The cosmic vision can be acquired either by watching the Universe or one’s inner Cosmos. Man has only to discover himself. In the citadel of the body, there is the lotus temple of the heart, with subtle akasha (space) within. In it are contained heaven and earth, fire and air, sun and moon, stars and planets—all that is in the visible world and all that sustains it and all into which it submerges. Instead of rotating around the earth in the higher realms of space and planning to land on the moon or Mars, if only man plans and prepares himself to travel into his inner realm, what sublime joy and peace he can attain! His attainments at present in the vast silence of outer space are all prompted by fear and spread only further fear. The victory won through weapons and guarded by armour is not something to be glad about; it is flimsy and fragile. It is fraught with danger and may topple at the slightest gust. But the victory won through love and sympathy transforms the defeated and makes him a comrade forever.
- Divine Discourse, Oct 24, 1965
Earthly domain, earthly riches are powerless before the spiritual domain over the senses, spiritual riches of self-knowledge and self-confidence.
Pandangan Ilahi dapat diraih dengan dua cara yaitu dengan mengamati alam semesta luar atau alam semeta batin. Manusia hanya perlu menemukan dirinya sendiri. Dalam benteng tubuh manusia, ada tempat suci teratai di dalam hati, dengan akasha (ruang) di dalamnya. Di sana terdapat langit dan bumi, api dan udara, matahari dan rembulan, bintang dan planet – segala sesuatu yang ada di dunia yang tampak dan segala sesuatu yang menopangnya dan segala yang menjadi tempat kembalinya. Daripada mengelilingi bumi di luar angkasa dan berencana untuk mendarat di bulan dan Mars, jika saja manusia berencana dan mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjelajahi alam batinnya sendiri, betapa agung suka cita dan kedamaian yang dapat manusia capai! Pencapaian manusia pada saat sekarang di keheningan luas di luar angkasa selama ini muncul dari rasa takut dan hanya menyebarkan ketakutan yang lebih besar. Kemenangan yang dicapai dengan senjata dan dijaga dengan baju perang bukanlah sesuatu yang harus dirayakan; hal ini bersifat lemah dan rapuh. Kemenangan ini penuh dengan bahaya bisa hancur hanya oleh hembusan angin kecil. Namun kemenangan yang dicapai melalui kasih dan simpati mengubah pihak yang kalah dan menjadikannya sahabat untuk selamanya.
- Divine Discourse, 24 Oktober 1965
Kekuasaan duniawi dan kekayaan materi tidak berdaya dihadapan kekayaan rohani berupa pengendalian atas indra, pengetahuan diri dan kepercayaan diri.

No comments:
Post a Comment