Every human being has the evil tendencies of lust (kama), anger (krodha) and greed (lobha) in them. The great epics, Ramayana, Bhagavata, and Mahabharata, teach good lessons to control these enemies. Ravana, who had mastered all the sixty-four branches of knowledge and was a great scholar and a mighty warrior, lost his life and caused the ruination of his entire clan because of lust. It is not enough if you merely read Ramayana; you should grasp its real significance. In the Mahabharata, Duryodhana personified greed. He refused to share the kingdom with the Pandavas and denied them their rightful share. Due to this quality, he perished along with his entire clan. These illustrations echo the need for the eradication of the feelings of lust, anger and greed. Pandavas emerged victorious because they practiced all the human values of Truth, Love, Right Conduct, Non-Violence and Peace. If you follow these values, success will follow automatically.
Setiap manusia memiliki kecenderungan sifat-sifat buruk dalam dirinya, seperti nafsu (kama), kemarahan (krodha) dan keserakahan (lobha). Epos besar, seperti Ramayana, Bhagavata, dan Mahabharata, mengajarkan pada kita pelajaran yang baik dalam mengendalikan musuh-musuh tersebut. Rahwana, yang telah menguasai enam puluh empat cabang pengetahuan dan adalah seorang terpelajar serta seorang prajurit perkasa, kehilangan nyawanya dan menyebabkan kehancuran seluruh kaumnya disebabkan hanya karena nafsu. Tidaklah cukup jika engkau hanya membaca Ramayana, engkau harus memahami makna yang terkandung di dalamnya. Dalam Mahabharata, Duryodana dipersonifikasi sebagai orang yang serakah. Dia menolak untuk berbagi kerajaan dengan Pandawa dan menolak berbagi hak dengan mereka. Karena sifatnya ini, ia tewas bersama dengan seluruh kaumnya. Ilustrasi ini menggemakan betapa perlunya dalam hal pemberantasan nafsu, kemarahan, dan keserakahan. Pandawa menang karena mereka mempraktekkan semua nilai-nilai kemanusiaan yaitu Kebenaran, Cinta-kasih, Kebajikan, Tanpa-Kekerasan, dan Kedamaian. Jika engkau mengikuti nilai-nilai seperti ini, secara otomatis kesuksesan akan mengikuti.
-BABA
Saturday, March 31, 2012
Friday, March 30, 2012
Thought for the Day - 30th March 2012 (Friday)
The term Hindu signifies ‘H: Humility, I: Individuality, N: Nationality, D: Divinity, U: Unity’. These are verily our five life-breaths (pranas). Just as five elements, five senses, and five life-sheaths constitute our physical body; these five principles constitute the very essence of spirituality. Develop the spirit of unity. Never think that you belong to a particular state or country and thereby give rise to differences. Do not identify yourself with vyashti tattwa (individual principle). Instead, identify yourself with samashti tattwa (societal principle) and cultivate unity. Consider truth, righteousness, peace, love and nonviolence as your life-breath and uphold the sanctity of the name human (manava). Never give scope for differences of opinion, even in trivial matters. If any differences were to arise, each should be prepared to forgive the other. All are children of God; all are brothers and sisters. Understand this truth and conduct yourself accordingly.
Istilah Hindu berarti 'H:Humality = Kerendahan hati’, I: Individualitas, N: Nationality = Kebangsaan, D: Divinity = Ketuhanan, U: Unity = Kesatuan'. Ini sesungguhnya adalah lima nafas-kehidupan (Pranas). Sama seperti kelima unsur, panca indera, dan lima selubung-kehidupan merupakan dasar dari badan fisik kita; kelima prinsip ini merupakan inti dari spiritualitas. Kembangkanlah semangat persatuan. Jangan pernah berpikir bahwa engkau adalah milik suatu tempat atau negara tertentu dan dengan demikian akan menimbulkan perbedaan. Janganlah mengidentifikasi dirimu dengan vyashti tattwa (prinsip individu). Sebaliknya, identifikasikan dirimu dengan samashti tattwa (prinsip sosial) dan perkuatlah persatuan. Anggaplah kebenaran, kebajikan,kedamaian, cinta-kasih dan tanpa-kekerasan sebagai nafas kehidupanmu dan tegakkanlah kesucian nama manusia (Manava). Jangan pernah memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, bahkan dalam hal-hal sepele. Jika ada perbedaan yang muncul, masing-masing harus siap untuk mengampuni yang lainnya. Semua adalah anak-anak Tuhan, semuanya adalah bersaudara. Pahamilah kebenaran ini dan lakukanlah pada dirimu sendiri sesuai dengan hal itu.
-BABA
Istilah Hindu berarti 'H:Humality = Kerendahan hati’, I: Individualitas, N: Nationality = Kebangsaan, D: Divinity = Ketuhanan, U: Unity = Kesatuan'. Ini sesungguhnya adalah lima nafas-kehidupan (Pranas). Sama seperti kelima unsur, panca indera, dan lima selubung-kehidupan merupakan dasar dari badan fisik kita; kelima prinsip ini merupakan inti dari spiritualitas. Kembangkanlah semangat persatuan. Jangan pernah berpikir bahwa engkau adalah milik suatu tempat atau negara tertentu dan dengan demikian akan menimbulkan perbedaan. Janganlah mengidentifikasi dirimu dengan vyashti tattwa (prinsip individu). Sebaliknya, identifikasikan dirimu dengan samashti tattwa (prinsip sosial) dan perkuatlah persatuan. Anggaplah kebenaran, kebajikan,kedamaian, cinta-kasih dan tanpa-kekerasan sebagai nafas kehidupanmu dan tegakkanlah kesucian nama manusia (Manava). Jangan pernah memberikan ruang bagi perbedaan pendapat, bahkan dalam hal-hal sepele. Jika ada perbedaan yang muncul, masing-masing harus siap untuk mengampuni yang lainnya. Semua adalah anak-anak Tuhan, semuanya adalah bersaudara. Pahamilah kebenaran ini dan lakukanlah pada dirimu sendiri sesuai dengan hal itu.
-BABA
Thursday, March 29, 2012
Thought for the Day - 29th March 2012 (Thursday)
You may repeat like a parrot certain phrases like "Everything is the Lord's," "I am but a puppet; He pulls the strings and I dance as He wills," "Nothing is mine; I am just carrying out His will" and so on. But what do you usually do? When a praiseworthy act is done, you claim it to be your own; you shout from platforms till your throats get dry that you won by your own effort, honour, fame, status and standards, authority and position, property and possessions, and attainments and achievements. But when a blameworthy act is done, or when it comes to confessing your share in earning ill fame and defeat, or evil and wrong, you conveniently transfer the responsibility to the Lord, saying, "I am but an instrument in His hands, He is the master, I am but a tool." People swing from "I" to "He" like the pendulum of the clock. This very common habit, which is a fashion today, is sheer deceit; its hollow spiritual sham. Mind, word and act - all three must be filled with the belief that all is His play. That is the genuine path.
Engkau mungkin dapat mengulang-ulang frasa tertentu seperti burung beo "Segala sesuatu adalah milik Tuhan," "aku tidak lain hanyalah wayang, Dia menarik tali dan aku menari sesuai dengan kehendak-Nya," "Tidak ada sesuatupun yang merupakan milikku, aku hanya melaksanakan kehendak-Nya" dan seterusnya. Tetapi apa yang biasanya engkau lakukan? Ketika suatu hal yang baik/ terpuji dilakukan, engkau menyatakan bahwa hal itu terjadi karena dirimu sendiri; Engkau berteriak dari podium sampai tenggorokanmu menjadi kering bahwa apa yang telah dicapai karena usahamu sendiri, kehormatan, ketenaran, status dan standar, wewenang dan posisi, properti dan harta benda, serta pencapaian dan prestasi. Tetapi ketika sebuah tindakan tercela dilakukan, atau ketika engkau melakukan dosa, melakukan perbuatan yang salah, engkau dengan mudah melempar tanggung jawab pada Tuhan, dan mengatakan: "Aku tidak lain adalah instrument di tangan-Nya, Beliau adalah master, aku hanyalah alat-Nya. "Orang-orang berayun dari "aku" ke "Dia" seperti bandul jam. Ini kebiasaan yang sangat umum, yang menjadi kebiasaan saat ini, ini merupakan kebohongan belaka; kepura-puraan spiritual. Hendaknya pikiran, perkataan, dan perbuatan – ketiga-tiganya harus diisi dengan keyakinan bahwa semua adalah permainan-Nya. Itulah jalan sejati, yang sesungguhnya.
-BABA
Engkau mungkin dapat mengulang-ulang frasa tertentu seperti burung beo "Segala sesuatu adalah milik Tuhan," "aku tidak lain hanyalah wayang, Dia menarik tali dan aku menari sesuai dengan kehendak-Nya," "Tidak ada sesuatupun yang merupakan milikku, aku hanya melaksanakan kehendak-Nya" dan seterusnya. Tetapi apa yang biasanya engkau lakukan? Ketika suatu hal yang baik/ terpuji dilakukan, engkau menyatakan bahwa hal itu terjadi karena dirimu sendiri; Engkau berteriak dari podium sampai tenggorokanmu menjadi kering bahwa apa yang telah dicapai karena usahamu sendiri, kehormatan, ketenaran, status dan standar, wewenang dan posisi, properti dan harta benda, serta pencapaian dan prestasi. Tetapi ketika sebuah tindakan tercela dilakukan, atau ketika engkau melakukan dosa, melakukan perbuatan yang salah, engkau dengan mudah melempar tanggung jawab pada Tuhan, dan mengatakan: "Aku tidak lain adalah instrument di tangan-Nya, Beliau adalah master, aku hanyalah alat-Nya. "Orang-orang berayun dari "aku" ke "Dia" seperti bandul jam. Ini kebiasaan yang sangat umum, yang menjadi kebiasaan saat ini, ini merupakan kebohongan belaka; kepura-puraan spiritual. Hendaknya pikiran, perkataan, dan perbuatan – ketiga-tiganya harus diisi dengan keyakinan bahwa semua adalah permainan-Nya. Itulah jalan sejati, yang sesungguhnya.
-BABA
Wednesday, March 28, 2012
Thought for the Day - 28th March 2012 (Wednesday)
Your enemies are not outside. Your bad thoughts are your worst enemies and thoughts based on Truth are your best friends. But today, people do not befriend the thoughts based on Truth, which are essentially divine. Practise to make friendship with Sath, the eternal Truth. Sath means Being, the ever-present God. Worldly friends and enemies change with the passage of time, but sath is the true and eternal friend. This friend, God, is always with you, in you, around you, above you, below you and protecting you just as the eyelid protects the eye. Truth is God. Love is God. Dharma (righteousness) is God. When you worship God by following these principles, He will manifest Himself immediately. Love God wholeheartedly. Make friends with Him. You can achieve anything if you have God as your friend.
Musuhmu sebenarnya bukan di luar dirimu. Pikiran buruk adalah musuhmu yang paling buruk dan pikiran yang berdasarkan pada Kebenaran adalah teman terbaikmu. Tetapi saat ini, orang-orang tidak berteman dengan pikiran yang berdasarkan Kebenaran, yang tidak lain adalah Divine. Berlatihlah untuk membuat persahabatan dengan Sath, Kebenaran yang kekal. Sath berarti Kebenaran,Tuhan yang selalu ada. Teman dan musuh duniawi berubah dengan berlalunya waktu, tapi sath adalah teman sejati dan abadi. Teman ini, Tuhan, selalu bersamamu, di dalam dirimu, di sekitarmu, di atasmu, di bawahmu dan melindungimu seperti kelopak mata melindungi mata. Kebenaran adalah Tuhan. Cinta-kasih adalah Tuhan. Dharma (kebenaran) adalah Tuhan. Ketika engkau memuja Tuhan dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, Beliau akan segera menampakkan diri-Nya. Kasihilah Tuhan dengan sepenuh hati, bertemanlah dengan-Nya. Engkau dapat mencapai apapun jika engkau menjadikan Tuhan sebagai temanmu.
-BABA
Musuhmu sebenarnya bukan di luar dirimu. Pikiran buruk adalah musuhmu yang paling buruk dan pikiran yang berdasarkan pada Kebenaran adalah teman terbaikmu. Tetapi saat ini, orang-orang tidak berteman dengan pikiran yang berdasarkan Kebenaran, yang tidak lain adalah Divine. Berlatihlah untuk membuat persahabatan dengan Sath, Kebenaran yang kekal. Sath berarti Kebenaran,Tuhan yang selalu ada. Teman dan musuh duniawi berubah dengan berlalunya waktu, tapi sath adalah teman sejati dan abadi. Teman ini, Tuhan, selalu bersamamu, di dalam dirimu, di sekitarmu, di atasmu, di bawahmu dan melindungimu seperti kelopak mata melindungi mata. Kebenaran adalah Tuhan. Cinta-kasih adalah Tuhan. Dharma (kebenaran) adalah Tuhan. Ketika engkau memuja Tuhan dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, Beliau akan segera menampakkan diri-Nya. Kasihilah Tuhan dengan sepenuh hati, bertemanlah dengan-Nya. Engkau dapat mencapai apapun jika engkau menjadikan Tuhan sebagai temanmu.
-BABA
Tuesday, March 27, 2012
Thought for the Day - 27th March 2012 (Tuesday)
It is a human frailty to separate things as good and evil. And to impute this to God is sacrilege. It might sometimes appear that the Lord too has that weakness, but it is a passing phase, a cloud that hides His glory, not a blemish that adheres to Him. Though gunas (various qualities) emanate from the Lord, He is unaffected by them just like fire is unaffected by the smoke which arises from it or the sky is unaffected by the clouds that form and move about in it. All are attached to Him like beads but He is free and unattached. Consider this example - the cloth is based on yarn, in fact it is dependent on yarn; but yarn does not depend on the cloth, it is unaffected and unattached to the cloth. Yarn is Brahman (Divinity) while the cloth is Prakruthi (the Universe of manifold variety).
Adalah kelemahan manusia untuk memisahkan yang baik dengan yang buruk, dan menghubungkan hal ini pada Tuhan merupakan perbuatan yang tidak suci. Kadang-kadang mungkin nampak bahwa Tuhan juga memiliki kelemahan itu, tetapi hal itu dikarenakan awan yang telah menyembunyikan kemuliaan-Nya. Meskipun Gunas (berbagai kualitas) berasal dari Tuhan, Beliau tidak terpengaruh oleh hal itu, seperti api tidak terpengaruh oleh asap yang timbul dari api tersebut, ataupun langit tidak dipengaruhi oleh awan yang terbentuk dan bergerak di dalamnya. Semua yang melekat pada-Nya dapat diibaratkan seperti biji tasbih tetapi Beliau bebas dan tidak terikat. Coba pikirkan contoh berikut ini - kain terbuat dari benang, adanya kain karena benang, artinya kain tergantung pada benang, tetapi benang tidak tergantung pada kain, benang tidak terpengaruh dan tidak terikat pada kain. Dapat diibaratkan, benang adalah Brahman (Divinity) sedangkan kain merupakan Prakruthi (alam semesta dengan berbagai variasinya).
-BABA
Adalah kelemahan manusia untuk memisahkan yang baik dengan yang buruk, dan menghubungkan hal ini pada Tuhan merupakan perbuatan yang tidak suci. Kadang-kadang mungkin nampak bahwa Tuhan juga memiliki kelemahan itu, tetapi hal itu dikarenakan awan yang telah menyembunyikan kemuliaan-Nya. Meskipun Gunas (berbagai kualitas) berasal dari Tuhan, Beliau tidak terpengaruh oleh hal itu, seperti api tidak terpengaruh oleh asap yang timbul dari api tersebut, ataupun langit tidak dipengaruhi oleh awan yang terbentuk dan bergerak di dalamnya. Semua yang melekat pada-Nya dapat diibaratkan seperti biji tasbih tetapi Beliau bebas dan tidak terikat. Coba pikirkan contoh berikut ini - kain terbuat dari benang, adanya kain karena benang, artinya kain tergantung pada benang, tetapi benang tidak tergantung pada kain, benang tidak terpengaruh dan tidak terikat pada kain. Dapat diibaratkan, benang adalah Brahman (Divinity) sedangkan kain merupakan Prakruthi (alam semesta dengan berbagai variasinya).
-BABA
Monday, March 26, 2012
Thought for the Day - 26th March 2012 (Monday)
People
are bereft of gratitude, which is not right. One should be grateful for
the help they have received from others as long as one is alive. There
are two things you must forget: the help you have rendered to others and
the harm others have done to you. If you remember the help you have
rendered, you will always expect something in return. Remembrance of the
harm done to you by others generates in you a sense of revenge. You
should remember only the help you received from others. The one with
these sacred qualities is an ideal human being. Love is God, love is
Nature, love is life and love is the true human value. Bereft of love,
one is equivalent to a corpse. Love even the worst of your enemies. Lead
a life filled with love. Then you will experience joy, peace and
security in your heart.
Saat ini orang-orang telah kehilangan rasa syukur, ini adalah tindakan yang tidak benar. Selama kita masih hidup, kita hendaknya berterima kasih atas bantuan yang diterima dari orang lain. Ada dua hal yang harus engkau lupakan:yang pertama bantuan yang telah engkau berikan pada orang lain dan yang kedua hal-hal yang menyakitkan/ merugikan yang telah orang lain lakukan padamu. Jika engkau mengingat bantuan yang pernah engkau berikan pada orang lain, engkau akan selalu mengharapkan sesuatu sebagai balasannya. Jika engkau mengingat hal-hal yang menyakitkan/ merugikan yang telah dilakukan orang lain padamu, ini akan menghasilkan rasa balas dendam dalam dirimu. Engkau hendaknya mengingat hanya bantuan yang engkau terima dari orang lain. Orang dengan kualitas suci seperti ini adalah manusia yang ideal. Cinta-kasih adalah Tuhan, Cinta-kasih adalah Alam Semesta, cinta-kasih adalah kehidupan dan cinta-kasih adalah nilai manusia sejati. Kehilangan cinta-kasih,seseorang dapat diibaratkan sebagai mayat. Cintailah bahkan musuhmu sendiri. Jalanilah kehidupan penuh dengan cinta-kasih,maka engkau akan mengalami sukacita dan kedamaian dalam hatimu.
-BABA
Saat ini orang-orang telah kehilangan rasa syukur, ini adalah tindakan yang tidak benar. Selama kita masih hidup, kita hendaknya berterima kasih atas bantuan yang diterima dari orang lain. Ada dua hal yang harus engkau lupakan:yang pertama bantuan yang telah engkau berikan pada orang lain dan yang kedua hal-hal yang menyakitkan/ merugikan yang telah orang lain lakukan padamu. Jika engkau mengingat bantuan yang pernah engkau berikan pada orang lain, engkau akan selalu mengharapkan sesuatu sebagai balasannya. Jika engkau mengingat hal-hal yang menyakitkan/ merugikan yang telah dilakukan orang lain padamu, ini akan menghasilkan rasa balas dendam dalam dirimu. Engkau hendaknya mengingat hanya bantuan yang engkau terima dari orang lain. Orang dengan kualitas suci seperti ini adalah manusia yang ideal. Cinta-kasih adalah Tuhan, Cinta-kasih adalah Alam Semesta, cinta-kasih adalah kehidupan dan cinta-kasih adalah nilai manusia sejati. Kehilangan cinta-kasih,seseorang dapat diibaratkan sebagai mayat. Cintailah bahkan musuhmu sendiri. Jalanilah kehidupan penuh dengan cinta-kasih,maka engkau akan mengalami sukacita dan kedamaian dalam hatimu.
-BABA
Sunday, March 25, 2012
Thought for the Day - 25th March 2012 (Sunday)
In the Geeta Lord Krishna emphatically told Arjuna,"Many people anxious to offer uninterrupted worship to God, desire to go into the thick forest; this is an insane step. There is no need to seek the jungle as if I am only there. There is no place where I am not; there is no form which is not Mine. I am the five elements: earth, water, fire, air, ether! Where can you find a place devoid of one or other of these five? The fiery nature of fire is I Myself; I am life in all living beings. I am the strength of the strong, the strength that is free from greed and lust. To experience My presence and My glory, there is no special place, for I am everything, everywhere, ever."
Dalam Gita Sri Krishna dengan tegas mengatakan kepada Arjuna, "Banyak orang menginginkan memanjatkan doa/ melakukan ibadah tanpa gangguan, menginginkan pergi ke hutan lebat; ini adalah kebodohan belaka. Tidak perlu mencari hutan seolah-olah Aku hanya ada disana. Tidak ada tempat di mana Aku tidak ada disana, Tidak ada Wujud yang bukan Diri-Ku. Akulah kelima unsur: tanah, air, api, udara, ether! Dimana engkau bisa menemukan suatu tempat yang tanpa salah satu dari kelima unsur tersebut? Aku ada dalam semua makhluk hidup. Aku adalah kekuatan yang sangat kuat, kekuatan yang bebas dari keserakahan dan nafsu. Untuk mengalami kehadiran-Ku dan kemuliaan-Ku, tidak ada suatu tempat yang khusus, karena Aku adalah segalanya, Aku ada di mana-mana, selalu."
-BABA
Dalam Gita Sri Krishna dengan tegas mengatakan kepada Arjuna, "Banyak orang menginginkan memanjatkan doa/ melakukan ibadah tanpa gangguan, menginginkan pergi ke hutan lebat; ini adalah kebodohan belaka. Tidak perlu mencari hutan seolah-olah Aku hanya ada disana. Tidak ada tempat di mana Aku tidak ada disana, Tidak ada Wujud yang bukan Diri-Ku. Akulah kelima unsur: tanah, air, api, udara, ether! Dimana engkau bisa menemukan suatu tempat yang tanpa salah satu dari kelima unsur tersebut? Aku ada dalam semua makhluk hidup. Aku adalah kekuatan yang sangat kuat, kekuatan yang bebas dari keserakahan dan nafsu. Untuk mengalami kehadiran-Ku dan kemuliaan-Ku, tidak ada suatu tempat yang khusus, karena Aku adalah segalanya, Aku ada di mana-mana, selalu."
-BABA
Subscribe to:
Posts (Atom)