee-rtha-na. Keerthana is the contemplation and singing of the glory of God.

 

Kebodohan bernama khayal (Maya) memainkan banyak muslihat denganmu. Hal ini membuatmu percaya tali menjadi ular dan engkau melarikan diri dalam ketakutan. Hal itu membuatmu membayangkan sebuah air danau di padang pasir yang hanya ada pasir-pasir panas, dan engkau berlari mendekatinya untuk memuaskan dahagamu. Dan engkau menyebutnya, “mayaa” artinya “melewatiku”, “untukkku” dalam bahasa Sansekerta, dengan demikian mengidentifikasi dirimu dengannya, seolah-olah nyata dan bermanfaat. Saat engkau menyadari bahwa itu khayal, ia berhenti mengganggumu. Maya menciptakan alam semesta, menyebar lebih cepat dari pikiran yang merupakan perhiasan-perhiasan yang sangat banyak dari dunia ini. Ini merupakan suatu Narthakee (penari), seorang wanita yang mempesona yang memikat kecerdasan dan membelenggu indera. Na-rtha-kee dapat ditundukkan dengan Kee-rtha-na. Keerthana adalah merenungkan dan menyanyikan kemuliaan Tuhan.

 

-BABA

Saturday, April 4, 2009

Thought for the Day - 4th April 2009 (Saturday)


It is only when the mind is completely under control that man can grasp his real identity. Then all troubles and travails, doubts and dilemmas, come to an end. Man then overcomes sorrow, delusion and anxiety. He is established in the holy calmness of Shanti (peace). Spiritual life is not a matter of meaningless talk. It is an experience of pure Ananda (bliss).

Hanya ketika pikiran sepenuhnya dikendalikan, manusia dapat memahami identitasnya yang sejati. Maka semua masalah dan gangguan, keragu-raguan dan kesusahan, segera berakhir. Manusia lalu mengatasi kesedihan, khayalan dan kekhawatiran. Manusia mantap dalam ketenangan suci dengan damai (Shanti). Kehidupan spiritual bukanlah sekedar pembicaraan yang tidak berguna. Itu adalah sebuah pengalaman dari kebahagiaan (Ananda) yang murni.

 -BABA

Friday, April 3, 2009

Thought for the Day - 3rd April 2009 (Friday)


Ravana was in no way inferior to Rama in terms of knowledge but sage Valmiki, the composer of Ramayana, described Ravana as a fool and extolled Rama as one of wisdom. The reason was that Rama put His knowledge into practice and led an exemplary life. On the other hand, Ravana did not practice the knowledge he acquired, became a slave to his senses and thus ruined himself, his kingdom, and his entire clan. Education is meant not to satisfy the senses but to make one transcend the senses and set an ideal to society. Human body is bound by senses, which are responsible for both good and evil. Hence, it is the foremost duty of man to make proper use of the senses.

 Rahwana sama sekali tidak lebih rendah dari Rama dalam hal pengetahuan tetapi Rsi Valmiki, penggubah Ramayana, menggambarkan Rahwana sebagai orang bodoh dan memuji Rama sebagai seorang bijaksana. Alasannya adalah Rama menggunakan pengetahuan-Nya dalam praktek dan menjadi teladan dalam kehidupan. Di sisi lain, Rahwana tidak mempraktekkan pengetahuan yang ia peroleh, menjadi orang yang menjadi budak inderanya dan dengan demikian menghancurkan dirinya, kerajaannya, dan seluruh kaumnya. Pendidikan tidak dimaksudkan untuk memuaskan indera tetapi untuk membuat seseorang mengatasi inderanya dan menjadi teladan di masyarakat. Badan manusia terikat oleh indera, yang bertanggung jawab atas kebaikan dan kejahatan. Oleh karena itu, erupakan kewajiban manusia untuk menggunakan inderanya dengan sepantasnya.

 -BABA

Thursday, April 2, 2009

Thought for the Day - 2nd April 2009 (Thursday)


If everything is dedicated to the Lord, there will be no room for worry or sorrow, or even of joy. If you rid yourself thus of attachment, your Shanti (peace) can never be disturbed. 'I', 'my', 'mine', 'you', 'yours' - when these ideas take hold of the mind, Shanti suffers a setback.

Jika segalanya dipersembahkan kepada Tuhan, tidak akan ada ruang untuk kecemasan atau kesedihan, atau bahkan kegembiraan. Jika engkau membebaskan dirimu dari keterikatan, kedamaianmu (Shanti) tidak pernah terganggu. ‘Aku’, ‘Kepunyaanku’, ‘Milikku’, ‘Engkau’, ‘Kepunyaanmu’ – ketika gagasan-gagasan ini memenuhi pikiran, Shanti mengalami kemunduran.

-BABA

Wednesday, April 1, 2009

Thought for the Day - 1st April 2009 (Wednesday)


There is a creator behind this enchanting cosmos. He is Omniscient, Omnipotent and Omnipresent. He is worshiped as God using many names and in many forms by various people. Unity, brotherhood and devotion are essential for every human being. To promote these sacred qualities in mankind, some great souls sought to establish different religions. Religion is not a restrictive concept. Religion is intended to develop the human personality and indicate the basic guidelines for right living. Religion brings out the humanness in man and enables him to live in harmony with his fellowmen. It provides the link between the individual and the Divine. It demonstrates the unity that underlies the diversity in creation.

Ada sang pencipta dibalik alam semesta yang memukau ini. Beliau maha tahu, maha kuasa dan maha ada. Beliau di puja sebagai Tuhan dengan banyak nama dan berbagai wujud oleh berbagai umat manusia. Persatuan, persaudaraan dan pemujaan sangat penting bagi setiap umat manusia. Untuk meningkatkan sifat-sifat mulia yang suci ini dalam diri manusia, beberapa jiwa besar mencari untuk membuktikan perbedaan agama yang beragam. Agama bukanlah suatu konsep yang membatasi. Agama sendiri bertujuan untuk mengembangkan kepribadian umat manusia dan menunjukkan dasar dari pedoman hidup yang benar. Agama membawa keluar prikemanusiaan yang terdapat didalam manusia dan memungkinkan mereka hidup dalam harmony dengan sesama. Agama menyediakan hubungan antara individu dan Tuhan. Agama menunjukkan kesatuan dengan keragaman dalam penciptaan.

-BABA