Wednesday, July 24, 2019

Thought for the Day - 20th July 2019 (Saturday)

How can one become 'dear' to God? The Gita emphasises two qualifications: Samtushtah Satatam (ever contented) and Dhruda nischayah (firm resolve). All possess this qualification of Dhruda nischayah; it is an asset that assures survival, and secures popularity and pre-eminence. Those who climb Himalayan peaks derive the tenacious courage from the firmness of their resolve not to turn back. Someone else exhibits heroism in crossing tumultuous oceans alone. Some others resolve on exploring fearful forests. Firmness of resolution, bravery and skill are utilised even for merciless torture of others to rob them of their riches. Ignoring their inner divinity and setting aside humanness, some descend to demonic levels. Valmiki, when he was Ratnakara, used his courage and adventurousness in wicked ways. Contact with the Seven Sages and their teachings made him direct the same qualities towards Rama. He was transformed so completely that he became the author of the Ramayana. We have to conclude that dhruda nischayah can serve good purposes as well as evil. 


Bagaimana seseorang bisa menjadi 'disayang' Tuhan? Gita menekankan dua kualifikasi: Samtushtah Satatam (selalu puas) dan Dhruda nischayah (tekad yang kuat). Semua memiliki kualifikasi Dhruda nischayah ini; itu adalah aset yang menjamin kelangsungan hidup, dan mengamankan popularitas dan keunggulan. Mereka yang mendaki puncak Himalaya mendapatkan keberanian yang gigih dari keteguhan tekad mereka untuk tidak kembali. Orang lain menunjukkan kepahlawanan dalam melintasi lautan yang kacau-balau sendirian. Sebagian lainnya memutuskan untuk menjelajahi hutan yang menakutkan. Keteguhan hati, keberanian, dan keterampilan digunakan bahkan untuk penyiksaan tanpa ampun dari orang lain untuk merampas kekayaan mereka. Mengabaikan keilahian batin mereka dan mengesampingkan kemanusiaan, beberapa orang turun ke tingkat setan. Valmiki, ketika beliau masih sebagai Ratnakara, menggunakan keberanian dan petualangannya dengan cara yang jahat. Ketika berhubungan dengan Tujuh Orang Bijak dan ajaran mereka membuatnya mengarahkan kualitas yang sama terhadap Rama. Beliau ditransformasi sedemikian rupa sehingga beliau menjadi penulis Ramayana. Kita harus menyimpulkan bahwa dhruda nischayah dapat melayani tujuan yang baik maupun jahat.(Divine Discourse, Aug 02, 1986)

-BABA

No comments: