Sunday, November 23, 2025

Thought for the Day - 23rd November 2025 (Sunday)


In truth, this Kali era is the most beneficent of the four, for you have now amidst you the eternal embodiment of Ananda (bliss) in a form which you can approach, adore, and learn from. You are singing with Me, conversing with Me, and filling your eyes, ears, and hearts with My utterances and activities. This is not a mere physical body composed of the five elements, nor this day My Birthday, though you may call it thus. This body might have a birthday, but I have no birth. You ascribe an age to Me, but I have no age which can be counted. The Eternal, with neither entrance nor exit; The One who neither Was nor Is nor Will be; The Immortal Person free from birth and death - That Ever-effulgent Atma is Sai forever. Feel with the mind, plan with the intelligence, and use the body to serve those who are in need of service. Offer that act of service to God; worship Him with that flower. Put into daily practice the ideals that Sathya Sai has been propagating and make them known all over the world by standing forth as living examples of their greatness.


- Divine Discourse, Nov 23, 1979

The day on which the principle of love is established in the heart that day is Swami’s Birthday. 


Sejatinya, jaman Kali ini adalah yang paling penuh berkah diantara empat jaman lainnya, karena pada jaman ini kalian hidup bersama dengan perwujudan kebahagiaan abadi (ananda) dalam sebuah wujud yang kalian dapat dekati, hormati, dan belajar dari-Nya. Kalian bernyanyi dengan-Ku, berbicara dengan-Ku, dan mengisi mata, telinga dan hatimu dengan ajaran dan tindakan-Ku. Apa yang kalian lihat ini bukanlah hanya tubuh fisik biasa yang tersusun dari lima unsur, dan hari ini bukanlah hari ulang Tahun-Ku, meskipun kalian menyebutnya begitu. Tubuh fisik ini mungkin memiliki hari kelahiran, namun Aku tidak memiliki kelahiran. Kalian memberikan usia pada-Ku, namun Aku tidak memiliki usia yang dapat dihitung. Dia yang bersifat abadi, Dia yang tanpa awal dan tanpa akhir; Dia yang tidak ada di waktu lalu dan juga tidak ada di masa kini dan juga tidak akan pernah ada di masa depan; Dia yang bersifat kekal bebas dari kelahiran dan kematian – Atma yang selalu bersinar adalah Sai selamanya. Rasakan dengan pikiran, rencanakan dengan kecerdasan, dan gunakan tubuh untuk melayani mereka yang membutuhkan pelayanan. Persembahkan tindakan pelayanan itu kepada Tuhan; pujalah Tuhan dengan bunga tindakan itu. Jalani dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai yang Sathya Sai ajarkan dan tunjukkan kepada seluruh dunia melalui keteladanan hidup kalian sendiri.


- Divine Discourse, 23 November 1979

Hari ketika prinsip kasih tumbuh mengakar kuat di dalam hati, pada hari itulah sesungguhnya hari lahir Swami. 

Friday, November 21, 2025

Thought for the Day - 21st November 2025 (Friday)


It is a custom that when you approach the Lord, you take something with you; this is an act which people do when they go for the fulfilment of some desire, or the grant of Grace for realising some wish. They take patram, pushpam, phalam, toyam (leaf, flower, fruit, water), as the Gita says. The attitude is "I am jiva (individual); He is Deva (Lord)". But, this is as bad a trick as some men do: bring one cow when we ask them for milk, and milk another to give us the milk. They give the Lord the leaf, flower and fruit grown on some tree, and then the reward of Grace goes to the tree, not to them! Give the leaf, flower, fruit that has grown on the tree of your life; the fragrant leaves of your mental resolves and plans, the sweet, juicy fruits of your own activities and thoughts. I know the relative value of these two; I require something that is your very own, not something bought in the bazar or grown on some tree or produced by someone's intelligence or devotion and steadiness. God has given you ‘the heart’ to use in life; return it to Him as clean and as pure as when He gave it, after using it for storing love, peace, righteousness, and truth, and for distributing them to all who come in contact with you. 


- Divine Discourse, Oct 03, 1965

You should offer God what is your own. You have right only on your heart. Offer it to God and offer it with love.


Merupakan sebuah adat istiadat bahwa ketika anda mendekati Tuhan, anda membawa sesuatu; biasanya ini dilakukan ketika mereka ingin suatu keinginan dikabulkan, atau mendapatkan anugerah atas beberapa harapan. Mereka membawa patram, pushpam, phalam, toyam (daun, bunga, buah dan air), seperti yang dinyatakan dalam Bhagava Gita. Sikap dasarnya adalah "aku ini adalah jiva (individual); Beliau adalah Deva (Tuhan)". Namun, cara ini adalah sebagai kelicikan sebagian orang: membawa satu sapi ketika diminta susu, dan memerah sapi lain untuk memberi kita susu. Mereka memberikan Tuhan daun, bunga dan buah yang tumbuh dari beberapa pohon, dan kemudian pahala Rahmat itu justru kembali pada pohon itu dan bukan pada mereka! Yang seharusnya dipersembahkan adalah daun, bunga, buah yang tumbuh pada pohon kehidupanmu sendiri; daun yang harum dari tekad dan niat baikmu, buah manis dari tindakan dan pemikiranmu sendiri. Aku mengetahui perbedaan nilai dari keduanya ini; yang Aku minta adalah sesuatu yang benar-benar berasal dari dirimu, dan bukan sesuatu yang dibeli di pasar atau tumbuh pada beberapa pohon atau dihasilkan dari kecerdasan atau bhakti atau ketekunan orang lain. Tuhan telah memberikanmu ‘hati’ untuk digunakan dalam hidup; kembalikan hati itu kepada-Nya dalam keadaan sebersih dan semurni saat Tuhan memberikanya kepadamu – setelah anda menggunakannya untuk menyimpan kasih, kedamaian, kebajikan, dan kebenaran, serta membagikannya kepada siapapun yang anda temui. 


- Divine Discourse, 03 Oktober 1965

Anda seharusnya mempersembahkan kepada Tuhan apa yang benar-benar menjadi milikmu. Satu-satunya yang menjadi hak anda adalah hatimu. Persembahkan hati itu kepada Tuhan dan persembahkan dengan kasih. 

Thursday, November 20, 2025

Thought for the Day - 20th November 2025 (Thursday)


Do not go about proclaiming that you are a sect distinct and separate from those who adore God in other forms and names. Thereby, you are limiting the very God whom you are extolling. Do not proclaim in your enthusiasm: “We want only Sai; we are not concerned with the rest.” You must convince yourselves that all forms are Sai’s; all names are Sai’s. There is no ‘rest’; all are He. You must have noticed that I do not speak about Sai in My discourses, nor do I sing of Sai during the bhajan with which I usually conclude My discourses. And you must have wondered why. Let me tell you the reason. I do not want the impression to gain ground that I desire this Name and this Form to be publicised. I have not come to set afoot a new cult; I do not want people to be misled on this point. I affirm that this Sai form is the form of all the various names that man uses for the adoration of the Divine. So, I am teaching that no distinction should be made between the names Rama, Krishna, Easwara, Sai — for they are all My names. 


- Divine Discourse, May 17, 1968

God is the embodiment of Love and you should not do anything which is contrary to the love that God represents. 


Jangan pergi ke mana-mana sambil menyatakan bahwa anda adalah sebuah golongan yang berbeda dan terpisah dari mereka yang memuja Tuhan dalam bentuk atau nama lain. Dengan berkata begitu, anda sebenarnya membatasi Tuhan yang anda muliakan itu sendiri. Jangan sampai dalam keadaan bersemangat anda berkata, “Kami hanya mau Sai; kami tidak peduli dengan yang lain.” Anda perlu meyakinkan diri anda sendiri bahwa semua bentuk adalah milik Sai, semua nama adalah milik Sai. Tidak ada “yang lain”; semuanya adalah Sai. Anda tentunya memperhatikan bahwa Aku tidak berbicara tentang Sai dalam setiap wacana, dan Aku juga tidak menyanyikan tentang Sai dalam bhajan penutup setelah wacana selesai. Mungkin anda bertanya-tanya mengapa demikian. Inilah alasannya: Aku tidak ingin timbul kesan bahwa Aku menginginkan nama dan bentuk ini dipromosikan. Aku tidak datang untuk membentuk sekte baru; Aku tidak ingin orang tersesat dalam hal ini. Aku menegaskan bahwa bentuk Sai ini adalah bentuk dari semua nama yang digunakan manusia dalam memuja Yang Ilahi. Karena itu, Aku mengajarkan bahwa tidak perlu membuat pembedaan antara nama Rama, Krishna, Easwara, atau Sai — semuanya adalah nama-Ku. 


- Divine Discourse, 17 Mei 1968

Tuhan adalah perwujudan kasih dan anda seharusnya tidak melakukan apapun yang bertentangan dengan kasih yang ditunjukkan oleh Tuhan. 

Wednesday, November 19, 2025

Thought for the Day - 19th November 2025 (Wednesday)


Embodiments of Love! In this infinite universe, among the myriads of living beings, humanity is eminent. Among human beings, it is a privilege to be born as a woman. There are many examples to demonstrate the preeminence of women. Was not Rama born as a Divine incarnation in Kausalya’s womb? Did not Lava and Kusha (the twins) become great because they were born to Sita? Was it not Jijibai’s loving care which made Shivaji great? Was it not Putlibai’s piety which made Gandhi a Mahatma? All the greater sages and saints, heroes and warriors were born to women who made them great. Woman is the Goddess of Nature. Gayatri, which enshrines the essence of the Vedas, is a goddess, venerated as Veda Mata (the mother of the Vedas). It is obvious that feminine birth is estimable, adorable, and sublime. The Veda also adores the feminine principle in various ways. Vedic rituals and practices accord a high place to women. 


- Divine Discourse, Nov 19, 1995

It is the mother who teaches you the sacred principles like love, compassion, forbearance, tolerance and sacrifice. 


Perwujudan kasih! Dalam alam semesta yang begitu luas dan tidak terbatas ini, di antara begitu banyak makhluk hidup, manusia berada pada posisi yang paling mulia. Dan di antara manusia, terlahir sebagai seorang wanita adalah sebuah kehormatan. Ada banyak contoh yang menunjukkan kedudukan istimewa wanita. Bukankah Rama, sang inkarnasi Ilahi, lahir dari rahim Kausalya? Bukankah Lava dan Kusha menjadi pribadi besar karena mereka adalah putra Sita? Bukankah Shivaji menjadi tokoh besar karena kasih dan didikan Jijibai? Dan bukankah Gandhi menjadi Mahatma berkat kesalehan ibunya, Putlibai? Para rsi agung, guru-guru suci, pahlawan, dan ksatria hebat—semuanya lahir dari rahim wanita yang membentuk mereka menjadi mulia. Perempuan adalah perwujudan dari Ibu Alam. Gayatri, yang memuat inti ajaran Veda, dipersonifikasikan sebagai Dewi dan dihormati sebagai Veda Mata (Ibu Veda). Jelas bahwa kelahiran sebagai perempuan adalah sesuatu yang bernilai, dihormati, dan luhur. Veda pun memuji prinsip feminin dalam berbagai bentuk. Banyak ritual dan praktik Veda menempatkan wanita pada posisi yang sangat penting. 


- Divine Discourse, 19 November 1995

Ibulah yang mengajarkan prinsip-prinsip suci seperti kasih, welas asih, kesabaran, tenggang rasa, dan pengorbanan.

Monday, November 17, 2025

Thought for the Day - 17th November 2025 (Monday)


The blemish that affects the mind is illusion. It is like a fierce dog that will not allow anyone to approach the Master. You can manage to bypass it only by assuming the rupam or form of the Master, which is called sarupyam, or by calling out for the Master so loudly that He comes down and accompanies you into the house, that is to say, by winning His Grace, samipya (proximity). Illusion is His pet, and so, it will not harm you if He orders it to desist from harming you. The Master comes to save not one good man from illusion, but the whole of mankind. Of course, He has to come assuming a form that man can love, revere, and appreciate. He can give joy and courage, only if He speaks the language of human conversation. Many are afraid to approach Me, for they know I am aware of their innermost thoughts and deepest desires. But let Me tell you, only helpless animals have fear. Man, who is the child of immortality, should have no fear. People pray before stone images of the snake god, but when the actual snake appears in answer to their prayers, they run away, terror-stricken from the shrine! The Lord manifests Himself only to shower Grace, never to strike terror. 


- Divine Discourse, Jan 01, 1964

The one who considers that God is far off, He is really distant from him. The one who considers that God is near, for him He is near. 


Noda yang menutupi pikiran adalah khayalan atau ilusi. Khayalan ini seperti seekor anjing yang tidak akan mengijinkan siapapun untuk mendekati majikannya. Satu-satunya cara untuk melewatinya adalah dengan mengambil rupa sang majikan - ini disebut sarupyam - atau dengan memanggil nama sang majikan begitu keras sehingga majikan itu turun dan berjalan bersama kita masuk ke dalam rumah. Inilah yang disebut samipya, kedekatan karena anugerah. Khayalan sebenarnya adalah “peliharaan” Tuhan. Ia tidak akan melukai kita jika Tuhan memerintahkannya untuk berhenti. Tuhan datang bukan hanya untuk menyelamatkan satu orang baik dari ilusi, tetapi seluruh umat manusia. Untuk itu, Ia harus mengambil wujud yang bisa dicintai, dihormati, dan dimengerti oleh manusia. Ia bisa memberi sukacita dan keberanian hanya bila Ia berbicara dalam bahasa manusia. Banyak orang takut mendekat kepada-Ku, karena mereka tahu Aku mengetahui pikiran terdalam dan keinginan tersembunyi mereka. Tetapi Aku katakan, hanya binatang yang tidak berdaya yang hidup dalam ketakutan. Manusia, yang sesungguhnya adalah putra keabadian, tidak seharusnya takut. Orang berdoa di depan arca dewa ular. Namun ketika ular sungguhan muncul sebagai jawaban atas doa mereka, mereka malah lari ketakutan dari tempat pemujaan! Tuhan menampakkan diri hanya untuk memberi anugerah, tidak pernah memberikan ketakutan. 


- Divine Discourse, 01 Januari 1964

Mereka yang merasa Tuhan itu jauh, akan benar-benar merasa jauh dari-Nya. Tetapi mereka yang meyakini bahwa Tuhan dekat, akan sungguh-sungguh merasakan kedekatan itu.

Thursday, November 13, 2025

Thought for the Day - 13th November 2025 (Thursday)


Many people who have some questions regarding Swami do not realise the ways of the Divine. They look at all things from the worldly point of view. They should look at things from the Divine point of view. Change the angle of your vision. When you practise seeing the world from the point of view of the omnipresence of the Divine, you will get transformed. You will experience the power of the Divine in everything in creation. You cannot hide anything from God. Many imagine that Swami does not see what they are doing. They do not realise that Swami has a myriad eyes. Even your eyes are divine. But you are not aware of your true nature. When you have faith in yourself, you will have faith in God. Realise that there is nothing beyond the power of God. Love God with that supreme faith. Then you will be drawn towards God. It needs purity. A magnet cannot attract a piece of iron covered with rust. Similarly, God will not draw to Himself an impure person. Hence, change your feelings and thoughts and develop the conviction that God is everything. God will not give you up when you have this conviction. 


- Divine Discourse, Feb 27, 1995

Consider all work as God’s work and develop love. When love grows, faith will also grow more. 


Banyak orang yang memiliki beberapa pertanyaan terkait Swami dan mereka tidak menyadari cara Ilahi. Mereka melihat segala sesuatu dari sudut pandang duniawi, padahal seharusnya mereka memandang dari sudut pandang Ilahi. Ubah sudut pandangmu. Ketika anda berlatih memandang dunia dari perspektif bahwa Tuhan ada dimana-mana, anda akan mendapatkan perubahan. Anda akan mengalami kekuatan ilahi dalam segala ciptaan. Anda tidak bisa menyembunyikan apapun dari Tuhan. Banyak yang membayangkan bahwa Swami tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan. Mereka tidak menyadari bahwa Swami memiliki ribuan mata. Bahkan matamu sendiri bersifat ilahi. Namun anda tidak menyadari sifat aslimu. Ketika anda memiliki keyakinan pada dirimu sendiri, anda akan memiliki keyakinan pada Tuhan. Sadarilah bahwa tidak ada apapun yang melampaui kekuatan Tuhan. Cintailah Tuhan dengan keyakinan yang tertinggi. Kemudian anda akan ditarik kearah Tuhan. Hal ini membutuhkan kemurnian. Sebuah magnet tidak bisa menarik besi yang ditutupi oleh karat. Sama halnya, Tuhan tidak akan menarik orang yang tidak murni. Karena itu, ubahlah perasaan dan pemikiranmu serta kembangkan keyakinan bahwa Tuhan adalah segalanya. Tuhan tidak akan melepaskanmu ketika anda memiliki keyakinan ini. 


- Divine Discourse, 27 Februari 1995

Anggap bahwa semua pekerjaan adalah pekerjaan Tuhan dan kembangkan kasih. Ketika kasih bertumbuh, keyakinan juga akan bertumbuh semakin kuat. 

Wednesday, November 12, 2025

Though for the Day - 12th November 2025 (Wednesday)


Understand the true relationship between the external phenomenal world and the world of Spirit inside. The external world is a reflection of the inner being. All happiness that you seek from external objects is within yourself. Take the example of the ocean. The water that turns into vapour from the ocean assumes a different form and quality. It acquires purity and sweetness and returns to the ocean in another form. Look at the changes it goes through in this process. Going up as vapour, becoming a cloud, coming down as rain, flowing as rivulets, it joins the ocean as a river. The change into vapour is Sathya (truth). The formation of the cloud is Dharma (right conduct). Coming down as raindrops corresponds to Prema (drops of love). When the drops join to become a river, there is the flow of Ananda (bliss). This stream of bliss merges in the ocean of Grace. Sometime or other, what has come from the Divine has to merge in the Divine. This is the natural destiny of all living beings - taking birth as a manava (man), leading a life of a jivi (individual being), again returning to the form of Madhava (divine nature), and ultimately merging in the Divine. 


- Divine Discourse, Mar 07, 1997

Man should express love more and more to make the inner divine light in the body shine more brilliantly. 


Pahamilah hubungan sejati diantara dunia fenomenal di luar diri dan dunia batin di dalam diri. Dunia di luar diri adalah sebuah pantulan dari keberadaan batin di dalam diri. Semua kebahagiaan yang kita cari dari objek-objek di luar diri sejatinya ada di dalam diri kita sendiri. Ambillah contoh lautan. Air lautan yang menguap berubah menjadi uap air mengambil bentuk dan kualitas yang berbeda. Air ini menjadi murni dan manis serta kembali ke lautan dalam bentuk yang lain. Perhatikan proses perubahan itu. Air lautan menguap menjadi uap air, kemudian menjadi awan, dan jatuh dalam bentuk hujan, mengalir sebagai anak sungai, dan akhirnya mengalir dalam bentuk sungai besar untuk bergabung kembali ke lautan. Perubahan menjadi uap air adalah Sathya (kebenaran). Pembentukan awan adalah Dharma (kebajikan). Jatuh ke bumi sebagai hujan adalah Prema (tetesan kasih). Ketika tetesan air itu bergabung menjadi sungai, maka disana ada aliran kebahagiaan (Ananda). Aliran kebahagiaan ini akhirnya menyatu kembali pada lautan anugerah. Segala yang berasal dari Tuhan harus menyatu kembali pada Tuhan. Ini adalah takdir alami dari semua makhluk hidup – lahir dalam wujud manusia (manava), menjalani hidup sebagai seorang individu (jivi), lalu kembali ke dalam bentuk Madhava (sifat ilahi), dan pada akhirnya menyatu kembali pada sang ilahi. 


- Divine Discourse, 7 Maret 1997

Manusia hendaknya semakin banyak dan lebih banyak lagi mengungkapkan kasih agar cahaya Ilahi dalam dirinya bersinar semakin terang. 

Tuesday, November 11, 2025

Thought for the Day - 11th November 2025 (Tuesday)


Names and forms are momentary. The form of the tiger is momentary. The form of the snake is momentary. As names and forms are momentary, take them as such. However, the principle of non-dualism should not be misconstrued. In your pocket, you have a pen. The other man also has a pen in his pocket. You cannot take another man’s pen from his pocket. Is it proper? No! At the worldly level, your pen belongs to you, My pen belongs to Me. If you slip, you sustain a fracture of your leg. Then you may have a bandage. Your mother has intense love for you. Your mother may feel sad because you are suffering. But it is not possible for her to have the bandage on her leg. Individuals are different, but the pain may be the same for both. You will have the pain of a fracture; your mother will have the pain that you are suffering. But the mother is not having pain of the fractured leg. Mother is feeling sad because of the suffering of the son, not of the fracture. So, you can follow non-dualism in feeling, but not in action. 


- Divine Discourse, Apr 26, 1993.

In this world, you and the world are temporary. But Truth and Love are permanent. 


Nama dan rupa adalah bersifat sementara. Rupa dari harimau adalah sementara. Rupa dari ular juga bersifat sementara. Ketika nama dan rupa adalah sementara, perlakukan keduanya sebagai sesuatu yang sementara. Bagaimanapun juga, prinsip tanpa dualitas jangan disalah artikan. Dalam sakumu, anda memiliki sebuah pena. Orang lain juga memiliki pena di dalam sakunya. Apakah pantas anda mengambil pena dalam sakunya? Tidak! Dalam tataran duniawi, pena anda adalah milik anda, pena-Ku adalah milik-Ku. Jika anda terpeleset dan kaki anda patah maka kaki anda akan dibalut perban. Ibu anda memiliki kasih yang mendalam pada diri anda. Ibu anda akan merasa sedih karena penderitaan yang anda alami. Namun adalah tidak mungkin bagi ibu anda untuk menaruh perban di kakinya. Individu adalah berbeda, namun rasa sakit adalah bisa dirasakan sama. Anda merasakan sakit karena patah tulang; ibu anda merasakan sedih atas penderitaan yang anda alami. Ibu merasa sedih karena penderitaan yang dialami putranya, namun tidak karena patah tulang. Jadi, anda bisa menerapkan tanpa dualitas dalam perasaan namun bukan dalam tindakan. 


- Divine Discourse, 26 April 1993.

Dalam dunia ini, diri anda dan dunia adalah sementara. Namun kebenaran dan kasih adalah bersifat kekal.

Monday, November 10, 2025

Thought for the Day - 10th November 2025 (Monday)



If your thoughts centre round the body, you will have worries about pains and illnesses, real or imaginary; if they are centred on riches, you will be worried about profit and loss, tax and exemptions, investment and insolvency; if they roam round fame, then, you are bound to suffer from the ups and downs of scandal, calumny and jealousy. So, let them centre round the seat of power and love which deserves willing submission and let your whole being surrender to it. Then, you will be happy forever. For the sages of the Vedic culture, the rishis, the Name of the Lord was the very breath; they lived on the sustenance inherent in the contemplation of the glory of the Lord. When the milky ocean of the Vedas was churned with intelligence as the rod and devotion as the rope, the butter of the three great classics - the Ramayana, the Mahabharata, the Srimad Bhagavata emerged, for spreading the message of the Namasmarana (chanting of the divine name) way to peace and joy. It is to revive this message and to restore faith in the Name that this Avatar has come into the world, in the Kali Yuga. 


- Divine Discourse, Oct 3, 1965

Turning the mind towards God, you get liberation. Turning the mind towards the world, you get bondage.


Jika pemikiranmu dipusatkan pada sekitar tubuh jasmani, anda akan memiliki kecemasan tentang rasa sakit dan penyakit, baik yang nyata maupun yang hanya ada dalam bayanganmu; jika pemikiranmu terpusat pada kekayaan, anda akan cemas terkait pada keuntungan dan kerugian, pajak dan keringanan, investasi dan kebangkrutan; jika pemikiranmu berputar pada ketenaran, maka anda akan terseret naik turun oleh gosip, fitnah dan rasa iri. Jadi, arahkan pemikiranmu terpusat pada sumber kekuatan dan kasih sejati yaitu Tuhan sebagai pusat hidupmu. Serahkan seluruh dirimu kepada-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Kemudian, anda akan bahagia selamanya. Bagi para guru suci dari kebudayaan Weda, para Rsi, nama suci Tuhan adalah nafas hidup mereka; mereka hidup dari kekuatan Rohani yang muncul dari perenungan kemuliaan Tuhan. Ketika lautan susu dari Weda diaduk dengan kecerdasan sebagai tongkat pemutar dan bhakti sebagai tali pengikatnya, maka muncullah mentega suci berupa tiga karya agung yaitu : Ramayana, Mahabharata, dan Srimad Bhagavata. Tiga karya agung ini menyebarkan pesan-pesan tentang Namasmarana (melantunkan nama suci Tuhan) yaitu jalan untuk mendapatkan kedamaian dan suka cita. Dalam upaya menghidupkan kembali pesan-pesan suci ini dan meneguhkan kembali keyakinan pada nama suci Tuhan, inkarnasi Tuhan hadir ke dunia ini di jaman Kali yuga. 


- Divine Discourse, 3 Oktober 1965

Ketika anda mengarahkan pikiran pada Tuhan, anda mendapatkan kebebasan. Ketika pikiran diarahkan pada dunia, anda akan terikat.