Tuesday, October 6, 2020

Thought for the Day - 30th September 2020 (Wednesday)

To be happy, one of two things must happen: All your desires must be fulfilled or you should not have any desire. Of these, the reduction of desire is the easier path. Take the troubles that come to you as tests and opportunities to learn non-attachment. The hot summer sends you to air-conditioning. Grief sends you to God. When a child dies, ask yourself the question, “Is it for my sake that the child was born?” The child had their own destiny to fulfil, their own history to work out. Gauthama Buddha’s father was so overcome with grief when he saw his son with a begging bowl in the street that he told him thus: “Every one of my ancestors was a king: what misfortune is this that a beggar was born in this line?” Buddha replied, “Every one of my ancestors had a beggar’s bowl; I know of no king in my line.” The father and the son walked different paths, traveled along divergent routes. 




Untuk menjadi bahagia, satu dari dua hal harus terjadi: semua keinginanmu harus terpenuhi atau engkau seharusnya tidak memiliki keinginan apapun. Dari kedua hal ini, mengurangi keinginan adalah jalan yang lebih mudah. Terimalah masalah yang datang padamu sebagai ujian dan kesempatan untuk belajar tanpa keterikatan. Musim panas yang terik membuatmu mencari pendingin udara. Duka cita membuatmu mencari Tuhan. Ketika seorang anak meninggal, tanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan, “apakah untuk kepentinganku anak itu lahir?” anak memiliki takdirnya sendiri untuk dipenuhi, sejarahnya sendiri yang harus diselesaikan. Ayah dari Gauthama Buddha begitu sangat sedih sekali ketika beliau melihat putranya memegang mangkuk mengemis di jalanan  sehingga beliau mengatakan kepada Gautama Buddha: “Setiap orang dari leluhurku adalah seorang raja: malapetaka apakah ini dimana seorang pengemis lahir dalam garis keturunan ini?” Buddha menjawab, “Setiap orang leluhurku memiliki mangkuk mengemis; saya mengetahui tidak ada raja dalam garis hidup saya.” Ayah dan putranya berjalan di jalan yang berbeda, menempuh rute yang berbeda. (Divine Discourse, Nov 26, 1962)

-BABA


No comments: