Tuesday, October 27, 2020

Thought for the Day - 22nd October 2020 (Thursday)

During Navaratri there is a form of worship called Anga-arpana Puja (dedicating various limbs and organs to God). In the performance of this Puja, there is a form of self-deception. When a devotee says, "Netram Samarpayami" (I offer my eyes to the Lord) and offers only a flower to the Lord, one is indulging in deception. The proper thing would be to say that one is offering a flower. Mantras like "Netram Samarpayami" are intended to indicate that one is using one’s eyes only to see God. The real significance of the Mantra is that you think of the Divine in whatever you see or do. Therefore, true Anga-arpana Puja is to declare that you offer all your limbs in the service of the Lord. This means that whatever work you do should be done as an offering to God. Navaratri festival should be used as an occasion to examine one's own nature whether it is human, animal or demonic, and strive to transform animal nature to human, and finally divinize human nature. 



Selama Navaratri ada sebuah bentuk pemujaan yang disebut dengan Anga-arpana Puja (mempersembahkan berbagai jenis organ dan anggota badan kepada Tuhan). Dalam melaksanakan puja ini, ada sebuah bentuk penipuan diri sendiri. Ketika seorang bhakta berkata, "Netram Samarpayami" (hamba mempersembahkan mata kepada Tuhan) namun hanya mempersembahkan bunga kepada Tuhan, seseorang sedang terlibat dalam penipuan. Hal yang tepat dikatakan adalah seseorang mempersembahkan bunga. Mantra seperti "Netram Samarpayami" adalah ditujukan untuk mengindikasikan bahwa seseorang sedang menggunakan matanya hanya untuk melihat Tuhan. Makna yang sesungguhnya dari Mantra adalah bahwa engkau memikirkan Tuhan apapun yang engkau lihat dan kerjakan. Maka dari itu, makna yang benar dari Anga-arpana Puja adalah untuk menyampaikan bahwa engkau mempersembahkan semua anggota tubuhmu dalam pelayanan kepada Tuhan. Ini berarti bahwa apapun pekerjaan yang engkau lakukan adalah sebuah persembahan kepada Tuhan. Perayaan Navaratri seharusnya digunakan sebagai keadaan untuk memeriksa sifat asli seseorang apakah sifat manusia, binatang atau raksasa, dan berusaha merubah sifat binatang menjadi manusia dan pada akhirnya merubah sifat manusia menjadi sifat Dewata. (Divine Discourse, Oct 06, 1992)

-BABA

 

No comments: