Sunday, June 21, 2009

Thought for the Day - 21st June 2009 (Sunday)


Why does man wail when he arrives into the world, whimper throughout his life and groan out, into the beyond, lamenting that his sojourn here was a waste of years? Man does so, because he is unaware of his glory, of his high destiny! He is the Divine poured into the human mould. It is the privilege of man alone, to be able to become aware of this precious truth! This is the message of the Upanishads to man, echoed in scriptures, and in the declarations of countless saints. Yet, man turns a deaf ear to it, perhaps, due to his own misfortune created by his own misdeeds in past lives. What an inexhaustible source of bliss lies within you! You only have to develop the mind that will respond to the call, that will recognise the Truth.

Mengapa manusia meratap ketika ia lahir di dunia, merengek selama hidupnya dan mengeluhkan hal-hal yang tidak berguna, menyesal dan menganggap persinggahan di dunia merupakan hal yang sia-sia? Manusia berbuat seperti ini, karena ia tidak menyadari keutamaannya, tidak sadar akan takdir mulianya! Manusia adalah unsur-unsur Tuhan yang tertuang dalam bentuk manusia. Merupakan sebuah perjalanan suci dari manusia itu sendiri untuk menyadari kebenaran yang sangat berharga ini. Ini adalah pesan dari Upanishad yang digaungkan oleh kitab-kitab suci, yang di deklarasikan oleh orang-orang suci yang tidak terhitung banyaknya. Namun manusia tidak menghiraukannya, mungkin ini merupakan kemalangan oleh tingkah laku mereka sendiri yang tidak benar yang telah dilakukan di kehidupannya yang lalu. Sadarilah bahwa terdapat sumber abadi yang tiada habis dalam dirimu. Engkau hanya perlu untuk mengembangkan kesadaran untuk menindaklanjuti panggilan ini, kesadaran untuk mengenali kebenaran ini.

-BABA

Saturday, June 20, 2009

Thought for the Day - 20th June 2009


You have to make your love pure. To do so, you must develop Kshama (forbearance), which implies remaining serene, patient and observing self-restraint under all circumstances, doing good to all, even to those who may want to harm you. There is nothing greater than Kshama. Kshama is equivalent to truth itself. It is the heart of Dharma (righteousness). It is non-violence in practice. Kshama is contentment, compassion; truly, it is everything in all the worlds. Only when you have developed Kshama will you be able to attain the Lord.

Engkau harus memurnikan kasihmu. Untuk melakukannya, engkau harus mengembangkan Kshama (pengendalian diri), yang menyiratkan ketenangan, kesabaran dan pengendalian diri dalam segala keadaan, melaksanakan hal-hal baik kepada semuanya, bahkan juga kepada mereka yang mungkin ingin menyakitimu. Tiada ada apapun yang lebih utama dari Kshama. Kshama setara dengan kebenaran itu sendiri. Ia adalah jantungnya Dharma (kebenaran). Ini adalah tanpa kekerasan dalam praktek. Kshama adalah kepuasan hati, perasaan iba; benar-benar hal ini adalah segalanya di dunia ini. Hanya ketika engkau mengembangkan Kshama engkau akan mampu mencapai Tuhan.

-BABA

Friday, June 19, 2009

Thought for the Day - 19th June 2009 (Friday)


Without God, there is no universe. To ask for physical proof of the existence of bliss or love or the fragrance of a flower is impracticable. To deny the reality of love on the ground that it has no recognizable form is meaningless. Love may have no form, but the mother who exhibits love has a form. All beings are manifestations of the Cosmic Divine. The forms are different, but the spirit that animates them all is One, like the current that illumines bulbs of different colours and wattage. Cultivate this feeling of oneness and do not be critical of any faith or religion. Dedicate your lives to the service of your fellow beings. Thereby, you will be redeeming your lives.

Tanpa Tuhan, tidak akan ada alam semesta. Untuk meminta bukti fisik adanya kebahagiaan atau kasih atau keharuman dari suatu bunga, hal ini tidaklah mungkin. Untuk menyangkal kenyataan adanya kasih dalam suatu tempat bahwa itu tidak memiliki wujud yang dapat dikenal adalah tidak ada artinya. Kasih mungkin tidak mempunyai wujud, tetapi ibu yang memperlihatkan kasih mempunyai wujud. Semua makhluk adalah manifestasi dari Tuhan. Wujud-wujudnya berbeda, tetapi jiwa yang menghidupkan mereka semua adalah Satu, seperti arus lisrik yang menerangi bola lampu dengan perbedaan warna dan jumlah watt. Pahami hal ini yang merupakan sifat keesaan Tuhan dan jangan mengkritik kepercayaan atau agama apapun. Persembahkan hidupmu untuk melayani sesama umat manusia. Dengan demikian, engkau menyelamatkan hidupmu.

-BABA

Thursday, June 18, 2009

Thought for the Day - 18th June 2009 (Thursday)


Character is the true ornament of man. The loss of this ornament is the source of all his suffering and misery. Man does not realize the purpose for which he has been created by God. God’s creation is pregnant with profound truths, mysteries and ideals. But man has forgotten these ideals. He is unable to appreciate the significance of his legacy. Of all the powers in the world, human power is the greatest. Man assigns value to everything in this world, but he is unable to recognize his own value.

Karakter adalah perhiasan sejati manusia. Kehilangan perhiasan ini adalah sumber dari semua penderitaan dan kesengsaraan. Manusia tidak menyadari tujuannya diciptakan oleh Tuhan. Ciptaaan Tuhan dipenuhi dengan kebenaran yang mendalam, misteri-misteri dan tujuan akhir. Tetapi manusia telah melupakan tujuan akhir ini. Ia tidak mampu untuk menghargai makna warisannya. Dari semua kekuatan di dunia, kekuatan manusia adalah yang terbesar. Manusia memberikan nilai kepada segalanya di dunia ini, tetapi ia tidak mampu untuk mengenali nilainya sendiri.

-BABA

Wednesday, June 17, 2009

Thought for the Day - 17th June 2009


The importance of the mind in the process of transformation should be properly understood, because it is the mind that is the cause of both bondage and liberation. Your own actions are the cause of your happiness or sorrow. Do not blame others for your condition. Every thought, every word and every action has its reflection, resound and reaction. It is a sign of weakness to blame others for your troubles. You have to bear the consequences of your own actions. If they are unbearable, pray to God for relief. God alone can give relief in such cases.

Pentingnya pikiran dalam proses transformasi seharusnya dipahami dengan baik, karena pikiranlah yang menyebabkan keterikatan dan kebebasan. Perbuatan-perbuatanmu sendiri adalah penyebab kebahagiaan atau kesedihanmu. Jangan menyalahkan orang lain untuk kondisimu. Setiap pikiran, perkataan dan perbuatan memiliki cerminan dan merupakan reaksi dari apa yang telah engkau pikirkan, katakan, atau perbuat. Ini merupakan tanda kelemahan untuk menyalahkan orang lain untuk masalah-masalahmu. Engkau harus menanggung akibat dari perbuatan-perbuatanmu sendiri. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, berdoalah kepada Tuhan untuk meminta bantuan-Nya. Tuhan sendiri akan memberikan bantuan pada keadaan tersebut.

-BABA

Tuesday, June 16, 2009

Thought for the Day - 16th June 2009 (Tuesday)


Simple faith in the words of the wise is more profitable than years of study and discussion. Contemplate on the Vedic dictum - Tat Twam Asi (You are That). As you ruminate over it, meanings will dawn upon you without the help of any commentary. Commentaries only tend to confuse you. Think of 'Tat' ("That" standing for Divinity), analyse 'Twam' (you), and then you will be convinced that 'Asi' (are) is the only solution. You are in the Light; the Light is in you; you are the Light - these are three successive steps to realisation.

Memiliki kepercayaan yang sederhana pada kata-kata dari orang bijaksana lebih berguna dibandingkan dengan studi dan diskusi yang dilakukan selama bertahun-tahun. Renungkan pernyataan Veda – Tat Twam Asi (Engkau adalah Aku). Ketika engkau merenungkan lebih dalam tentang hal tersebut, akan makna yang lebih jelas kepadamu tanpa bantuan penjelasan-penjelasan, penjelasan tersebut cenderung hanya membuatmu keliru. Berpikir tentang ‘Tat’ (Hal tersebut mewakili Tuhan), menganalisa ‘Twam’ (engkau), dan selanjutnya engkau akan diyakinkan bahwa ‘Asi” (adalah) adalah satu-satunya solusi. Engkau di dalam Cahaya; Cahaya di dalam dirimu; engkau adalah Cahaya – hal ini adalah tiga langkah berturut-turut untuk merealisasikannya.

-BABA

Monday, June 15, 2009

Thought for the Day - 15th June 2009 (Monday)


By Dhyana (meditation), you develop Jnana (spiritual wisdom) and by Japam (recitation of God's Name) you develop Bhakti (devotion) and by both, you cleanse your heart of the canker of ego. You can link yourselves with God, by a chain of love, through the recitation of the name, in silence and with full awareness of the meaning and its nuances. Each time you utter the Divine Name; the more the links the longer the chain, the firmer the bond. But, each link has to be well forged out of well tempered steel. One false link, that is to say, the Name once uttered in sloth or slight, indifference or anger, resentment or rancour, will constitute a weak link and the bond will not bind.

Dengan Dhyana (meditasi), engkau mengembangkan Jnana (kebijaksanaan spiritual) dan dengan Japam (pengulangan nama Tuhan) engkau mengembangkan Bhakti dan dengan keduanya, engkau membersihkan hatimu dari karat yang berasal dari ego. Engkau dapat menghubungkan dirimu dengan Tuhan, dengan rantai kasih, melalui pengulangan nama Tuhan, dalam keheningan dan dengan penuh kesadaran akan arti dan nuansa-nuansanya. Setiap kali engkau memanjatkan Nama Tuhan; semakin banyak sambungan semakin panjang rantai, semakin kokoh ikatan. Tetapi, setiap mata rantai harus ditempa dengan baik di tempat pandai besi. Satu mata rantai yang keliru, dapat dikatakan, sekali Nama-Nya diucapkan dalam kemalasan atau meremehkan, ketidakpedulian atau kemarahan, kebencian atau dendam akan menghasilkan rantai yang lemah dan ikatan itu tidak akan mengikat.

-BABA