Tuesday, October 28, 2025

Thought for the Day - 28th October 2025 (Tuesday)



Peace and bliss are not to be found in external objects. You possess all worldly objects to cater to your needs and to provide all comforts and conveniences to you. Isn’t it? If these external objects could give you peace and bliss, then how is it that you do not experience peace and bliss despite possessing all these? Similarly, all your near and dear ones are with you. But they also do not give you peace and bliss. You should try to understand that bliss is not to be found in persons and material objects. Bliss comes only from within you; you yourself are the source of peace and bliss. Therefore, there is no need for you to make efforts to search for them here and there. Bliss is not to be searched; it has to be manifested from within. It is to be known and not to be looked out. Try to know this eternal principle of truth that is within you. You think that someone or the other will give you bliss. But that is your bhrama (delusion). So long as you have bhrama, you cannot attain Brahma (God). Therefore, get rid of this bhrama. Then Brahma will become manifest from within you. God is no different from you. You and God are one. 


- Divine Discourse, Jun 24, 1996.

You yourself are the embodiment of peace. You are the embodiment of truth. You are the embodiment of God. You should try to know this eternal and sacred truth. 


Kedamaian dan kebahagiaan tidak ditemukan pada objek-objek di luar diri. Kamu memiliki semua objek-objek duniawi untuk memenuhi kebutuhanmu dan menyediakan semua kenyamanan dan kemudahan bagimu. Bukankah begitu? Jika objek-objek di luar diri ini dapat memberikan kedamaian dan kebahagiaan, kemudian bagaimana kamu tidak mengalami kedamaian dan kebahagiaan meskipun memiliki semuanya ini? Sama halnya, semua yang kamu sayangi dan kasihi hadir bersama denganmu. Namun mereka juga tidak memberikan kedamaian dan kebahagiaan pada dirimu. Kamu seharusnya mencoba untuk memahami bahwa kebahagiaan tidak ditemukan dalam diri orang dan objek material. Kebahagiaan hanya muncul dari dalam dirimu; dirimu sendiri adalah sumber dari kedamaian dan kebahagiaan. Maka dari itu, tidak perlu bagimu untuk melakukan usaha untuk mencarinya kesana kemari. Kebahagiaan tidak perlu dicari; kebahagiaan harus diwujudkan dari dalam diri. Kebahagiaan harus disadari dan bukan dicari di luar diri. Cobalah untuk mengetahui prinsip kebenaran abadi yang ada di dalam dirimu. Kamu berpikir bahwa seseorang atau yang lainnya akan memberikanmu kebahagiaan. Namun itu adalah khayalanmu (bhrama). Selama kamu masih memiliki bhrama, maka kamu tidak bisa mencapai Tuhan (Brahma). Maka dari itu, lepaskan khayalan ini. Kemudian Brahma akan muncul dari dalam dirimu. Tuhan adalah tidak berbeda dari dirimu. Sejatinya, dirimu dan Tuhan adalah satu. 


- Divine Discourse, 24 Juni 1996.

Dirimu sendiri adalah perwujudan kedamaian. Dirimu adalah perwujudan kebenaran. Dirimu adakah perwujudan Tuhan. Kamu harus mencoba untuk mengetahui kebenaran abadi dan suci ini.

Thursday, October 23, 2025

Thought for the Day - 23rd October 2025 (Thursday)



Accept what God gives you. Accept whatever He does. Do not question whether it is good or not. What you may be considering as bad, its result may turn out to be good. When you suffer from Malaria fever, the doctor will give you quinine mixture which is very bitter. The medicine may be bitter, but its effect will be good on you because it will cure your disease. Initially, you may find devotion very difficult. But you should never give up your resolve due to fear of difficulties. Many noble persons underwent many difficulties and performed intense penance to attain Divinity. Pleasure lies between two pains. Without pain, there can be no pleasure. You will experience real happiness only after you undergo difficulties. Will the sugarcane give you jaggery on merely by asking for it, unless you crush it and extract the juice? The diamond will gain real value only after many cuttings. Without cutting, it will have little value. You can prepare beautiful jewels only when you put the gold in the fire and beat it with a hammer. Likewise, you can experience divine bliss only when you develop divine love without caring for the criticism of others and bearing all difficulties. 


- Divine Discourse, Jun 20, 1996

The wise man will not seek anything from God, but leave everything to God. 


Terimalah apa yang Tuhan berikan padamu. Terimalah apapun yang Tuhan lakukan. Jangan menanyakan apakah ini baik atau buruk. Apa yang mungkin engkau anggap buruk, hasilnya bisa berubah menjadi baik. Ketika engkau menderita karena demam Malaria, dokter akan memberikanmu campuran kina yang sangat pahit. Obat memang terasa pahit, namun dampaknya akan menjadi baik pada dirimu karena obat itu akan menyembuhkan penyakitmu. Pada awalnya, engkau merasa bahwa pengabdian sangat sulit. Namun engkau seharusnya tidak pernah menyerah pada tekadmu karena takut pada kesulitan. Banyak orang-orang yang mulia melewati banyak kesulitan dan melakukan tapa brata yang berat untuk mencapai keilahian. Kesenangan terdapat diantara dua rasa sakit. Tanpa penderitaan, maka tidak akan ada kesenangan. Engkau akan mengalami kebahagiaan yang sejati hanya setelah engkau mengalami kesulitan. Akankah tebu bisa memberikanmu gula hanya dengan memintanya, kecuali engkau menghancurkan tebu tersebut dan mengumpulkan sarinya? Berlian akan mendapatkan nilai yang sejati hanya setelah dipotong berkali-kali. Tanpa adanya pemotongan, maka berlian akan memiliki sedikit nilai. Engkau dapat mempersiapkan perhiasan yang indah hanya ketika engkau menaruh emas dalam api dan membentuknya dengan pukulan palu. Sama halnya, engkau dapat mengalami kebahagiaan Tuhan hanya ketika engkau mengembangkan kasih Tuhan tanpa memperdulikan kritik orang lain dan menanggung semua kesulitan. 


- Divine Discourse, 20 Juni 1996

Manusia yang bijak tidak akan meminta apapun dari Tuhan, namun menyerahkan semuanya pada Tuhan. 

Wednesday, October 22, 2025

Thought for the Day - 22nd October 2025 (Wednesday)



The significance of the three letters in Sai should be understood. "S" stands for Service. "A" stands for Adoration. "I" stands for Illumination. These three represent Karma, Bhakti and Jnana, respectively. Sai teaches these three. All three concepts are equally important. Sai is a combination of the three spiritual paths of Action, Devotion and Wisdom. Just as the Pranava sound is made up of the three letters "A", "U", "M" (OM), Sai stands for the triple forms of spiritual sadhana. In the Sai organisation, this threefold exercise has to be properly understood. Sai sevaks have to develop the love in them, share it with others and fill the whole world with love. True love should be distinguished from attachments of various kinds. That love is a synonym for God. Love is God. Live in love. The love of God comes from the depths of the heart. Sai Sevaks should understand this love and render service in the right spirit to all mankind. 


- Divine Discourse, Nov 18, 1995

The aim of Seva (social service) is the refinement of your own good nature rather than giving succour to others. 


Arti dari tiga huruf dalam Sai harus dipahami dengan benar. "S" berarti pelayanan. "A" berarti pemujaan. "I" berarti penerangan. Ketiga makna tadi masing-masing mewakili Karma, Bhakti dan Jnana. Sai mengajarkan ketiga bagian ini. Semua ketiga konsep ini sama-sama penting. Sai adalah sebuah perpaduan dari tiga jalan spiritual yaitu tindakan, bhakti dan kebijaksanaan. Seperti halnya suara suci Pranava disusun oleh tiga huruf yaitu "A", "U", "M" (OM), Sai mengandung arti tiga wujud dari sadhana spiritual. Dalam organisasi Sai, ketiga bentuk latihan spiritual ini harus dipahami dengan benar. Para sevadhal Sai harus mengembangkan kasih dalam diri mereka, berbagi kasih itu dengan yang lainnya dan mengisi seluruh dunia dengan kasih. Kasih sejati harus dibedakan dari berbagai jenis keterikatan. Bahwa kasih adalah sama dengan Tuhan. Kasih adalah Tuhan. Hiduplah dalam kasih. Kasih Tuhan muncul dari kedalaman hati. Para sevadhal Sai harus memahami kasih ini dan melakukan pelayanan dalam semangat yang benar untuk seluruh umat manusia. 


- Divine Discourse, 18 November 1995

Tujuan dari Seva (pelayanan sosial) bukanlah semata-mata untuk menolong orang lain, melainkan untuk memurnikan dan menyempurnakan sifat baik dalam diri.

Tuesday, October 21, 2025

Thought for the Day - 21st October 2025 (Tuesday)



The cosmic vision can be acquired either by watching the Universe or one’s inner Cosmos. Man has only to discover himself. In the citadel of the body, there is the lotus temple of the heart, with subtle akasha (space) within. In it are contained heaven and earth, fire and air, sun and moon, stars and planets—all that is in the visible world and all that sustains it and all into which it submerges. Instead of rotating around the earth in the higher realms of space and planning to land on the moon or Mars, if only man plans and prepares himself to travel into his inner realm, what sublime joy and peace he can attain! His attainments at present in the vast silence of outer space are all prompted by fear and spread only further fear. The victory won through weapons and guarded by armour is not something to be glad about; it is flimsy and fragile. It is fraught with danger and may topple at the slightest gust. But the victory won through love and sympathy transforms the defeated and makes him a comrade forever. 


- Divine Discourse, Oct 24, 1965

Earthly domain, earthly riches are powerless before the spiritual domain over the senses, spiritual riches of self-knowledge and self-confidence. 


Pandangan Ilahi dapat diraih dengan dua cara yaitu dengan mengamati alam semesta luar atau alam semeta batin. Manusia hanya perlu menemukan dirinya sendiri. Dalam benteng tubuh manusia, ada tempat suci teratai di dalam hati, dengan akasha (ruang) di dalamnya. Di sana terdapat langit dan bumi, api dan udara, matahari dan rembulan, bintang dan planet – segala sesuatu yang ada di dunia yang tampak dan segala sesuatu yang menopangnya dan segala yang menjadi tempat kembalinya. Daripada mengelilingi bumi di luar angkasa dan berencana untuk mendarat di bulan dan Mars, jika saja manusia berencana dan mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjelajahi alam batinnya sendiri, betapa agung suka cita dan kedamaian yang dapat manusia capai! Pencapaian manusia pada saat sekarang di keheningan luas di luar angkasa selama ini muncul dari rasa takut dan hanya menyebarkan ketakutan yang lebih besar. Kemenangan yang dicapai dengan senjata dan dijaga dengan baju perang bukanlah sesuatu yang harus dirayakan; hal ini bersifat lemah dan rapuh. Kemenangan ini penuh dengan bahaya bisa hancur hanya oleh hembusan angin kecil. Namun kemenangan yang dicapai melalui kasih dan simpati mengubah pihak yang kalah dan menjadikannya sahabat untuk selamanya. 


- Divine Discourse, 24 Oktober 1965

Kekuasaan duniawi dan kekayaan materi tidak berdaya dihadapan kekayaan rohani berupa pengendalian atas indra, pengetahuan diri dan kepercayaan diri.

Monday, October 20, 2025

Thought for the Day - 20th October 2025 (Monday)



It may be asked what is the karma that accounts for the advent of Avatars. For Divine incarnations, karma is not the cause. The evil deeds of the wicked and the good deeds and yearning of the righteous are responsible for the advent of Avatars. The Narasimha Avatar (the Divine incarnating as half-man and half-lion) was due to the great devotion of Prahlada and the bad qualities of Hiranyakashipu (Prahlada’s father). The descent of the Divine is in response to the yearnings and actions of people and not because of any karma of the Divine. This may be understood from a simple illustration. Crops grown on the ground look up to the skies for rain. They cannot reach up to the clouds. The clouds come down in the form of rain to provide water to the crops. To cite another example: There is a child on the floor. It wants its mother. It cannot jump up to the mother. The mother has to bend down, take the child and fondle it. In the same manner, to offer relief to devotees, to protect them and foster them, the Divine comes in the human form. This is described as Avatarana (the descent of God as an incarnation). God comes down from His high level to give joy to His devotees. 


- Divine Discourse, Sep 15, 1988

What is My directive? What is it that will please Me? What is it that I desire? Only one thing: Love, Love, Love. That is Sai’s most potent weapon.

 

Mungkin muncul pertanyaan: apakah karma yang membuat turunnya para Avatara? Bagi inkarnasi Tuhan, maka karma bukanlah penyebabnya. Perbuatan-perbuatan jahat dari mereka yang jahat dan perbuatan-perbuatan baik serta kerinduan mendalam dari mereka yang baik adalah penyebab dari kehadiran Avatara. Sebagai contoh kehadiran dari Narasimha Avatar (inkarnasi Tuhan sebagai setengah manusia dan setengah singa) karena disebabkan oleh bhakti yang begitu hebat dari Prahlada dan sifat-sifat buruk dari Hiranyakashipu (ayah dari Prahlada). Kedatangan Tuhan adalah dalam memberikan respon pada kerinduan dan tindakan dari manusia dan bukan karena disebabkan oleh karma apapun dari Tuhan. Hal ini bisa dipahami lebih mudah dengan ilustrasi sederhana. Tanaman yang tumbuh di tanah memandang ke langit untuk mendapatkan hujan. Tanaman ini tidak bisa mencapai awan di atas sana. Namun awan-awan tersebut yang turun dalam bentuk hujan untuk memberikan air bagi tanaman itu. Contoh lainnya adalah ketika ada seorang anak kecil di lantai. Anak kecil tersebut menginginkan ibunya dan tidak bisa langsung melompat ke pelukan ibunya. Maka sang ibu harus membungkuk dan mengangkat anaknya serta memeluknya dengan kasih. Dalam cara yang sama, untuk memberikan pertolongan kepada bhakta, untuk melindungi dan menuntun mereka maka Tuhan hadir dalam wujud manusia. Hal ini dijelaskan sebagai Avatarana (kehadiran Tuhan sebagai inkarnasi). Tuhan turun dari tempat-Nya yang agung untuk memberikan suka cita pada bhakta-Nya. 


- Divine Discourse, 15 September 1988

Apa yang menjadi perintah-Ku? Apa yang dapat menyenangkan-KU? Apa yang Aku inginkan? Hanya satu hal saja: Kasih, Kasih, Kasih. Kasih adalah senjata paling ampuh dari Sai.   

Tuesday, October 14, 2025

Thought for the Day - 14th October 2025 (Tuesday)



Who is Manava (man)? Manava is the one with Manas (mind). What is meant by mind? Mind is just a bundle of thoughts and desires. Man becomes a genuine human being when all thoughts are bound to Truth. Humanness manifests in such a person as good and noble conduct. Today, truthful thoughts are conspicuous by their absence. If we fill our lives with thoughts based on falsehood, the whole world then becomes filled with untruth. Hence, eliminate all bad qualities within you; develop good qualities, and endeavour to experience Divinity – this is true sadhana (spiritual practice). What is the real meaning of sadhana? Transforming the bad into good is sadhana. What is the point in claiming that you are doing sadhana, if this important principle is not observed? In the name of doing sadhana, you close your eyes and roll the rosary beads, but the mind is wandering all over the place! This is not sadhana! We have to expel bad thoughts, bad feelings, and bad tendencies, and replace all these with good thoughts, noble feelings, and sacred habits. Purging out the bad and replacing it with good is what sadhana is all about. 


- Summer Showers, May 27, 2000

Seva is the best sadhana for eliminating the nefarious pull of the mind toward desires. 


Siapakah manusia (manava)? Manava adalah seseorang dengan pikiran (manas). Apa makna dari pikiran? Pikiran hanyalah sekumpulan dari gagasan dan keinginan. Seseorang menjadi manusia yang sesungguhnya ketika semua pemikiran terikat pada kebenaran. Kemanusiaan terwujud pada orang yang seperti itu dalam bentuk tingkah laku yang baik dan mulia. Namun saat ini, pikiran yang dilandasi kebenaran sudah jarang sekali ditemukan. Jika hidup kita dipenuhi dengan pikiran yang bersumber dari ketidakbenaran, maka seluruh dunia pun akan dipenuhi oleh ketidakbenaran. Karena itu, singkirkan semua sifat-sifat buruk di dalam dirimu; kembangkan sifat-sifat baik, dan berusahalah untuk mengalami keilahian – ini adalah latihan spiritual atau sadhana yang sejati. Apa arti sesungguhnya dari sadhana? Mengubah yang buruk menjadi baik adalah sadhana. Apa gunanya mengaku engkau sedang melakukan sadhana, jika prinsip penting ini tidak dijalankan? Banyak orang mengatakan sedang melakukan sadhana, engkau memejamkan matamu dan memutar japa mala, namun pikiran mengembara kemana-mana! Ini bukanlah sadhana! Kita harus menyingkirkan pemikiran buruk, perasaan buruk dan kecendrungan buruk, dan mengganti semuanya itu dengan pemikiran yang baik, perasaan yang luhur, dan kebiasaan yang suci. Membersihkan yang buruk dan menggantinya dengan kebaikan adalah makna sejati dari sadhana. 


- Wacana Musim Panas, 27 Mei 2000

Seva adalah sadhana terbaik dalam melenyapkan tarikan pikiran terhadap keinginan-keinginan.   

Monday, October 13, 2025

Thought for the Day - 13th October 2025 (Monday)



The Scriptures (Shrutis) direct that man must earn just enough for his upkeep by honest means and use the rest of his time and skill for the general good, Dharma-artha. Earn artha (wealth) through Dharma (right conduct). Then, one will certainly have plenty of Divine Grace. Dritarashtra, father of 100 Kauravas who fought against five Pandava cousins, the legitimate claimants to a share of the ancestral patrimony, had neither of these two, though he had abundant riches, superior armies and greater military skill and strategy, had to witness the total extinction of his dynasty and kingdom! Most men like Dritarashtra pursue falsehoods and ignore truth; they amass the trivial and ignore the crucial. They do not realise that death is stalking silently behind them; they do not notice the quick pace of time; they do not know how precious is the chance that the human body, intellect, society, and heritage that it accumulated for him has given him, here and now! They are unaware that the same spark of Divinity that illumines every thought, word, and deed in them is activating every other being too, in the Universe! 


- Divine Discourse, Mar 24, 1973

The wealth earned by trodding upon morality is no more valuable than mud! Such wealth cannot endure or grant happiness.


Naskah suci (shruti) mengarahkan bahwa manusia harus mendapatkan penghasilan secukupnya untuk menghidupi dirinya secara jujur dan menggunakan sisa waktu dan ketrampilannya untuk kebaikan masyarakat luas, inilah makna dari Dharma-artha. Artinya, carilah kekayaan (artha) melalui Dharma (kebajikan). Kemudian, seseorang pastinya akan mendapatkan banyak Rahmat Tuhan. Dritarashtra yang merupakan ayah dari 100 kaurava yang berperang melawan sepupunya sendiri yaitu lima Pandava yang merupakan pewaris sah dari harta leluhur mereka, tidak memiliki kedua nilai ini, meskipun Dristarastha memiliki kekayaan yang melimpah, pasukan militer yang kuat dan kemampuan serta keahlian strategi militer yang lebih hebat, harus menyaksikan kehancuran total dari dinasti dan kerajaannya! Kebanyakan manusia seperti halnya Dritarashtra yang mengikuti ketidakbenaran dan mengabaikan kebenaran; mereka mengumpulkan hal-hal yang sepele dan mengabaikan yang bersifat krusial. Mereka tidak menyadari bahwa kematian sedang mengintai pelan-pelan dibelakang mereka; mereka tidak menyadari laju waktu yang begitu cepat; mereka tidak mengetahui betapa berharganya kesempatan yang diberikan oleh tubuh manusia, kecerdasan, masyarakat dan warisan budaya yang telah diberikan padanya disini dan sekarang! Mereka tidak sadar bahwa percikan Ilahi yang sama yang menerangi setiap pikiran, perkataan dan tindakan dalam diri mereka juga menghidupkan setiap makhluk lain di alam semesta ini! 


- Divine Discourse, 24 Maret 1973

Kekayaan yang dihasilkan dengan menginjak-injak moralitas adalah tidak lebih berharga dari lumpur! Kekayaan seperti itu tidak bisa bertahan lama atau memberikan kebahagiaan.  

Sunday, October 5, 2025

Thought for the Day - 5th October 2025 (Sunday)



Like Vivekananda and Nag Mahasaya (both disciples of Ramakrishna Paramahamsa), people must be urged by the thirst to know the Creator behind Creation, the person behind the puppets. Nag Mahasaya started from the attitude of Dasoham (I am the servant), and he made himself so small by shrinking his individuality that he was able to wriggle out of the shackles of delusion and escape into the Universal Eternal Truth. Vivekananda, on the other hand, started from the attitude of Soham (I am He); he made himself so vast and grand that he broke the shackles and merged with the Supreme Sovereign Truth. When you have earned that Jnana (wisdom) of the identity of your reality with the reality behind the Universe, maya (illusion) cannot affect you. The fly sits on all objects, fair and foul, but it does not sit on fire, for it will be scorched to death.


- Divine Discourse, Oct 04, 1965

You should fill your hearts with love. That is the only way in which you can reach the eternal truth of God


Seperti halnya Swami Vivekananda dan Nag Mahasaya (keduanya murid dari Ramakrishna Paramahamsa), manusia hendaknya digerakkan oleh kerinduan suci untuk mengenal Sang Pencipta di balik ciptaan, sosok sejati di balik boneka kehidupan. Nag Mahasaya menempuh jalan Dasoham (aku adalah hamba-Mu). Dengan penuh kerendahan hati, ia mengecilkan keakuannya hingga lenyap dalam ketulusan pelayanan, ia mampu melepaskan diri dari belenggu maya (ilusi) dan bersatu dengan Kebenaran Abadi yang Universal. Vivekananda, di sisi lain, menapaki jalan Soham (aku adalah Dia). Ia memperluas kesadarannya sedemikian rupa, hingga melampaui batas diri dan menyatu dengan Kebenaran Tertinggi, Sang Kesadaran Agung. Ketika engkau telah memperoleh jnana (kebijaksanaan sejati) bahwa hakikat dirinya adalah satu dengan hakikat semesta, maka maya (ilusi duniawi) tak lagi mampu mempengaruhimu. Lalat boleh hinggap di mana saja, pada yang bersih maupun yang kotor, tetapi ia takkan pernah hinggap di atas api, karena api akan membakarnya. Demikian pula, ketika seseorang telah menyala dalam api kesadaran Ilahi, segala ilusi dunia tidak lagi dapat menyentuhnya.


- Divine Discourse, Oct 04, 1965

Engkau harus memenuhi hatimu dengan cinta-kasih. Hanya melalui jalan itulah engkau dapat mencapai kebenaran abadi dari Tuhan.