Monday, November 5, 2018

Thought for the Day - 5th November 2018 (Monday)

You may acquire various types of knowledge and travel across the globe. But, in spite of all your worldly achievements, you are not able to understand the principle of love. Once you have the taste of selfless love, you will see the world in its real form. Therefore, truly become embodiments of love. Let love flow incessantly from your heart. Immerse yourself in the flow of love. Out of love, emerges truth and righteousness. Speak the truth, practice righteousness. Truth and righteousness are the two pillars on which the mansion of human life rests. Adore love. Live in love. There is no greater education than this. Traverse the path of love. Partake of the food of love. It is not enough if you merely partake of love, you should also assimilate and digest it. Only then the essence of love will spread to every cell of your body giving you immense strength and wisdom.


Engkau mungkin belajar berbagai jenis pengetahuan dan menjelajahi seluruh dunia. Namun, terlepas dari semua pencapaian duniawimu, engkau tidak mampu memahami prinsip dari kasih sayang. Sekali engkau merasakan kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri, engkau akan melihat dunia dalam bentuk yang sesungguhnya. Maka dari itu, benar-benar menjadi perwujudan dari kasih sayang. Biarkan kasih mengalir secara terus-menerus dari hatimu. Benamkan dirimu sendiri dalam aliran kasih. Karena kasih, muncullah kebenaran dan kebajikan. Berbicara kebenaran, jalankan kebajikan. Kebenaran dan kebajikan adalah dua pilar dimana rumah besar hidup manusia berada. Muliakan kasih. Hiduplah dalam kasih. Tidak ada Pendidikan yang lebih hebat daripada ini. Tempuh jalan kasih. Santaplah makanan kasih. Adalah tidak cukup jika engkau hanya makan kasih, engkau juga seharusnya meresapi dan mencernanya. Hanya kemudian intisari dari kasih akan menyebar pada setiap sel dari tubuhmu memberikanmu kekuatan dan kebijaksanaan yang sangat besar. (Divine Discourse, Oct 17, 2003)

-BABA

Thought for the Day - 4th November 2018 (Sunday)

There is no point in talking sweetly if there is no sweetness in your heart. Sweetness in speech and bitterness in heart is not the quality of a human being. There should be sweetness in your thought, word and deed. This is the true sign of a human being. There is love in you, but you are not able to express it in the proper way. You should fill your life with selfless love. There is nothing superior to love in this world. Human beings are considered to be most sacred because they have the unique quality of love in them. But you are not able to realize the value of human birth. God incarnates in human form in order to spread the message of selfless love. Once you have selfless love in your heart, you can conquer the whole world.


Tidak ada gunanya berbicara dengan manis jika tidak ada rasa manis di dalam hatimu. Rasa manis dalam perkataan dan rasa pahit di dalam hati bukanlah kualitas dari manusia. Seharusnya ada rasa manis dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Ini adalah tanda dari manusia yang sesungguhnya. Ada kasih sayang di dalam hatimu, namun engkau tidak mampu mengungkapkannya dengan cara yang tepat. Engkau seharusnya mengisi hidupmu dengan kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada yang lebih hebat daripada kasih di dunia ini. Manusia dianggap yang paling suci karena manusia memiliki kualitas kasih yang unik dalam dirinya. Namun engkau tidak mampu menyadari nilai dari kelahiran sebagai manusia. Tuhan mengambil wujud manusia dalam upaya untuk menyebarkan pesan kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri. Sekali engkau memiliki kasih yang tanpa mementingkan diri sendiri di dalam hatimu, engkau dapat menaklukkan seluruh dunia. (Divine Discourse, Oct 17, 2003)

-BABA

Thought for the Day - 3rd November 2018 (Saturday)

You should treat your fellowmen as your own brothers. You deserve to be called a human being only when you cultivate the spirit of unity. Where there is no unity, there you will find enmity and hatred. Subsequently, the principle of love is lost altogether. There should be unity and love not only among brothers but also between the husband and wife, and all relationships within the family. Your foremost duty is to share His love with others. Only then can you realise the significance of the noble dictum: “Brotherhood of man and fatherhood of God”. But, unfortunately, such idealism is not found today. Even if you do not believe in the fatherhood of God, but you must have faith in the brotherhood of man; practice it and experience bliss therefrom. Our country, Bharat will regain its pristine glory only when we achieve such unity.


Engkau harus memperlakukan sesamamu sebagai suadaramu sendiri. Engkau layak dipanggil sebagai manusia hanya ketika engkau meningkatkan semangat persatuan. Dimana tidak ada persatuan, disana engkau akan menemukan permusuhan dan kebencian. Sesudah itu, prinsip kasih akan hilang semuanya. Harus ada persatuan dan kasih tidak hanya dalam saudara namun juga diantara suami dan istri, dan semua hubungan di dalam keluarga. Kewajibanmu yang paling utama adalah untuk berbagi kasih Tuhan dengan yang lainnya. Hanya kemudian engkau dapat menyadari makna dari kutipan yang luhur: “Persaudaraan manusia dan keyakinan Tuhan”. Namun, sangat disayangkan bahwa idealisme seperti itu tidak ditemukan hari ini. Bahkan jika engkau tidak percaya pada keyakinan Tuhan, namun engkau harus memiliki keyakinan pada persaudaraan manusia; praktikkan ini dan alami kebahagiaan dari hal itu. Bangsa kita, bharat akan mendapatkan kembali kemuliaannya yang sejati ketika kita mencapai persatuan yang seperti itu. (Divine Discourse, Oct 17, 2003)

-BABA

Thought for the Day - 2nd November 2018 (Friday)

Truly speaking, you are the very embodiments of love. Let the stream of love flow from one heart to another. Consider love as your life. This is your foremost duty. You may search anywhere in the world. You cannot find anything greater than love. Love is the divine magnetic power present in the human being. All the sacred epics like the Ramayana, the Mahabharata and the Bhagavata, have love as the undercurrent. Love is the magnetic power that can transform even your bitter enemy into a dearest friend. Develop love. This is more important than your worldly education. Love is life. Not merely that, Love is light. It illumines your path and helps you reach the goal. Your journey of life will be safe and secure when you carry the light of love with you. You will never find darkness. Fill your heart with love. Love is God. Live in love. This is what you have to learn today.


Berbicara yang sebenarnya, engkau adalah perwujudan dari cinta-kasih. Biarkan aliran kasih mengalir dari satu hati ke hati yang lainnya. Pertimbangkan kasih adalah sebagai hidupmu. Ini adalah kewajibanmu yang utama. Engkau mungkin mencari kemana saja di dunia. Engkau tidak bisa menemukan apapun yang lebih besar daripada kasih. Kasih adalah kekuatan magnet ilahi yang ada dalam diri manusia. Semua kisah suci seperti Ramayana, Mahabharata, dan Bhagavata, memiliki kasih sebagai aliran di dalamnya. Kasih adalah kekuatan magnet yang dapat merubah bahkan musuhmu yang paling kasar menjadi sahabat yang tersayang. Kembangkan kasih sayang. Hal ini adalah lebih penting daripada Pendidikan duniawimu. Kasih adalah kehidupan. Tidak hanya itu, kasih adalah pelita. Kasih yang menerangi jalanmu dan membantumu mencapai tujuan. Perjalanan hidupmu akan menjadi aman ketika engkau membawa pelita kasih denganmu. Engkau tidak akan pernah menemukan kegelapan. Isilah hatimu dengan kasih. Kasih adalah Tuhan. Hiduplah dalam kasih. Ini adalah apa yang harus engkau pelajari hari ini. (Divine Discourse, Oct 17, 2003)

-BABA

Thought for the Day - 1st November 2018 (Thursday)

Revere Knowledge as you revere your father, adore Love as you adore your mother, bond fondly with Dharma (righteousness) as if it is your own brother, confide in Daya (compassion) as if it is your dearest friend, have Shantam (calmness) as your better half, and treat Sahana (fortitude) as if it is your own beloved son. These are your genuine kith and kin. Move with them, live with them, do not forsake or neglect them. Living with these kinsmen is the best recipe. That is the best atmosphere to ensure the discipline and detachment needed for mind control. Mere prayer will not do. You will have to swallow and digest the morsel that is put into the mouth; repetition of the name of the dish is of no use. The mother feeds lovingly, but the child must take it in with avidity and relish. When an earthly mother has so much love, who can estimate the love of the Mother of all beings, the Jagatjanani?


Muliakan pengetahuan seperti halnya engkau memuliakan ayahmu, mengagumi cinta kasih seperti halnya engkau mengagumi ibumu, menjalin kasih sayang dengan Dharma (kebajikan) seolah-olah Dharma itu adalah saudaramu sendiri, membukakan isi hati dalam Daya (welas asih) seolah-olah itu adalah teman terbaikmu, miliki Shantam (ketenangan) sebagai belahan hatimu, dan perlakukan Sahana (ketabahan hati) seolah-olah sebagai putra tersayangmu. Keempat ini adalah yang menjadi sanak saudaramu yang sesungguhnya. Berjalanlah dengan mereka, hidup dengan mereka, jangan meninggalkan atau mengabaikan mereka. Hidup dengan sanak saudara ini adalah resep yang terbaik. Itu adalah atmosfer yang terbaik dalam memastikan disiplin dan tanpa keterikatan yang diperlukan dalam mengendalikan pikiran. Berdoa saja tidak akan membantu. Engkau harus menelan dan mencerna potongan roti yang dimasukkan ke dalam mulut; dengan mengulang-ulang saja nama makanan adalah tidak ada gunanya. Ibu memberikan makan dengan penuh kasih, namun anak harus menerimanya dengan riang dan senang. Ketika ibu pertiwi memiliki kasih sayang yang begitu besar, siapa yang dapat mengukur kasih sayang dari Ibu dari semua makhluk hidup, Jagatjanani? (Divine Discourse, Oct 09, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 31st October 2018 (Wednesday)

Cultivate nearness to Me in your heart and you will be rewarded. Then you too will acquire a fraction of the Supreme Love. Do not lose the contact and the company; for, it is only when the coal is in contact with the live embers that it can also become a live ember. You are truly fortunate, blessed with a great chance. This chance will not come your way again, beware of that. If you cannot and do not cross the sea of grief now, when again can you get such a chance? Engage yourself in spiritual discipline, spiritual thoughts, and spiritual company. Let the past go its way. At least from now on seek to save yourself. Never yield to doubt or unsteadiness. Do not get shaken in mind; do not allow faith to decline. That will only add to the grief you already suffer from. Hold fast - that must be your vow.


Tingkatkan kedekatan pada-Ku di dalam hatimu dan engkau akan diberkati. Kemudian engkau juga akan mendapatkan pecahan dari cinta-kasih yang tertinggi. Jangan kehilangan kontak dan pergaulan; karena, hanya ketika batu bara mendapatkan kontak dengan bara api yang menyala maka batu bara itu akan menjadi bara api yang menyala. Engkau sejatinya beruntung, diberkati dengan sebuah kesempatan yang begitu besar. Kesempatan ini tidak akan datang pada dirimu lagi, waspadalah akan hal ini. Jika engkau tidak bisa dan tidak menyebrangi lautan penderitaan sekarang, kapan lagi engkau akan mendapatkan kesempatan yang seperti ini? Libatkan dirimu dalam disiplin spiritual, pemikiran spiritual, dan pergaulan spiritual. Biarkan masa lalu itu berlalu. Setidaknya mulai dari sekarang untuk mencari cara menyelamatkan dirimu. Jangan pernah menyerah pada keraguan atau ketidakmantapan. Jangan menjadi goyah dalam pikiran; jangan izinkan keyakinan menjadi memudar. Hal itu hanya akan menambahkan penderitaan yang sudah engkau alami. Pegang teguh – yang harus menjadi sumpahmu. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA

Thought for the Day - 30th October 2018 (Tuesday)

The eagle is pestered by crows so long as it has a fish in its beak. They swish past that to steal the fish out of its mouth. They pursue the bird wherever it sits for a little rest. At last, it gives up the attachment to the fish and drops it from its beak; the crows fly behind it and leave the eagle free. So, leave off sense pleasures and the crows of pride, envy, malice and hatred will fly away, for they want only carrion. Practise renunciation from now on, so that you may set out on the journey when the call comes, and you never know when that will happen. Else at that moment, you will be in tears, when you think of the house you have built, the property you have accumulated, the fame you have amassed, and the trifles you have won. Know that all this is for the fleeting moment: develop attachment for the Lord, who will be with you wherever you go.


Elang diganggu oleh burung gagak semasih elang membawa ikan di paruhnya. Burung gagak akan terbang cepat untuk mencuri ikan dari paruh elang. Mereka mengejar elang kemanapun bertengger untuk istirahat. Pada akhirnya, elang melepaskan keterikatan pada ikan dan menjatuhkan dari paruhnya; burung gagak akan terbang mengejar ikan itu dan melepaskan elang dengan bebas. Jadi, hentikan kenikmatan dan burung gagak berupa kesombongan, iri hati, kecongkakan, dan kebencian akan terbang jauh, mereka hanya menginginkan bangkai saja. Praktikkan melepaskan keterikatan mulai dari sekarang, sehingga engkau dapat memulai perjalanan ketika panggilan datang, dan engkau tidak pernah mengetahui kapan itu akan terjadi. Kalau tidak, pada saat itu engkau akan meneteskan air mata, pada saat engkau memikirkan rumah yang engkau telah bangun, kekayaan yang engkau telah kumpulkan, ketenaran yang engkau telah kumpulkan, dan sesuatu yang tidak berharga yang telah engkau menangkan. Ketahuilah bahwa semuanya ini adalah hal-hal yang cepat berlalu: kembangkan keterikatan pada Tuhan yang akan bersamamu kemanapun engkau pergi. (Divine Discourse, Oct 10, 1964)

-BABA