Friday, July 6, 2018

Thought for the Day - 5th July 2018 (Thursday)

We are unable to realise God within us because we do not realise the soiled cover in which it is wrapped up. If our clothes get dirty, we change them because we are ashamed to appear in dirty garments. If our house is dirty, we clean it so that visitors may not get a bad impression of us. But when our minds and hearts are polluted, do we feel ashamed? Is it not strange that we should be so much concerned about the cleanness of our clothes or our homes, but are not bothered about the purity of our hearts and minds which affect our entire life? To purify our hearts and minds, the first thing we must do is to lead a righteous life. Our actions must be based on morality. Indulging in abuse of others or inflicting pain on them is not a sign of human nature. The evil that we do to others ultimately recoils on us.

Kita tidak mampu menyadari Tuhan di dalam diri karena kita tidak menyadari pembungkus kotor yang membungkusnya. Jika pakaian kita kotor maka kita menggantinya karena kita akan menjadi malu berpenampilan dengan pakaian kotor. Jika rumah kita kotor maka kita akan membersihkannya sehingga tamu yang datang tidak akan mendapat kesan yang buruk terhadap kita. Namun ketika pikiran dan hati kita tercemar, apakah kita merasa malu? Tidaklah aneh bahwa kita seharusnya lebih banyak perhatian pada kebersihan pakaian dan rumah kita, namun kita menjadi merasa tidak terganggu dengan kesucian dari hati dan pikiran kita yang memberikan pengaruh pada seluruh hidup kita? Untuk menyucikan hati dan pikiran kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menjalani hidup yang baik. Perbuatan kita harus berdasarkan pada moralitas. Terlibat dalam memperlakukan kasar yang lain atau menyebabkan rasa sakit pada mereka bukanlah tanda sifat manusia. Kejahatan yang kita lakukan pada yang lain pada akhirnya adalah kemunduran pada kita. (Divine Discourse, Apr 2, 1984)

-BABA

No comments: